Home » Articles posted by KKN PUPERA

Author Archives: KKN PUPERA

Eksekusi FGD yang ke Dua

Kegiatan minggu ke tiga yang kami lakukan terkait dengan program multi PU PR antara lain adalah mendapat pengarahan mengenai program “Kotaku” dari Bapeda pada hari Senin. Pada kesempatan itu yang mewakili dari kami adalah Mas Panggih dan Kiki. Program “Kotaku” sebenarnya fokus utamanya sama seperti tujuh aspek dari program multi PU PR BangKim. Oleh karena itu, dengan adanya pemaparan dari Bapeda kami menjadi semakin paham dengan program multi kami.

Hari berikutnya, kami melaksanakan survey-survey seperti biasa guna melengkapi data-data sebelumnya. Pada hari itu juga kami melakukan diskusi dengan Faskel mengenai rencana pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) yang ke dua. Dari diskusi tersebut kami mendapatkan informasi mengenai RT dan RW yang menjadi fokus utama Pengembangan Permukiman (BangKim) di wilayah Widuri. RT dan RW tersebut adalah RT 2 dan 3 RW 5, RT 4 RW 6, dan RT 4 RW 1. Alasan mengapa lebih fokus kepada RT dan RW tersebut karena di dalamnya paling kompleks permasalahannya. Oleh karena itu,  kami berencana mengundang ketua RW dan RT tersebut dalam FGD yang ke dua kami.

Pada hari Rabu kami melakukan survey-survey di RT dan RW yang akan kami undang dalam FGD yang ke dua. Kami menemui pak RW dahulu, kemudian kami diantar ke rumah pak RT. Setelah itu kami didampingi oleh pak RT ke rumah-rumah warga untuk pendataan jamban yang ada di wilayah tersebut. Selain itu, survey ini kami fokuskan kepada permasalahan yang ada di masyarakat sekitar. Keluh kesah yang dirasakan oleh masyarakat dan penjelasan dari Pak RW mengenai hal yang telah dilakukan. Akan tetapi, kami melakukan survey ini hanya setengah hari saja karena sorenya ada perkumpulan dengan umkm yang ada di wilayah widuri.

Hari kamis kami mulai menyiapkan kebutuhan yang diperlukan untuk melaksanakan FGD ke dua. Dimulai dari pembuatan surat udangan untuk pihak Kelurahan, RT dan RW. Akan tetapi ada kendala yang kami alami, yaitu Pak Lurah sedang tidak ada di Kelurahan. Pak Lurah sedang ada perjalanan dinas ke Semarang. Sehingga kami harus menunggu hari berikutnya untuk meminta tanda tangan. Akhirnya kami melakukan penyampaian undangan secara door to door kepada pak RW dan RT. Hal ini kami lakukan untuk menghindari ketidak hadiran para tamu undangan. Alhamdulilah respon dari pak RT dan RW sangat baik. Sebagian besar dari mereka menyatakan akan menghadiri undangan kami.

Setelah itu kami pulang ke posko untuk mempersiapkan materi dan peta yang akan ditampilkan buat esok hari. Data-data hasil survey diolah semuanya. Titik-titik yang sudah ditandai kami sambung jadi satu. Foto bukti lapangan juga kami kumpulkan guna mendukung pembuatan peta kelurahan Widuri.

Hari jumat paginya, kami sudah membagi tugas untuk persiapan FGD siangnya. Ada yang membeli snack dan mengambil surat di kelurahan kemudian membagi ke setiap tamu undangan. Akhirnya semuanya selesai sebelum sholat jumat. Kami pun berangkat menuju ke kelurahan Widuri jam setengah dua. Tepat jam tiga FGD pun dimulai, dari semua undangan yang kami sebar hanya ada beberapa saja yang tidak datang. Akan tetapi sudah memenuhi minimal quorum, sehingga kami tetap bisa melaksanakan FGD ke dua kami.

