Home » Articles posted by kteguhm

Author Archives: kteguhm

Materi pembekalan KKN Tim 2 2017/2018

Sabtu 12 Mei 2018
1 07.00 – 08.00 Registrasi
2 08.00 – 09.30 Pengorganisasian KKN 
3 09.30 – 09.45 Istirahat Panitia
4 09.45 – 10.30 Konsep Pelaksanan dan Tatatertib KKN
5 10.30 – 11.15 Jenis Program dan Pelaporan 
6 11.15 – 12.00 Teknik Survey
7 12.00 – 12.45 Istirahat
8 12.45 – 13.30 Reportase dan Pembuatan Video
9 13.30 – 14.00 Soft Skill 

Minggu, 13 Mei 2018
1 07.00 – 08.00 Registrasi
2 08.00 – 09.30 Bimbingan Dosen KKN tentang Rencana Survey
3 09.30 – 09.45 Bimbingan Penyusunan LRK dan LPK
4 09.45 – 11.00 Pengenalan Wilayah (Kecamatan dan Kabupaten) (Untuk Pembekalan Camat atau Bapeda waktu bisa berubah)
6 11.00 – 12.00 Simulasi Penyusunan LRK
7 12.00 – 12.45 Post test Dosen KKN
8 12.45 – 13.30 Evaluasi (Nilai di Input lewat Excel setelah itu dikirim ke koordinator masing-masing Kabupaten)

Pengenalan Tentang Indonesia Sebagai Negara Maritim Melalui Pemaparan Jenis-Jenis Kapal sebagai Alat Transportasi Laut pada Siswa SD

9 Agustus 2017

Mahasiswa UNDIP berkunjung ke SD Negeri 1 Kalangsono dalam rangka melakukan kegitan edukasi mengenai jenis trasportasi laut. Kegiatan ini dilakukan di kelas 1 dan melibatkan para siswa-siswi di kelas tersebut.

265

(Suasana pengenalan jenis jenis kapal)

Acara dimulai dengan memberikan pendidikan mengenai jenis alat transportasi laut melalui video-video pengenalan yang mencakup materi mengenai alat trasportasi laut dan membahas mengenai jenis -jenis pekerjaan yang mengoperasikan alat transportasi tersebut.

Editor : Kurniawan Teguh Martono., S.T., M.T

Pendampingan Ibu Rumah Tangga dalam Pengolahan Teh Daun Kelor Guna Menurunkan Risiko Hipertensi

Gunungagung, Bumijawa, Tegal-Tanaman daun kelor merupakan tanaman bunga hias berupa perdu berbatang tegak yang hidup menahun. Kegunaan tanaman daun kelor selain sebagai tanaman hias juga banyak digunakan sebagai bahan baku dalam berbagai macam industri di Indonesia. Sebagian besar warga Desa Losari mempunyai perkebunan melati dan sebagian juga bekerja sebagai petani melati. Namun hasil bunga melati dari perkebunan melati di Desa Gunungagung kurang dimanfaatkan secara optimal, karena petani daun kelor tersebut hanya menjual melati kepada satu pengepul dengan harga yang tidak menentu setiap kilonya. Padahal, daun kelor mempunyai potensi untuk diolah menjadi the yang mempunyai nilai jual tinggi. Sehingga, mahasiswa Undip memberikan pelatihan kepada petani daun kelor untuk pengolahan daun kelor tersebut menjadi produk dengan hasil akhir teh yang bernilai jual tinggi.

160

Pelatihan Pembuatan teh tersebut dilaksanakan di kediaman Bapak Gufroni selaku ketua Kelompok Tani Desa gunungagung dan dilaksanakan pada hari Kamis, 31 Agustus 2017 dan dihadiri sebanyak 15 petani daun kelor. Proses pelatihan tersebut diawali dengan perkenalan alat sederhana pembuatan serbuk, kemudian dilanjutkan dengan proses pembuatan teh daun kelor yang diawali dengan pelarutan daun kelor dan selanjutnya proses Ekstraksi daun kelor. Dalam proses pengolahan tersebut dapat menggunakan 2 cara yaitu dengan penyulingan dan juga dengan Ekstraksi Solvent. Petani daun kelor juga diberikan modul untuk proses pembuatan minyak atsiri tersebut sehingga diharapkan dari pelatihan ini, petani melati dapat menerapkan apa yang sudah diberikan sehingga dapat meningkatkan nilai jual bunga melati yang ada di Desa Gunungagung tersebut.

