PENANAMAN BENIH SAYURAN BERSAMA SISWA-SISWI SDN 03 JATIWANGI, PAGERBARANG, TEGAL.

Selasa (23/7) – Mahasiswa KKN Tim II Universitas Diponegoro 2019 melakukan pendampingan kepada siswa dan siswi kelas empat dan kelas lima SDN 03 Jatiwangi dalam penanaman benih sayuran. Kegiatan dilakukan di dalam ruangan kelas empat dan kelas lima SDN 03 Jatiwangi. Siswa dan siswi sebelumnya telah diminta untuk membawa botol plastik bekas pakai, tanah, dan pupuk sebagai peralatan yang dibutuhkan untuk menanam benih.

Kegiatan yang dimaksudkan untuk memanfaatkan sampah botol plastik dan memberikan pengetahuan kepada siswa dan siswi tentang penanaman benih ini dilaksanakan saat jam pelajaran berlangsung. Setelah mendapat perizinan dari pihak SD, mahasiswa KKN Tim II Universitas Diponegoro langsung memberikan pendampingan untuk menanam benih sayuran. Pendampingan dilakukan oleh enam mahasiswa. Siswa-siswi SDN 03 Jatiwangi diajarkan proses penanaman benih sayuran dari mulai membuat tempat menanam benih sampai bagaimana cara menebarkan benih sayuran secara rata.

Siswa-siswi melakukan kegiatan penanaman benih sayuran dengan sangat antusias. Penanaman benih berlangsung selama kurang lebih dua jam. Setelah melakukan penanaman benih di dalam botol plastik, siswa dan siswi dibina oleh mahasiswa KKN Tim II Universitas Diponegoro untuk meletakkan botol plastik yang sudah ditanamkan benih di taman sekolah. Sebelum ditinggalkan dibawah sinar matahari, siswa dan siswi diinstruksikan untuk menyiram benih yang sudah ditanam minimal dua kali sehari pada padi dan sore hari supaya benih dapat tumbuh sebagai tanaman dengan baik dan sempurna.

 

Editor

drh. Siti Susanti, Ph.D

Penyuluhan Tentang Tanaman Purwaceng Kepada Kelompok Tani Desa Sikunang Oleh Tim II KKN Tematik Undip 2019

Wonosobo, Selasa (20/08/19)

Desa Sikunang, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo merupakan daerah strategis yang cocok untuk menanam tanaman purwaceng. Tanaman ini dikenal sebagai ginseng jawa dan memiliki berbagai manfaat untuk tubuh, seperti antianalgesik (pereda nyeri), antibiotic, antipiretik (penurun demam), dan lain-lain. Potensi tanaman purwaceng untuk dikembangkan sangatlah tinggi namun pengetahuan warga yang kurang tentang tata cara budidaya purwaceng membuat populasi tanaman ini menjadi berkurang.

Untuk itu mahasiswa UNDIP yang tergabung dalam Tim II KKN Tematik Undip 2019 melakukan penyuluhan tentang tanaman purwaceng kepada kelompok tani Desa Sikunang. Penyuluhan tersebut meliputi tata cara budidaya purwaceng, pengolahan tanah untuk purwaceng, sampai bagaimana pemasarannya nanti. Hal ini dilakukan untuk menambah pengetahuan dan minat warga untuk kembali menanam tanaman purwaceng mengingat pada awal tahun 2000an masih banyak lahan purwaceng di Desa Sikunang.

Dari sosialisasi tersebut dapat terlihat bahwa warga desa sangat tertarik untuk menanam tanaman purwaceng. Hal itu dapat dilihat dari antusiasme warga pada saat sesi tanya jawab. Selain karena banyaknya manfaat dari tanaman purwaceng, harga jualnya yang tinggi yaitu sektar Rp70.000 per kg membuat minat warga terhadap tanaman purwaceng pun meningkat.