Proses FGD dimulai dari sambutan perwakilan Faskel, Kelurahan dan mahasiswa Kkn. Setelah sambutan, dilanjutkan pemaparan oleh mahasiswa mengenai peta yang telah dibuat berdasarkan hasil survey sebelumnya. Ke tujuh aspek kami jelaskan semuanya di masing-masing wilayah. Kemudian dilanjutkan sesi diskusi bersama membahas peta yang telah dijelaskan tadi. Dari masing-masing RT dan RW dihimbau untuk memberikan tanggapan mengenai penjelasan peta tadi. Diskusi ini sangat menarik sekali, hal ini terlihat dari antusiasme pak RT dan RW dalam memberikan tanggapan dan penjelasan tentang peta tadi.

PUPR1

Salah satu ketua RW dan RT ada yang maju ke depan dan menunjuk bagian-bagian yang masih kurang lengkap. Hal yang membuat kami tertawa dan kaget adalah ketika salah satu RW dan RT maju ke depan dengan membawa besi potongan untuk memasang gorden. Besi tersebut digunakan untuk menunjuk dan menjelaskan bagian-bagian di peta. Setelah semua ketua RT dan RW memberikan penjelasan dan tanggapan mengenai peta, acara pun selesai. Kesimpulan dari FGD dua adalah peta sudah cukup menggambarkan wilayah kelurahan Widuri. Akan tetapi masih ada bagian-bagian yang masih perlu disempurnakan lagi.

PUPR2 PUPR3

Kondisi Lingkungan Kelurahan Widuri

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat adalah satu departemen negara yang mempunyai tugas menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pekerjaan umum dan perumahan rakyat untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. Dalam pelaksanaan tugasnya sesuai dengan Peraturan Menteri PUPR Nomor 15/PRT/M/2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat berfungsi sebagai perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang pengelolaan sumber daya air, penyelenggaraan jalan, peyediaan perumahan dan pengembangan kawasan pemukiman, pembiayaan perumahan, penataan bangunan gedung, sistem penyediaan air minum, sistem pengolahan air limbah dan drainase lingkungan serta persampahan, dan pembinaan jasa konstruksi.

Kuliah Kerja Nyata Tim II Universitas Diponegoro kali ini Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat bekerja sama dengan Universitas Diponegoro menyelenggarakan kegiatan sektor Bangkim di beberapa wilayah di Jawa Tengah, salah satunya di Kecamatan Pemalang, dimana kegiatan tersebut dapat dipahami dengan prinsip dasar peningkatan kualitas pemukiman kumuh perkotaan, proses penetapan kualitas lokasi pemukiman kumuh, menyusun Profil Pemukiman Kumuh, menyusun Peta Permasalahan, dan menyusun Rencana Peningkatan Kualitas Pemukiman Kumuh. Kegiatan ini difokuskan pada tujuh masalah inti pemukiman kumuh, yaitu kondisi bangunan, kondisi jalan lingkungan, kondisi penyediaan air bersih, kondisi drainase lingkungan, kondisi pengelolaan air limbah, kondisi pengelolaan sampah dan kondisi proteksi kebakaran.

Hasil survey ketujuh masalah pokok yang telah dilakukan oleh peserta Kuliah Kerja Nyata Tim II Universitas Diponegoro untuk wilayah Kelurahan Widuri, Kecamatan Pemalang, Kabupaten Pemalang adalah sebagai berikut. Pertama, permasalahan kondisi bangunan. Wilayah Kelurahan Widuri memiliki daerah perumahan yang dianggap layak sesuai dengan Rencana Detail Tata Ruang dan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan. Bangunan rumahnya tersusun rapi, dengan memiliki cukup lahan untuk taman kecil di bagian depan dan akses jalan yang baik. Wilayah perumahan ini dapat dijumpai salah satunya RW 7. Namun kedua daerah ini hanyalah sebagian kecil dari wilayah Kelurahan Widuri. Di beberapa daerah lain terdapat bangunan perumahan yang terlihat proses pembangunannya hanyalah untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal masyarakat, dengan arti lain bangunannya tidak sesuai dengan aturan perumahan yang layak huni. Akses jalannya hanya bisa dilalui oleh sepeda motor satu arah dan masih berupa tanah. Perumahan kurang layak ini bisa ditemukan di daerah RW 5.