Editor : Dr. Iman Setiono , M.Si

Implementasi Peningkatan Kesadaran Hukum Terhadap Pentingnya Sertifikasi Tanah Hak Milik

Tegal (30/08) – Bertempat di Balai Desa Sidang, Tim Mahasiswa Undip selenggarakan Kegiatan Implementasi Peningkatan Kesadaran Hukum Terhadap Pentingnya Sertifikasi Tanah Hak Milik. Kegiatan ini ditujukan agar masyarakat Sidang lebih memahami lagi perihal alur sertifikasi tanah dan biaya yang dikeluarkan. Turut hadir sebagai pembicara Sherly Octavia Prasojo Sanyoto selaku Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Diponegoro.

Sosialisasi dimulai pada pukul 16.00 dan dibuka oleh Muhsin selaku Staf Pengurus Desa bagian Pertanahan. Berikutnya, pemaparan materi oleh Sherly. Ia menyampaikan bahwa pendaftaran tanah harus dilakukan guna mendapatkan jaminan kepastian hukum, dan perlindungan hukum bagi pemilik karena sertifikat merupakan bukti kepemilikan utama yang sah. Selain itu, Sherly juga menyebutkan bahwa sertifikasi tanah tidak memerlukan biaya yang mahal. “Biaya sertifikasi tanah itu tidak mahal, tapi biaya proses sebelum mendaftarkannya itu yang mahal, seperti biaya pengukuran, pajak, dan lain sebagainya,” ujar Sherly.

Setelah pemaparan materi, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Namun, sebelumnya Sherly mengidentifikasi terlebih dahulu jenis sertifikasi tanah yang telah diperoleh oleh masyarakat Sokawangi. Diakui warga, bahwa sebelumnya telah terdapat sosialisasi MBR yang merupakan bentuk sertifikasi tanah bagi penduduk kurang mampu. Namun, sertifikat tersebut belum dimiliki oleh warga karena masih bingung akan prosedur yang ditawarkan. Selain itu, terdapat pula sertifikasi yang bekerja sama dengan pihak Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Tegal.

Melalui sesi tanya jawab, dapat diketahui bahwa permasalahan utama warga Desa Sidang adalah sertifikasi ganda. Sertifikasi ganda merupakan kepemilikan satu tanah yang sama, namun memiliki dua hak kepemilikan yang berbeda. Menurut Sherly, hal tersebut sebaiknya diselesaikan dengan cara mediasi, yang melibatkan perangkat desa sebagai mediator.

179
Sherly berharap dengan adanya acara ini dapat memotivasi warga yang belum memiliki sertifikat tanah agar segera mendaftarkannya ke Badan Pertanahan Nasional. “Harapannya untuk warga Sokawangi dapat segera mendaftarkan tanahnya untuk menghindari terjadinya sengketa,” tutur Sherly.

Editor : Ir. Murni, MT.

Pendampingan Pengajaran Pemberdayaan Pembuatan Biopori Sebagai Solusi Pengolahan Sampah Organic (sampah rumah tangga)

Lawatan, 30/08/2017– Sampah sekarang seakan akan menjadi hal yang sering ditemui di kehidupan sehari hari.Baik di pedesaan maupun perkotaan banyak sekarang ditemui sampah yang menumpuk bahkan sembarangan berserakan di lingkungan sekitar. Faktor tersebut yang membuat masyarakat resah dan kurang nyaman hidup berdampingan dengan sampah. Sampah sendiri dibagi menjadi 2 yaitu sampah organik dan sampah anorganik, sampah organik adalah sampah yang mudah untuk terurai dan dimusnahkan sedangkan sampah anorganik susah untuk terurai . Maka dari itu banyak cara untuk memanfaatkan sampah tersebut salah satunya adalah pengolahan sampah daun dengan metode biopori yang dilakukan oleh tim mahasiswa Undip. Biopori itu sendiri adalah metode membuat resapan air kecil menggunakan pipa pralon yang gunanya bisa membuat sampah daun menjadi pupuk kompos alami. Selain itu biopori berguna juga untuk serapan air agar mencegah banjir .Pada hari rabu tanggal 30 Agustus 2017 tim mahasiswa Undip mensosialisasikan tentang apa itu sampah organik dan anorganik sekaligus memberikan pengetahuan tentang fungsi dan manfaat dari biopori itu sendiri. Setelah memberikan pengetahuan tersebut barulah tim mahasiswa Undip membuat biopori di balaidesa sukolilan untuk warga sekitar.