 

Aneka Produk Olahan Purwaceng Hasil Inovasi Mahasiswa KKN Tematik Tim II undip 2019

Wonosobo, Minggu (18/08/19)http://bit.ly/2mzJiMZ

Tanaman purwaceng merupakan tanaman herbal yang memiliki potensi tinggi untuk dikembangkan, terutama Karena kandungan gizinya yang banyak dan harga jualnya yang tinggi.  Tanaman ini hanya dapat tumbuh di beberapa tempat saja, salah satunya di Desa Sikunang, Kecamatan kejajar, wonosobo. Purwaceng dikenal karena manfaatnya untuk menambah stamina pria, bahkan hingga mendapat julukan sebagai ‘Viagra Jawa’. Selain itu, tanaman ini memiliki manfaat lain untuk tubuh seperti melancarkan peredaran darah, pereda nyeri dan demam, serta dapat mencegah kanker dan tumor.

Sayangnya olahan tanaman purwaceng yang sudah ada masih terbatas pada olahan serbuk seperti olahan serbuk murni purwaceng, teh purwaceng, dan kopi purwaceng. Olahan-olahan seperti itu hanya mampu menarik kalangan tertentu saja, seperti kalangan dewasa.

Untuk memperluas cakupan konsumen dari produk olahan purwaceng, Tim II KKN Tematik Undip 2019 melakukan diversifikasi produk dengan menciptakan beberapa inovasi olahan tanaman purwaceng. Olahan tersebut berupa Coklat purwaceng, jelly purwaceng, permen purwaceng, dan minyak urut purwaceng. Pembuatan produk-produk ini dibuat di rumah produksi milik Ibu Uswatun, salah satu perintis usaha olahan purwaceng di Desa Sikunang. Produk-produk tersebut kemudian disosialisasikan ke warga dan mendapatkan respon yang positif.2mzJiMZ

KUNJUNGAN TIM II KKN TEMATIK UNDIP KE KANTOR DESA SIKUNANG

Wonosobo, Senin (29/07/19)

Hari pertama tim II KKN Tematik UNDIP 2019 di Desa Sikunang Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo diisi dengan melakukan kunjungan ke Kantor Balai Desa. Kunjungan ini diterima langsung oleh Kepala Desa Sikunang, Bapak Nur Amin dan dilakukan perkenalan dengan perangkat desa. Dari kunjungan ini diperoleh banyak informasi mengenai kondisi terkini dari Desa Sikunang, baik potensi desa, kegiatan desa, kendala pengembangan desa, dan lain sebagainya.

Menurut Pak Amin selaku kepala desa, mayoritas penduduk Desa Sikunang bekerja sebagai buruh tani dengan komoditas utama tanaman kentang. Untuk masalah terbesar di Desa Sikunang adalah sampah. Hal ini dikarenakan kurangnya kesadaran warga tentang sampah dan tidak adanya tempat pembuangan akhir sampah di desa tersebut. Salah satu gerakan mengurangi sampah di desa ini dilakukan dengan pembentukan KPSM (Kelompok Pengelola Sampah Mandiri) yang baru dibentuk sekitar satu bulan lalu, namun kegiatan KPSM masih terbatas pada sampah botol plastik dan belum mampu mengelola sampah jenis lain.

Di Desa Sikunang sudah terdapat PKD (Poliklinik Kesehatan Desa) yang didampingi satu bidan desa. Untuk masalah pendidikan , hanya terdapat bangunan SD di Desa Sikunang dan masih banyak penduduk desa yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya.

Bapak Zainal selaku KAUR (Kepala Urusan) Pembangunan mengatakan bahwa salah satu potensi dari Desa Sikunang adalah tanaman purwaceng. Namun, dalam beberapa tahun terakhir petani mulai enggan menanam tanaman purwaceng karena ketidakjelasan pasar untuk purwaceng. Salah satu usaha untuk meningkatkan minat warga untuk kembali menanam purwaceng yang telah dilakukan adalah pemberian bibit tanaman purwaceng oleh dinas pertanian Kabupaten Wonosobo, namun tidak ada follow up dari kegiatan tersebut.

PENYULUHAN PRODUK HASIL OLAHAN JAMBU BIJI GETAS MERAH, STRATEGI PEMASARAN, DAN PERIZINAN USAHA

Dokumentasi : http://bit.ly/DokumentasiPenyuluhanKKNDesaTlogowungu

Kaloran – Senin (19/08) lalu, mahasiswa KKN PPM Tematik Tim II Desa Tlogowungu melakukan penyuluhan mengenai produk hasil olahan jambu biji getas merah, strategi pemasaran, dan perizinan usaha yang bertempat di Pendopo Kantor Kecamatan Kaloran. Sasaran dalam penyuluhan ini adalah perangkat desa, pelaku usaha, dan masyarakat yang berasal dari 7 (tujuh) desa di Kecamatan Kaloran yakni Desa Tleter, Desa Getas, Desa Gandon, Desa Tlogowungu, Desa Kalimanggis, Desa Kwarakan, serta Desa Geblog.