PUPR1 PUPR2

Kedua, permasalahan kondisi jalan lingkungan. Bisa dikatakan hampir 75% kondisi jalan di wilayah Kelurahan Widuri mengalami kerusakan seperti berlubang dan tidak rata. Berdasarkan hasil wawancara dengan Ketua RW 7, pemerintah sudah melakukan perbaikan jalan setidaknya satu kali dalam setahun terutama pada masa menjelang hari raya Idul Fitri, namun perbaikan jalan ini hanyalah menggunakan sistem tambal. Ramainya aktivitas jalan raya di Kelurahan Widuri membuat hasil perbaikan jalan tidak maksimal karena tambalan yang belum kering sudah buru-buru digunakan oleh pengguna jalan raya. Kerusakan juga disebabkan oleh kondisi alam seperti hujan deras atau hujan yang berkepanjangan. Untuk wilayah perumahan, daerah perumahan di RW dan RW 7 adalah bagian Kelurahan Widuri yang paling sedikit mengalami kerusakan jalan. Sedangkan di daerah perumahan lain, seperti di daerah RW 4, ditemukan kerusakan jalan yang sangat parah. Jalan berlubang yang ditemukan dalam hasil survei berukuran besar dan tersebar, sehingga sangat membahayakan bagi pengguna jalan.

PUPR3

Ketiga, permasalahan kondisi penyediaan air bersih dan air minum. Untuk kondisi penyediaan air bersih dan air minum Kelurahan Widuri tidak ada kendala berarti. Rata-rata sumber air bersih dan air minum berasal dari PAM dan sebagian kecil menggunakan sumur yang digali secara pribadi. Sumber air dapat diakses dengan mudah dan cukup untuk pemenuhan kebutuhan air bersih dan air minum di Kelurahan Widuri.

PUPR4

Keempat, permasalahan kondisi drainase lingkungan. Hanya dengan pertama kali memasuki wilayah ini kita dapat menilai bahwa Kelurahan Widuri memiliki drainase yang buruk. Hasil survey menunjukkan bahwa di wilayah perumahan layak huni sekalipun, saluran selokan tersumbat oleh sampah dan tanaman yang tumbuh. Bahkan di beberapa tempat selokan sudah tidak bisa lagi mengalirkan air buangan karena sampah yang padat menumpuk didalamnya. Air dalam selokan tersebut terlihat menghitam dan sedikit menimbulkan bau tidak sedap. Beberapa RW menyatakan bahwa mereka sudah melakukan kegiatan kerja bakti rutin, namun memang dari masyarakat dalam kesehariannya kurang menyadari arti penting kebersihan lingkungan. Hal ini mengakibatkan terjadinya banjir di musim hujan di beberapa daerah dengan permukaan tanah rendah.

PUPR5 PUPR6

Kelima, permasalahan kondisi pengelolaan air limbah. Di beberapa daerah, masing-masing rumah memiliki kamar mandi. Untuk daerah pemukiman kumuh, mereka masih menggunakan sistem kamar mandi umum. Namun masih ada saja masyarakat Kelurahan Widuri yang buang air di sembarang tempat, seperti di kawasan pinggir sungai atau persawahan.

Keenam, permasalahan kondisi pengelolaan sampah. Masalah sampah merupakan masalah besar kedua setelah drainase yang buruk di Kelurahan Widuri. Hampir di sepanjang jalan raya besar dapat ditemui titik pembuangan sampah yang terbengkalai, sehingga sampah hanya dibiarkan menumpuk dalam waktu yang lama. Jarang sekali terlihat fasilitas tempat sampah untuk jalan dan TPS di sana, atau jika ada tempat tersebut sudah tidak layak pakai. Masyarakat pun tampaknya belum sadar akan pentingnya pemilahan sampah (organik dan non-organik serta sampah plastik), sehingga semua sampah bercampur aduk.