170

Material yang digunakan yaitu sederhana meliputi pipa pralon ukuran ¾ inch sepanjang 1 meter, tutup pipa pralon sebagai penutup bioporinya, bor, alat penggali tanah, sekop dan alat untuk mengangkat tanah. Caranya yaitu lubangi tanah dengan menggunakan alat penggali tanah sampai sekitar kedalaman 1 meter, lalu lubangi bagian pralon dengan lubang berdiameter 10 mm dengan jarak kira kira 50 mm per lubang dengan lubang lainnya , lubangi juga bagian tutupnya agar air tetap bisa masuk kedalam tanah. Setelah bahan bahan dan lubang siap semua masukin pipa tersebut kedalam tanahsampai permukaan , barulah masukkan sampah daun kedalam lubang bioporinya agar bisa lama kelamaan menjadi pupuk kompos alami, setelah itu tutup biopori nya menggunakan tutup pipa yang sudah dilubangi tadi, jadilah biopori untuk warga sukolilan.Dengan adanya sosialisasi sampah dan pembuatan biopori tersebut diharapkan warga desa sukolilan dapat membedakan sampah organik dan anorganik serta dapat membuat biopori sendiri di daerah rumah masing masing warga, serta dapat membuat pupuk kompos alami.

Editor : Lintang Dian Saraswati, SKM, M.Epid

PENDAMPINGAN DAN PENGARAHAN PENGGUNAAN INTERNET SEBAGAI UPAYA PENGUATAN DESA PINTAR INTERNET PENAKIR, PULOSARI

Pulosari – Sabtu 26 Agustus 2017 Mahasiswa Universitas DIponegoro melakukan pembelajaran Matematika menggunakan Batang Napier, kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan peduli pendidikan di Desa Penakir, pembelajaran Matematika menggunakan Batang Napier ini dilaksanakan di SD Penakir, sasaran kami dalam melakukan program ini adalah anak anak sd mulai dari kelas 4 hingga kelas 6.

Kami melakukan pembelajaran Matematika menggunakan Batang Napier dengan cara mendatangi SD Penakir, setelah semua siswa berkumpul lalu kami memulai perkenalan lalu menjelaskan cara kerja dari menghitung dengan batang napier, memberi soal dan diakhiri dengan hiburan. Kegiatan ini kami lakukan karena kurangnya kemampuan siswa dalam mengerjakan perhitungan perkalian dan sebagai alternatif lain pembelaajaran matematika yang mudah dan menyenangkan

Penerapan Teknologi Tepat Guna Sederhana Ovitrap Sebagai Upaya Menghambat Laju Perkembangbiakan Nyamuk di Musim Penghujan

151

Bumijawa,Tegal (29/8) – Dalam rangka mengantisipasi terjadinya kejadian luar biasa (KLB) DBD di desa Batumirah, mahasiswa Universitas Diponegoro melakukan kegiatan pendampingan kader dalam pemutusan rantai penularan DBD. Kasus demam berdarah dengue merupakan salah satu penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan di desa Batumirah. Hampir setiap tahun kasus demam berdarah dengue terjadi, terlebih lagi pada musim penghujan yang sedang berlangsung saat ini.

Kegiatan dilaksanakan pada saat pertemuan kader di desa Batumirah tepatnya pada hari Selasa, 15 agustus 2017 pukul 16.00 WIB. Pelaksanaan kegiatan dibagi menjadi empat sesi yaitu pemberian materi mengenai DBD, pelatihan pembuatan ovitrap, simulasi penggunaan ovitrap dan evaluasi.

Pada sesi pertama dilakukan pemberian materi mengenai penyakit DBD secara umum oleh Dwi Nikmah Lestari yang merupakan salah satu mahasiswi jurusan kesehatan masyarakat. Pada sesi ini, Tari menjelaskan tentang bagaimana transmisi penyakit DBD, tanda dan gejala yang muncul pada penderita DBD, serta berbagai macam tindakan pencegahan penyakit demam berdarah dengue. Melalui sesi ini diharapkan dapat menambah wawasan bagi peserta mengenai penyakit demam berdarah serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya melakukan tindakan pencegahan.