Mahasiswa Berinovasi              

Dalam penyuluhan tersebut mahasiswa menjelaskan kepada audiens mengenai berbagai macam olahan produk jambu biji getas merah menjadi produk yang bernilai jual tinggi serta jarang dijumpai sebelumnya. Diantaranya, kerupuk jambu, selai jambu, sirup jambu, cendol jambu, es kopi jambu, sabun jambu, manisan jambu, pestisida nabati, brownis kukus jambu, teh herbal daun jambu, dan toner jambu. Ide kreatif mengolah jambu biji getas merah menjadi berbagai macam produk pangan dan produk kecantikan muncul di karenakan masyarakat selama ini hanya menjual jambu dalam bentuk mentahan, dalam artian tidak di olah menjadi produk lain yang lebih bernilai secara ekonomis. Maka bila panen jambu telah tiba petani cenderung merugi karena harga jambu dapat mencapai Rp. 500/Kg tidak sebanding dengan biaya perawatan dan pengairan yang selama ini dikeluarkan.

Niat mahasiswa ini disambut baik oleh masyarakat dan audiens yang hadir saat penyuluhan, terbukti dengan banyaknya pertanyaan yang dilontarkan mengenai bagaimana cara pengolahan jambu biji getas merah menjadi produk yang bermanfaat di masyarakat serta laku dijual di pasaran. Sejumlah audiens memberikan pernyataan bahwa “benar, selama ini banyak keterbatasan dalam mengolah jambu biji getas merah, saat panen tiba kami hanya bisa menjual jambu dalam keadaan mentah (tanpa diolah terlebih dahulu), adanya penyuluhan ini membuka pikiran kami bahwa ternyata jambu biji getas merah bisa diolah menjadi berbagai macam produk yang bernilai jual, sehat, dan memiliki banyak manfaat serta kandungan bagi tubuh.”

Tidak hanya penyuluhan saja, sejumlah mahasiswa juga membawa produk yang telah dibuat di posko untuk di coba audiens yang saat itu hadir dalam penyuluhan lengkap dengan label dan packaging nya. Selain itu, juga ada yang membuka stand produk olahan dari jambu biji getas merah yakni es kopi jambu dan teh herbal daun jambu yang langsung dibuat saat itu juga ketika ada yang ingin mencoba, istilahnya produk yang disajikan masih fresh karena dibuat secara langsung sesuai permintaan.

Perlunya Strategi Pemasaran Yang Menarik              

Disampaikan pula bagaimana strategi pemasaran yang tepat untuk produk hasil olahan jambu biji getas merah. Sebelum sampai di situ, ada mahasiswa yang memberikan penyuluhan mengenai bagaimana tata cara foto produk yang benar supaya lebih menarik dan sesuai dengan standar penjualan melalui media online dengan instrument studio foto produk yang dibuat dengan menggunakan kardus dan karton, sangat simpel, murah, dan siapa saja dapat membuatnya. Saat penyuluhan tersebut berlangsung, masyarakat juga mengeluhkan sulitnya memasarkan produk yang selama ini sudah di produksi, hingga akhirnya mereka bertanya mengenai “Strategi pemasaran seperti apa yang bisa di lakukan supaya produk bisa dikenal dan laku di pasaran.”

Media online masih menjadi salah satu solusi paling efektif, karena di era globalisasi ini lebih banyak masyarakat yang tertarik untuk belanja online dengan alasan belanja online lebih praktis, tidak perlu membuang waktu untuk datang ke tempat, bisa di akses dimana saja dan kapan saja, serta banyak potongan harga yang ditawarkan. Maka dari itu, penyuluhan mengenai pembuatan Google My Bussiness, Instagram Bisnis, dan Facebook Page juga dilakukan sebagai media pemasaran produk olahan jambu biji getas merah kedepannya. Minimnya pengetahuan masyarakat di Kaloran mengenai media online sebagai media pemasaran yang menarik, maka mahasiswa KKN akan memberikan pendampingan secara efektif dan berkala melalui Whatsapp Group.