PUPRSAMPAH2 PUPRSAMPAH1

PUPRSAMPAH3 PUPRSAMPAH4

Terakhir namun bukan yang paling akhir, permasalahan kondisi proteksi kebakaran. Di Kelurahan Widuri, baik di perumahan maupun pemukiman kumuh, kelemahan dari kondisi perumahannya adalah bangunannya yang saling berdempetan sehingga besar kemungkinan api akan mudah menjalar ke bangunan rumah lain jika terjadi kebakaran. Sumber air umum yang bisa digunakan untuk memadamkan api pun tidak ada, dan tidak setiap rumah mempunyai tabung pemadam kebakaran. Survey keliling Kelurahan Widuri juga menunjukkan tidak ada pusat pemadam kebakaran terdekat sehingga dikhawatirkan kedatangan petugas pemadam kebakaran terlambat dalam menangani bencana kebakaran. Akses jalan yang kecil pun menjadi kendala lain karena mobil pemadam tidak bisa mendekati titik api.

PELAKSANAAN FGD 3 DI MINGGU KE-5 KELURAHAN MULYOHARJO

Tepat pada tanggal 8 agustus 2016 yaitu dihari senin, dilaksanakan FGD ke-3 yang mana dilaksanakan di aula kelurahan Mulyoharjo. FGD ke-3 ini merupakan FGD terakhir yang dihadiri oleh beberapa pihak yang bersangkutan, yaitu adalah Bapak Arya Rezagama selaku DPL, kemudian ada perwakilan dari Bappeda Pemalang dan perangkat kelurahan dari beberapa kelurahan yang ada di kecamatan Pemalang, dan pula dihadiri oleh satkes dan faskel dari kemen PU PERA.

FGD dilaksanakan dengan setiap kelurahan yang mempunyai program kerja PU PERA mempresentasikan dan memaparkannya hasil dari survey-survey yang telah dilakukan ke dalam bentuk peta yang disertai analisis dan solusi yang mungkin dilakukan. Kelurahan yang mempresentasikan PU PERA adalah Mulyoharjo, Widuri, Kebondalem, Pelutan, SUgihwaras, yang kemudian ada tambahan dari kecamatan taman yaitu dari Banjardawa.

Setelah semua selesai mempresentasikan hasil PU PERAnya masing-masing, pihak dari Bappeda, satkes, faskel, dan lainnya mengomentari dan memberi masukan berdasarkan analisis dan solusi yang kita berikan. Yang mana, nantinya masukan dan komentar tersebut akan digunakan agar nantinya bisa lebih baik kedepannya. Kebanyakan solusi yang diberikan oleh kami belum memenuhi ekspetasi mereka, sehingga diharapkan kedepannya dapat meningkatkan program PU PERA yang dilaksanakan.

survei lapangan di rw 8,10 di kelurahan mulyoharjo di minggu ke 4

S__5521419S__5521418

pada minggu ke-4 tepatnya pada tanggal 29-07-2016 anggota kami melakukan survei lapangan di  rw 10 , dimana di survei ini dilakukan guna menambahkan dokumentasi serta data yang digunakan untuk program PUPR yang akan digunakan untuk fgd 3 . Disini anggota kami yang melakukan survei adalah Nauval Rabbani dan Muhammad Ardhian .

Di rw 10 sendiri kita memfokuskan pada kondisi sungai yang akan di paparkan , dimana  sungai gempol itu se

ndiri masih banyak tumpukan sampah yang dibuang di sungai itu sendiri . Dan juga masih di temukanya masyarakat sekitar yang sedang membuang hajatnya di jamban pinggir kali , yang sering disebut sama masyarakat sekitar adalah jamban “Helikopter” , kondisi ini terjadi ternyata bukan hanya saja faktor seseorang itu tidak memiliki jamban . ada masyarakat yang memiliki jamban di rumahnya namun dia masih memilih untuk membuang hajatnya di jamban helikopter tersebut . hal ini disebabkan adalah faktor turun temurun dari luhur terdahulunya , yang mana menjadi adat istiadat masyarakat setempat

Dan ditanggal 30-07-2016 2 anggota kami tersebut juga mensurvei rw 8 , yang mana di rw 8 ini sendiri infrastruktur jalanya sudah bagus dan cuma ada beberapa saja rumah yang tidak layak huni namun yang jadi kendala juga di sungai yang berada di rw 8 yaitu sungai banger . yang menjadi kendala adalah tumpukan sampah yang ada di sungai tersebut yang mengakibatkan meluap apabila terjadi hujan yang tidak lumayan lebat .

menperisapkan fgd 3 di minggu ke 5 di mulyoharjo

ojo

pada tanggal 07-08-2016 tepatnya di hari minggu , anggota kami selaku koor PUPR menyiapkan bahan materi berupa ppt dan peta” guna untuk memaparkan permasalahan yang ada di setiap RW , terkhusus di RW yang menjadi skala prioritas KOTAKU ( kota anti kumuh ) .