Selanjutnya pada sesi kedua dilanjutkan dengan pelatihan pembuatan ovitrap. Ovitrap adalah salah satu alat yang digunakan untuk menjebak atau memerangkap telur nyamuk. Penggunaan ovitrap merupakan salah satu teknik pengendalian nyamuk yang ramah lingkungan karena tidak menggunakan bahan kimia. Bahan dan peralatan penyusun ovitrap cukup sederhana dan mudah ditemukan diantaranya yaitu botol plastik bekas, plastik berwarna gelap, lem perekat, kertas saring, label dan gunting.

Pengaplikasian ovitrap cukup sederhana yaitu dengan meletakkan ovitrap di dalam rumah dan diluar rumah. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan adanya telur nyamuk yang terperangkap setelah 3 hari peletakan. Jika dalam ovitrap ditemukan telur, maka telur tersebut dapat langsung dibuang atau dimusnahkan sehingga dapat memutus siklus hidup vektor. Pada sesi ini peserta terlihat sangat antusias dan bersemangat karena peserta dapat langsung mempraktikkan bagaimana membuat ovitrap yang mana belum pernah dilakukan sebelumnya.Selesai ovitrap berhasil dibuat, masuk ke sesi berikutnya yaitu simulasi survei telur menggunakan ovitrap. Pada sesi ini, para peserta dipandu agar memasang ovitrap tersebut dirumah masing-masing. Setiap peserta membawa dua ovitrap untuk dipasang di dalam dan di luar rumah. Ovitrap diletakkan pada tempat-tempat gelap dan lembab yang berpotensi sebagai tempat perindukan nyamuk seperti kolong meja dekat toilet, sudut ruangan maupun dibawah semak-semak yang ada diluar rumah.

Setelah ovitrap dipasang, langkah selanjutnya adalah monitoring dan evaluasi. Kegiatan monitoring dilakukan dengan memeriksa setiap ovitrap yang dipasang. Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui ovitrap positif telur dan jumlah telur yang terperangkap dalam ovitrap. Kegiatan monitoring dapat dilakukan setelah 3-7 hari pemasangan. Namun dalam program kali ini, monitoring dilaksanakan pada hari kelima, tepatnya pada hari Sabtu (19/8). Dari 8 ovitrap yang dipasang, semuanya tidak ditemukan adanya telur yang terperangkap. Namun hal tersebut tidak menurunkan antusiasme peserta untuk mengikuti hingga sesi terakhir yaitu evaluasi.

Editor : Dr. Iman Setiono , M.Si

FAKTOR RISIKO WABAH DBD SERTA PEMBERIAN KALENDER SEBAGAI MEDIA EDUKASI DBD DI DESA CIKENDUNG, PULOSARI

Pulosari – Senin tanggal 28 Agustus 2017, Mahasiswa Universitas Diponegoro memberikan pembelajaran kepada siswa – siswi SDN 02 Cikendung dengan berbagai macam materi diantarnya ada pembelajaran mengenai Pemberdayaan Juru Pemantau Jentik  (Jumantik) Cilik dan pengenalan mengenai Rambu Lalu Lintas. Kegiatan tersebut di berikan kepada siswa – siswi kelas 4.

Kegiatan ini bertujuan untuk menambah wawasan dan informasi tentang pengetahuan yang umumnya jarang atau belum diberikan di sekolah mereka.Dengan memberikan pembelajaran tersebut diharapkan siswa – siswi dapat termotivasi untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan lebih mengenal tentang penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) melalui kegiatan pemantauan jentik di lingkungan rumah, sekolah, maupun sekitar. Selain itu dengan diberikannya pengenalan mengenai rambu lalu lintas diharapkan para siswa – siswi dapat memahami arti dan maksud dari dibuatnya rambu lalu lintas sehingga mereka dapat menyampaikan informasi ke orangtua, teman, maupun masyarakat sehingga mereka lebih tertib dalam berlalu lintas. Diharapkan para siswa – siswi dapat menjadi pelopor atau penggerak di lingkungan mereka dalam hal pemberantasan sarang nyamuk dan ketertiban berlalu lintas.