Perizinan dan Rekomendasi Produk

Kepercayaan masyarakat mengenai kualitas produk masih menjadi suatu hal yang sangat penting, dari situ maka diperlukan perizinan produk sebelum di pasarkan. Saat ini mengurus perizinan sudah dipermudah, dimana pengusaha bisa langsung datang ke Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, lalu mempersiapkan persyaratan yang ditetapkan, kemudian langsung bisa mendaftar izin usaha melalui sistem terpadu satu pintu yang disebut Single Sign On (SSO) melalui e-mail yang dibuat oleh pengusaha itu sendiri. Tidak perlu khawatir, industri kecil dengan omzet di bawah Rp.50.000.000 bisa mendaftarkan produk usahanya seperti halnya usaha besar atau pabrik. Saat semua syarat telah terpenuhi, pusat akan menyeleksi dan nantinya produk akan mendapat nomor P-IRT, pelaku usaha nya pun akan diberikan keterampilan untuk menghasilkan produk yang berstandar guna di pasarkan.

Tak berhenti sampai disitu, mahasiswa KKN PPM Tematik Tim II Jambu Merah juga memberikan rekomendasi kepada perangkat desa agar produk olahan jambu biji getas merah ini dapat menjadi produk unggulan dari BUMDESA. Setiap desa di tuntut untuk dapat menggali potensi yang dimiliki oleh desa tersebut, maka dari itu guna mewujudkan desa pintar atau smart village salah satunya harus memiliki pengelolaan BUMDESA yang baik dan produk unggulan yang menonjol dari desa tersebut.

Harapan kedepannya, semoga program KKN Tematik Tim II Jambu Merah ini dapat menjadi tumpuan masyarakat untuk mengembangkan produk olahan jambu biji getas merah yang mampu meningkatkan lapangan pekerjaan dan juga mendatangkan kesejahteraan masyarakatnya karena mampu menciptakan industri yang mandiri.

KEGIATAN POSYANDU DESA LEMAHPUTIH

Rabu (10/07/19), telah berlangsung kegiatan posyandu di Posyandu Mugi Rahayu, Rumah Pak Paryono, Dusun Lemahputih, Desa Lemahputih. Kegiatan dilakukan pukul 09.00 – 11.30. Agenda posyandu ini merupakan salah satu agenda wajib Desa Lemahputih yang diadakan setiap bulan dan dilakukan secara bergilir tiap dusun. Minggu pertama di Dusun Mlakas, minggu kedua di Dusun Lemahputih, minggu ketiga di Dusun Ngasihan, dan minggu keempat di Dusun Kepuh Rubuh. Kegiatan dimulai dari pendataan nama anak dan orang tua, dilanjutkan dengan penimbangan berat dan tinggi badan, pengukuran lingkar kepala bayi dan balita, dan pendataan pertumbuhan anak yang dicatat dalam buku Kesehatan Ibu-Anak. Buku tersebut wajib dibawa setiap datang di Posyandu dengan tujuan untuk melihat perkembangan bayi dan balita setiap bulannya. Anggota tim II KKN Universitas Diponegoro Desa Lemahputih (Taufan, Yumnia, Dwiana, dan Anggita) turut membantu pencatatan dan penimbangan di Posyandu. Berdasarkan pada data keseluruhan tahun sebelumnya, didapatkan hasil informasi kesehatan di Desa Lemahputih berupa stunting, hipertensi, dan rendahnya kesadaran Ibu akan ASI eksklusif. Kemudian, Tim II KKN Universitas Diponegoro mendapat masukan mengenai topik penyuluhan serta melalui kunjungan sekaligus survey posyandu di dusun Lemahputih, Tim II KKN Universitas Diponedoro juga mendapatkan informasi mengenai fasilitas Posyandu yang kurang memadai untuk mendukung kegiatan. Permasalahan ini menjadi dasar untuk merancang program monodisiplin yang akan dilaksanakan oleh tim KKN.