Dimana anggota kami saling berkoordinasi dengan koor pupr di desa yang lain , guna untuk saling memberi pendapat serta masukan untuk memaparkan fgd 3 , dan juga saling berdiskusi dengan dosen pembibing kami yaitu pak arya resagama yang di adakan di desa surajaya .

Dimana dosen kami juga memeberikan sedikit masukan dan solusi terhadap permasalahan yang kita hadapi di kawasan kami , dan membahas secara rinci apa” yang besok harus di tampilkan atau di paparkan di fgd 3 tersebut

survey di minggu ke 4 untuk melengkapi peta yang akan di presentasikan di fgd 2 di mulyoharjo

imageimagePada taggal 31-07-2016 tepatnya di hari minggu anggota kami Nauval Rabbani dan Muhammad ardhian putra melakukan survey di rw 2 guna melengkapi peta untuk fgd 3 , dimana di survey ini kita ingin mengetahui permaslahan apa saja yang terjadi RW 2 sana , Anggota kami bergerak untuk melakukan survey ini di pagi hari , Setelah se sampainya di rw tersebut anggoa kami menemukan beberapa permasalahan yang terjadi dan termasuk dalam 7 aspek BANGKIM

di RW 2 tersebut anggota kami , menemukan rumah tidak layak huni walaupun tidak terlalu banyak , dan infrastruktur jalan yang cukup rusak , terjadinya infrastruktur jalan yang rusak ini di akibatkan karena adanya kendaraan yang melewati daerah tersebut melebihi muatan seperti truk dan container . Dan juga di daerah tersebut terjadi tumpukan sampah yang banyak di sini di sebabkan karena di rw 2 sendiri terdapat pasar tradisonal yang mana bnyak dari penjual nya tersebut menumpukan kotoran daganganya di satu titik . Dan anehnya satu titik ini adaalah di tempat sungai sebagian yang akan mengakibatkan sungai mampet dan meluapa apabila terjadi hujan yang cukup lebat.Setelah mendapatkan data yang di inginkan , maka anggota kami Nauval Rabbani membuat peta untuk melengkapi kekurangan data .

Monitoring oleh BAPPEDA (Reportase PUPR)

Senin, 1 Agustus 2016

Pagi ini teman kami yaitu Azka dan Kiki memenuhi undangan dari BAPPEDA untuk rapat mengenai program multidisiplin PUPR. Dalam rapat bersama BAPPEDA ini yang hadir dari Sugihwaras, Mulyoharjo, Pelutan, Kebondalem, Widuri, Banjardawa, dan Wanarejan Selatan. Disini kami bersama-sama membahas mengenai progress dari masing-masing desa terkait FGD 1 dan 2 yang telah dilaksanakan dan pembuatan peta IMAP. Selain itu, kami juga diarahkan untuk melaksanakan FGD 3 pada minggu depannya.

 