Hal ini dilihat dari survey yang telah dilakukan bahwa di Desa Cikendung kesadaran akan kegiatan pemantauan jentik secara rutin dan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk seperti 3M (Menguras, Menutup, dan Mendaur ulang) masih sangat kurang dan belum adanya pembentukan kader atau penanggung jawab kegiatan. Selain itu kesadaran akan kebersihan lingkungan juga masih rendah, hal ini terlihat dari pengelolaan sampah yang masih dilakukan secara sederhana. Sehingga dapat menjadi faktor – faktor penyebab resiko kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD).

Di samping itu, mayoritas masyarakat masih belum paham tentang pentingnya tertib berlalu lintas melihat dari banyaknya masyarakat khususnya anak-anak dibawah umur yang berkendara mulai dari yang tidak menggunakan helm, berbonceng tiga, tidak adanya lampu spion kendaraan, dan lain lain yang terkait dengan pelanggaran lalu lintas. Pemupukan kesadaran untuk tertib berlalu lintas dan mengenalkan sanksi-sanksinya terhadap masyarakat dirasa sangat perlu untuk membuat suatu desa dengan masyarakatnya yang taat dan mengerti hukum.

Pemberian materi dilakukan dengan beberapa media seperti melakukan pemutaran video dan film, pemberian modul materi, dan pemberian snack ringan. Para siswa – siswi sangat antusias dan bersemangat dalam menerima berbagai pembelajaran yang diberikan, terlihat dari banyaknya siswa – siswi yang berpartisipasi dalam memberikan jawaban dan bertanya.

Pendampingan Pengajaran Dan Demo Pembuatan Makanan Bergizi Dengan Memanfaatkan Hasil Perkebunan Warga Desa Kreyo

Randudongkal – Pada Hari Sabtu (26/8/2017) telah diadakan Pembinaan dan Demo Pembuatan Makanan Bergizi untuk Balita, Ibu dan Keluarga di Desa Randudongkal, Kecamatan Pucakwangi 2, Kabupaten Pemalang. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan status gizi balita, ibu dan keluarga yang termasuk dalam kategori Bawah Garis Merah (BGM) dengan gizi kurang. Jika masalah ini tidak segera ditangani, maka balita tersebut berisiko mengalami gizi buruk. Untuk memberikan asupan makanan yang bergizi seimbang, diperlukan pemberian makanan sehat dari hasil perkebunan warga sendiri. Kegiatan pembinaan ini disertai dengan pelatihan PMT untuk ibu-ibu dengan balita BGM gizi kurang di Desa Kreyo. Mahasiswa Universitas Diponegoro Desa Kreyo memfasilitasi ibu-ibu untuk melakukan simulasi pembuatan makanan tambahan dengan menu komplit. Ibu-ibu peserta kegiatan pembinaan dan pelatihan ini mengikuti serangkaian kegiatan dengan antusias.

Tindak lanjut dari kegiatan ini adalah dilakukannya monitoring dan evaluasi secara door to door. Bentuk kegiatan monitoring diantaranya adalah konseling dengan para ibu terkait pelaksanaan PMT, dan pembagian booklet tentang gizi seimbang.

Meningkatkan Kesadaran Anak-anak MI terhadap Lingkungan Sekitarnya (1)

Senin, 31 Juli 2017, Tim II KKN Undip Desa Tunjungsari mengadakan program pencerdasasan kepada anak-anak MI Muhammadiyah Tunjungsari mengenai jajanan sehat dan budidaya tanaman sayur sejak dini serta mengadakan simulasi cocok tanam. Kegiatan ini diperuntukkan bagi siswa kelas 6 MI Muhammadiyah Tunjungsari. Pengetahuan mengenai jajanan sehat sangat diperlukan bagi anak-anak agar tidak salah memilih jajanan untuk dikonsumsi dan tidak membahayakan kesehatan. Berlatih cocok tanam sejak dini juga diperlukan agar anak-anak mampu dan terbiasa menanam tanaman sayur sehingga dapat dikonsumsi sehari-hari. Hal tersebut dapat melatih anak-anak untuk terbiasa hidup sehat dengan tidak jajan sembarangan dan mengonsumsi sayur setiap hari.

anak sd lingkungan tunjungsari