Pendataan nama anak dan nama orang tua
Pendataan nama anak dan nama orang tua
Penimbangan berat badan bayi
Penimbangan berat badan bayi

Ditulis oleh : Maria Wike Wijaya, Novia Nur Huda

Desa Lemahputih

14 Juli 2019

Edukasi Pengolahan Hasil Laut, Deteksi Boraks, dan Pemanfaatan Komoditas Lokal di Desa Lemahputih

Sabtu (20/07/19) telah dilaksanakan program monodisiplin Pembuatan Bakso Rumput Laut yang dibawakan oleh Lailatul Atiqoh, mahasiswi dari Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan di kediaman Pak Darman (Ketua RT 7), Dusun Lemahputih, Desa Lemahputih. Program dilaksanakan dengan pemaparan materi berupa latar belakang, cara pembuatan, dan  pemutaran video cara mendapatkan dana dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam rangka mendorong minat para Ibu PKK untuk membuat produk berbasis hasil kelautan dan perikanan. Salah satu produk basis kelautan dan perikanan adalah pemanfaatan rumput laut menjadi bahan pembuatan bakso, sehingga tekstur bakso menjadi lebih crunchy seperti bakso urat. Selain itu, penambahan rumput laut dapat meningkatkan nilai serat pangan dalam bakso, yang bermanfaat untuk melancarkan pencernaan dalam tubuh. Cara membuatnya adalah dengan rumput laut yang telah direndam selama kurang lebih 12 jam dicincang agak halus, dicampurkan pada adonan bakso, dan bakso direbus hingga matang. Para Ibu PKK cukup antusias dengan program ini karena bakso merupakan makanan yang digemari semua kalangan dan penambahan rumput laut dapat memperbaiki tekstur dan nilai gizi.

Pemaparan cara mendapatkan dana dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk membuat produk berbasis hasil kelautan dan perikanan.
Pemaparan cara mendapatkan dana dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk membuat produk berbasis hasil kelautan dan perikanan oleh saudari Lailatul Atiqoh.

 

Telah dilaksanakan pula pogram monodisiplin Deteksi Boraks dan Tempe Kahi (Kacang Hijau) yang dibawakan oleh Maria Wike Wijaya, mahasiswi dari Teknologi Pangan, Fakultas Peternakan dan Pertanian. Program Deteksi Boraks dilaksanakan dengan melakukan demonstrasi pengujian bakso positif boraks dan negatif boraks menggunakan tusuk gigi yang telah ditusukkan sebelumnya pada kunyit segar. Hasilnya, bakso positif boraks akan merubah warna kuning kunyit menjadi kuning kemerahan, sedangkan bakso negatif boraks tidak akan merubah warna yang sudah ada (tetap berwarna kuning). Deteksi boraks dengan metode indikator kunyit ini tidak hanya dapat dilakukan pada produk bakso, namun juga pada produk daging lainnya seperti sosis. Para Ibu PKK cukup antusias dengan program ini karena boraks membahayakan kesehatan sehingga penting untuk dideteksi keberadaannya dengan bahan yang mudah ditemukan di dapur.

Pemaparan perbedaan hasil makanan yang diberi boraks dan tidak diberi boraks.
Pemaparan perbedaan hasil makanan yang diberi boraks dan tidak diberi boraks oleh saudari Maria Wike Wijaya.

Program selanjutnya adalah Tempe Kahi yang dilaksanakan dengan pemaparan materi berupa latar belakang, cara pembuatan, dan pemberian contoh tempe yang sudah jadi. Inovasi Tempe Kahi didasari empat tujuan: (1) Memanfaatkan kacang hijau yang merupakan komoditas yang dibudidayakan di Desa Lemahputih; (2) Menurunkan penggunaan kedelai yang umumnya diimpor; (3) Mendapatkan nilai gizi lebih baik karena kacang hijau rendah lemak dan tinggi karbohidrat; (4) Meningkatkan nilai jual dengan diversifikasi pangan. Cara membuatnya adalah kacang hijau direndam kurang lebih 12 jam, kulit arinya dikelupas, dikukus selama 20 menit, dicampur dengan ragi tempe (Rhizopus oligosporus), dikemas, dan diperam selama 2 hari. Hasilnya, tempe kahi memiliki kenampakan fisik yang mirip dengan tempe dari kedelai. Para Ibu PKK cukup antusias dengan program ini karena tempe kahi merupakan produk yang jarang dibuat dan belum ada di pasaran.