Kamis, 4 Agustus 2016

Pagi ini, dua orang dari perwakilan desa yaitu Lincolin dan Chika menghadiri monitoring oleh BAPPEDA. Kegiatan ini berlokasi di Aula Kelurahan Mulyoharjo dan dihadiri oleh 10 Desa/Kelurahan yang terdapat di Kecamatan Pemalang yaitu Sugihwaras, Mulyoharjo, Pelutan, Widuri, Kebondalem, Kramat, Sewaka, Paduraksa, Bojongbata, Sewaka, dan Surajaya. Monitoring oleh BAPPEDA ini merupakan asistensi terhadap program-program yang selama ini telah dijalankan, baik itu program mono, multi maupun program unggulan. Para Koordinator Desa satu persatu mempresentasikan progress report dari program kerja yang telah dilaksanakan dengan sangat baik. Setelah itu perwakilan dari BAPPEDA melakukan evaluasi dengan teknis sesi tanya jawab terkait materi presentasi yang telah dipaparkan. Secara keseluruhan, BAPPEDA sangat mengapresiasi program kerja yang telah kami laksanakan dan tentunya program-program tersebut juga bermanfaat bagi masyarakat setempat. Selain itu, BAPPEDA juga memberikan kritik dan saran yang membangun bagi kelompok-kelompok kami. Acara berjalan dengan lancar dan diakhiri dengan foto bersama.

Focus Group Discussion 2 bersama warga RW 001 (Reportase PUPR)

S__17702916 S__17653768

Pada minggu ke-3 tepatnya Senin, 25 Juli 2016 kami menghadiri rapat KKN Infrastruktur yang diselenggarakan oleh BAPPEDA Kabupaten Pemalang. Bersama tim-tim KKN lain yang program kerja multidisiplin nya sama-sama berfokus pada program kerja pemerintah PU PR, disana kami membahas mengenai peta IMAP dan pemantapan untuk FGD 2.

Pada hari Kamis, 28 Juli 2016 sekitar pukul 19.00 malam kami melaksanakan FGD 2 (focus group discussion) yang bertempat di Mushola RW 001 Kelurahan Sugihwaras. FGD 2 ini membahas persoalan terkait dengan RW yang menjadi fokus dalam penyelenggaraan program PU PR. RW 001 terpilih menjadi fokus karena memiliki masalah infrastruktur terparah di kelurahan Sugihwaras.

FGD tersebut dihadiri oleh perangkat dan warga RW 001, dalam FGD ini kita membahas permasalahan sekaligus solusi dari permasalahan yang ada di RW tersebut. Warga sangat antusias saat ditanya masalah yang dihadapinya, mereka mencurahkan semua keluh kesah yang dialami dan dihadapi mereka selama ini. FGD ini berlangsung selama 2 jam dan berlangsung seru karena semua warga mengeluarkan pendapatnya.

Masalah yang mereka sampaikan mayoritas terkait dengan sampah, penerangan dan jamban. Sangat menggunungnya sampah dan kotornya lingkungan sekitar pantai menjadi masalah yang disorot, warga mengharapkan kami dapat menyampaikan kepada KLH untuk memberikan bantuan berupa tempat sampah, agar warga RW 001 tidak lagi membuang sampah semabrang dipinggir pantai.

Masalah selanjutnya yang disampaikan warga adalah terkait dengan kondisi penerangan jalan disekitar pantai yang masih minim. Mereka pun berharap kita mengusahakan tentang pengadaan lampu jalan. Kemudian masalah terakhir yang menjadi fokus adalah masalah jamban. Banyak warga yang belum memiliki jamban sendiri dirumahnya, sehingga banyak warga yang membuang BAB ke pantai.

Sebenarnya banyak warga yang sudah mampu membuat jamban sendiri namun mereka terkendala keterbatasan lahan dan kebanyakan warga sudah terbiasa BAB dipantai. Oleh karena itu mereka mengharapkan adnya bantuan jamban umum yang bersih dan nyaman agar mereka tidak lagi BAB dipantai, sehingga terciptanya lingkungan yang lestari.

 

Focus Group Discussion 1 bersama Perangkat Kelurahan Sugihwaras

Pada minggu kedua, KKN TIM II Sugihwaras kembali melengkapi data untuk program multidisiplin PU PR yang masih kurang di minggu sebelumnya dengan melakukan survey lapangan (door to door) ke RT/RW yang belum sempat dikunjungi. Selain itu, kami juga mulai mempersiapkan perizinan kepada perangkat kelurahan Sugihwaras untuk melakukan FGD I (focus group discussion) terkait program multidisiplin PU PR. FGD I bertujuan untuk menampung aspirasi dari para Ketua RT/RW kelurahan Sugihwaras mengenai tujuh aspek bangunan kumuh, seperti persampahan, sanitasi buruk, jalan rusak, ketidakteraturan bangunan, tempat pengelolaan limbah, drainase buruk, dan rawan kebakaran. Dari keseluruhan data yang kami peroleh tersebut adalah untuk melengkapi data-data yang akan dimasukkan ke peta IMAP.