Ditulis oleh : Maria Wike Wijaya, Novia Nur Huda

21 Juli 2019

 

UPAYA MENJAGA KESEHATAN DARI SEJAK DINI DI DUSUN BONGANGIN, DESA TEMON : TEKA-TEKI SILANG SEBAGAI MEDIA BERMAIN DAN BELAJAR MENGENAI KESEHATAN GIGI DAN MULUT PADA ANAK SD SERTA 6 LANGKAH CUCI TANGAN YANG BAIK DAN BENAR

Desa Temon

GROBOGAN, 26 Juli 2019 – Minggu ketiga TIM II KKN UNDIP 2019 Desa Temon melakukan edukasi mengenai kesehatan gigi dan mulut oleh Muhammad Rizka Hidayat yang dilakukan di SD Negeri 3 Bogangin, Desa Temon dengan peserta para siswa kelas V yang berjumlah 37 siswa. Edukasi mengenai kesehatan gigi dan mulut ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan pengetahuan tentang pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut serta tatacara yang baik dan benar dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut. Hal yang mendasari dari adanya kegiatan ini dikarenakan masih banyak dari siswa SD yang tidak menggosok gigi secara rutin sehingga kebanyakan dari mereka sing mengalami sakit gigi. Warga Dusun Bongangin, Desa Temon dalam hal menjaga kebersihan di kehidupan sehari-hari masih dibilang kurang dan kondisi lingkungan di Dusun Bogangin yang masih terdapat tempat-tempat yang kumuh sehingga perlu adanya sosialisasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan khususnya kesehatan gigi dan mulut bagi anak-anak agar mereka dapat terhindar dari banyak macam penyakit yang dapat menyerang. Edukasi mengenai kesehatan gigi dan mulut yang dilakukan di SD Negeri 3 Bogangin menggunakan media berupa teka-teki silang dikarenakan media teka-teki silang lebih familiar dan banyak disenangi oleh anak-anak SD. Kegiatan edukasi  ini juga dilakukan kuis di sesi terakhir untuk menambah semangat dan untuk mengetahui seberapa besar mereka dapat memahami ilmu yang telah diberikan oleh TIM KKN UNDIP 2019 Desa Temon. Antuasias para siswa dalam mengikuti kegiatan tersebut sangatlah tinggi, terbukti dari banyaknya siswa yang ingin mendapat kesempatan untuk menjawab kuis yang diberikan.

Kesehatan gigi dan mulut

Setelah dilakukan edukasi mengenai kesehatan gigi dan mulut, TIM II KKN UNDIP 2019 Desa Temon melakukan edukasi dan pelatihan mengenai 6 langkah cuci tangan yang baik dan benar di SD Negeri 3 Bogangin. Edukasi dan pelatihan mengenai 6 langkah cuci tangan yang baik dan benar dilakukan pada siswa kelas V yang berjumlah sekitar 37 siswa. Tujuan dari kegiatan ini yaitu untuk memberikan pengetahuan terhadap para siswa mengenai cuci tangan yang benar dengan harapan nantinya para siswa dapat menerapkannya di kehidupan sehari-hari. Masyarakat Desa Temon khususnya Dusun Bogangin termasuk kurang peduli terhadap kebersihan tangan, mereka terbiasa tidak cuci tangan setelah melakukan suatu aktivitas terutama anak-anak, hal tersebutlah yang melatarbelakangi adanya kegiatan edukasi mengenai cuci tangan yang baik dan benar. Kebersihan tangan yang tidak dijaga dapat berdampak buruk bagi kesehatan seperti timbulnya sakit diare, hepatitis A, keracunan makanan, dan mudah terserang flu yang disebabkan oleh kuman yang banyak menempel ditangan setelah melakukan aktivitas. Acara dimulai dengan menonton video mengenai cara cuci tangan yang baik dan benar, kemudian dilakukan praktek bersama, dan pada sesi terakhir dilakukan kuis. Para siswa sangat berantusias dalam mendapatkan kesempatan untuk bisa mempraktekan tatacara cuci tangan yang benar di depan kelas.

                                     hh             Desa Temon Kesehatan gigi dan mulut

Kegiatan edukasi mengenai kesehatan gigi dan mulut serta 6 langkah cuci tangan yang baik dan benar ditutup dengan pembagian susu dan stiker mengenai himbauan untuk menggosok gigi bagi para siswa serta sesi foto bersama.