Setelah mendapat perizinan untuk melaksanakan FGD I, keesokan harinya yaitu pada Kamis (21/07) kami melaksanakan kegiatan FGD I di Kantor Kelurahan Sugihwaras yang dihadiri oleh Kepala Kelurahan Bapak Febry Djatmiko serta beberapa ketua RW perwakilan dari RT/RW kelurahan Sugihwaras. Kegiatan berjalan lancar walaupun dimulai terlambat sekitar satu jam. Dari hasil FGD I kami memperoleh aspirasi, harapan, serta saran dari masing-masing ketua RW yang hadir pada FGD tersebut.

Sabtu (23/07) Dosen Pembimbing Lapangan mengunjungi desa-desa di Kecamatan Pemalang. Kebetulan posko KKN Sugihwaras menjadi tuan rumahnya. Setelah itu dilaksanakan pengarahan mengenai program PU PR dari DPL, dan perwakilan setiap desa menjelaskan tentang pencapaian atau temuan yang berkaitan dengan program PU PR selama 2 minggu ini. Selain itu masing-masing dari perwakilan desa diminta untuk menjelaskan dan membahas laporan kegiatan sementara yang sudah berjalan seperti program multidisiplin UMKM, program monodisiplin, dan Posdaya. Selain itu, DPL juga memberikan tambahan materi mengenai program PU PR, catatan-catatan tersebut untuk membantu mahasiswa untuk melaksanakan FGD kedua dan ketiga yang akan datang.

Halo Sugihwaras, KKN Undip Siap Membantu

Kelurahan Sugihwaras merupakan salah satu kawasan yang berada di selatan pantai utara pulau Jawa. Kelurahan Sugihwaras terdiri dari 16 RW dan dari beberapa RW terdiri dari beberapa RT. Masyarakat di kelurahan Sugihwaras sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan.

Setiap wilayah memiliki potensi dan permasalahan begitu juga dengan kelurahan Sugihwaras. Kelurahan Sugihwaras memiliki potensi yaitu UMKM berbahan dasar ikan yaitu kerupuk ikan. Permasalahan yang ada di kelurahan Sugihwaras yaitu seperti kurangnya kesadaran masyarakat tentang pengelolaan air limbah dan sampah. Masyarakat masih banyak yang membuang sampah di pinggiran pantai Utara dan menyebabkan polusi udara. Selain itu sistem drainase juga tidak berjalan dengan baik seperti banyaknya genangan sampah di selokan.

Kondisi lingkungan yang masih kumuh dan belum tersentuh program pembangunan pemerintah mengakibatkan banyaknya permasalahan lingkungan seperti saluran drainase dan sanitasi yang tidak lancar, pengelolaan air limbah yang masih kurang, tidak optimalnya pengelolaan sampah, penataan bangunan tidak merata, kerusakan jalan lingkungan, penyediaan air yang masih sangat minim serta belum adanya pengamanan kebakaran tingkat kelurahan. Oleh karenanya, kami tim KKN II UNDIP bekerjasama dengan Dinas Kementrian PU PR guna memberikan solusi atas permasalahan mengenai penataan bangunan yang ada di Kelurahan Sugihwaras. Tahapan kegiatan yang kami lakukan di minggu pertama KKN yaitu melakukan perijinan dengan perangkat Kelurahan terkait dengan program multidisiplin UMKM dan PU PR. Selain itu kami juga sudah mengumpulkan data­data mengenai kondisi layak huni pemukiman penduduk dari Kelurahan serta survei di beberapa tempat UMKM yang ada di Kelurahan Sugihwaras. Fokus program multidisiplin kami di minggu pertama ini adalah melengkapi data yang masih kurang dengan melakukan survei lapangan (door to door) agar data yang diperoleh lebih valid serta mengetahui permasalahan yang dialami oleh masyarakat setempat secara langsung.