Program Monodisiplin TIM II KKN UNDIP minggu ketiga Desa Karangsari

Karangsari (2019) pada minggu ke III kegiatan TIM II KKN UNDIP diisi dengan pelaksanaan kegiatan Program Monodisiplin dilaksanakan oleh Xena Caterine Siahaan (21) pada hari Senin tanggal 21 Juli 2019 yang bertema “Pendampingan penerapan berpakaian dan tata letak kandang yang sesuai dengan SOP dalam berternak”.  Pada program ini bertujuan untuk mengajarkan dan melatih para pekerja agar belajar disiplin dan taat sesuai dengan ketentuan atau standar yang ada dalam berternak. Agar peternak dapat melakukan kegiatan selanjutnya dengan baik dan sesuai standar, maka Xena memberi wear pack, sepatu boots, dan masker. Pendampingan dalam beternak ini dilakukan dengan cara door to door mengunjungi satu per satu rumah peternak. Kemudian program mono selanjutnya bertema “Pendampingan dan pemberian edukasi kepada peternak mengenai pentingnya sanitasi”, yang juga dilakukan oleh Xena pada hari dan tanggal yang sama. Bertujuan untuk menambah pengetahuan peternak tentang pentingnya sanitasi pada area perkandangan. Edukasi pengetahuan ini juga dilakukan bersama secara door to door datang ke rumah peternak hewan.

Program mono selanjutnya juga dilakukan oleh anggota TIM II KKN UNDIP yaitu Alldo Haswandana Putra (21) bertema “Implementasi dan penyuluhan pentingnya APD pada pekerja UMKM pembuatan batu bata” yang dilakukan pada hari Selasa tanggal 22 Juli 2019 bertujuan untuk memberi pengetahuan kepada pekerja betapa pentingnya APD (Alat Pelindung Diri) disaat proses pembuatan batu bata berlangsung. Dilakukan dengan memberi alat caping, sarung tangan dan masker untuk pelindung diri. Penyuluhan ini dilaksanakan dengan cara anjangsana langsung ke tempat produksi batu bata yang ada di desa karangsari. Program mono kedua yang dilaksanakan Alldo pada hari Jumat tanggal 26 Juli 2019 bertema “Pencerdasan dan penyuluhan tentang 5R di UMKM makanan ringan” yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan tentang 5R yaitu Resik, Rapi, Ringkas, Rajin, Rawat yang jika diterapkan dengan sesuai dapat membuat produksi terlaksana lebih baik. Program ini memberikan poster dan ditempel ke tempat produksi agar selalu mengingat tentang 5R. Penyuluhan ini dilakukan dengan cara door to door ke tempat UMKM makanan ringan.

Anggota lain dari TIM II KKN UNDIP yang menjalankan program mono pada minggu ketiga yang lain adalah Anindhiati Restu Wardhani (21) yang bertema “Pengenalan E-commerce, khususnya jual beli online kepada UMKM”, yang dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 26 Juli 2019 dengan berkunjung secara door to door ke UMKM yang ada di Desa Karangsari, yang bertujuan untuk memberikan solusi kepada masyarakat sebagai peningkatan perekonomian, dan memperluas pemasaran produk. Pengenalan ini dilakukan dengan cara membuat akun baru kepada UMKM makanan ringan ke salah satu ecommerce dan mengupload produk yang dijual ke akun yang telah tersedia. Program monodisiplin dari Anin selanjutnya yaitu “Pelatihan pembukuan laporan keuangan sederhana untuk UMKM dengan aplikasi Android”, yang bertujuan untuk mempermudah kelompok UMKM menghitung pengeluaran selama berjalannya produksi.  Pelatihan ini dilakukan secara bersamaan dengan program sebelumnya. Saat berkunjung, Anin melakukan pelatihan kepada salah satu anggota UMKM dengan cara menggunakan smartphone android dan melakukan langkah-langkah yang telah dibuat sebelumnya.Penyerahan Peralatan SOP Peternakan Pengenalan dan Pendaftaran ke E-commerce Melakukan pelatihan Pembukuan dengan Android Memberikan poster 5R

KEGIATAN MONODISIPLIN OLEH KELOMPOK KKN UNDIP TIM II TAHUN 2019 DESA KARANGSARI

(more…)