Home » Uncategorised

Category Archives: Uncategorised

Peningkatan Keterampilan dan Kesehatan Masyarakat dalam Pemanfaatan Pekarangan Rumah Melalui Budidaya Tanaman Hias Bunga Lavender

https://ibb.co/hWXbVp

Werdi, Pekalongan – Rabu (25/7) Mahasiswa KKN TIM II UNDIP 2018 Desa Werdi Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah mengadakan pelatihan tentang budidaya tanaman hias  bunga lavender di pekarangan rumah dengan media polybag yang dilakukan pada tanggal 25 Juli 2018 di Balai Desa Werdi yang dihadiri oleh para Ibu-Ibu PKK.

Bunga lavender memiliki beberapa manfaat antara lain sebagai pengusir nyamuk, pengendali mood dan stress karena aromanya yang khas dapat dijadikan sebagai relaxasi, selain itu budidaya tanaman hias bunga lavender sangat mudah dilakukan oleh siapa saja. Bunga lavender dapat ditanam di polybag dan diletakkan dipekarangan rumah yang sekaligus untuk memanfaatkan pekarangan rumah yang kurang dapat bermanfaat dan terawat dengan baik. Maka dari itu pelatihan budidaya tanaman hias bunga lavender sangatlah perlu dilakukan untuk menciptakan lingkungan yang indah dan bermanfaat.

Penulis : Intan Witiasari (FPP)

Hydrogel, Jelly-jelly Imut Sebagai Media Tanam yang Menarik Perhatian

IMG_4835

Hidrogel merupakan media tanam alternatif pengganti tanah, yaitu polimer buatan sejenis karet yang kekenyalannya mendekati agar-agar. Hidrogel bersifat menyerap dan menyimpan air dan nutrisi dalam jumlah besar dengan kapasitas hingga 100-200 kali ukurannya serta akan melepaskan air dan nutrisi secara proporsional sesuai dengan kebutuhan tanaman. Pengenalan hidrogel sebagai media tanam selain tanah diberitahukan kepada siswa MI Thowalib khususnya kelas 3, 4 dan 5 dilaksanakan di Aula MI Thowalib pada hari Selasa 7 Februari 2017 oleh TIM I KKN UNDIP Desa Pesagen. Kali ini Rofi’ana (TIM KKN UNDIP Desa Pesagen) yang bertindak sebagai pembawa acara.

Upaya meningkatkan semangat dan ketertarikan anak dalam menanam tanaman hias ini dapat dimulai dengan hal-hal menarik seperti menggunakan hidrogel sebagai media tanamnya karena bentuknya yang unik yaitu bulat dan warnanya yang beragam mirip dengan agar-agar. Penggunaan hidrogel sebagai media tanam dimulai dengan perendaman selama 6 jam, penyiapan tanaman hidroponik seperti lidah buaya, lidah mertua dan keladi hias yang telah dibersihkan akarnya dari tanah serta pencucian tanaman secara keseluruhan agar bersih, kemudian penanaman dilakukan didalam pot gelas kaca maupun plastik dengan hidrogel sampai bagian akar dan batang bawah tertutup semua sampai ketepian mulut pot, dan terakhir perawatan dilakukan setiap 2 hari sekali dengan cara menyemprot hidrogel dengan air sedikit-sedikit atau disesuaikan dengan kondisi hidrogel ketika sudah mulai menyusut.5644927821820

Siswa-siswi tampak antusias sekali dengan kegiatan ini terbukti melalui semangat mereka dalam m
embawa berbagai tanaman hias yang mereka persiapkan untuk ditanam dengan hidrogel, hal ini dapat menjadi bukti kecil bahwa mereka masih memiliki semangat menanam. Kegiatan ini diharapkan agar anak-anak dapat mencintai dan menjaga lingkungan hidup sejak usia dini sebagai bentuk kegiatan kecil menyelamatkan bumi melalui kegiatan menanam. Penanaman dengan hidrogel ini juga mempunyai banyak keunggulan antara lain mempunyai nilai artistik dalam menghias ruangan, menyerap radiasi gelombang berbahaya serta mampu menyuplai udara segar didalam suatu ruangan. “mbak mbak tanamanya semakin bagus ya mbak diberi campuran hydrogel yang berwarna-warni” kata cacntik salah satu siswi kelas III MI Thowalib.

 

 

Jentik, Jentik Menggelitik

IMG_4384

Pesagen Bebas Jentik (Genbatik) merupakan suatu program pemberantasan DBD yang diusung oleh KKN TIM 1 Undip 2017 Desa Pesagen, Kecamatan Gunungwungkal Kabupaten Pati, yang mana dilakukannya pencerdasan mengenai penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan pemberantasan sarang nyamuk/psn menggunakan alat penyedot jentik. Demonstrasi alat dilaksanakan pada Kamis, 2 Februari 2017 saat kegiatan salapanan warga di RT 01 RW 02 desa Pesagen yang diikuti oleh seluruh warga di wilayah tersebut.

Kasus Demam Berdarah di wilayah Pesagen pada tahun 2016 didapati sebanyak 30 kasus. Namun belum adanya perhatian khusus dalam mengatasi permasalahan tersebut oleh masyarakat sekitar. Sehingga lebih baik dilakukan pemberantasan sarang nyamuk menggunakan alat penyedok jentik, dimana alat ini dapat memutus daur hidup nyamuk saat menjadi larva/jentik. Pembuatan alat ini cukup sederhana, dengan menggunakan toples bekas, lem lilin, selang bening, dan jaring – jaring kecil.

Tutup toples dilubangi seukuran dengan selang bening, sedangkan pada bagian samping toples dilubangi kira – kira 4cm x 4cm untuk direkatkannya jaring – jaring kecil  menggunakan lem lilin. Cara kerja alat ini dengancara menghisap ujung selang menggunakan mulut kita. Kemudian ujung satunya diarahkan pada air di bak penampungan, setelah air mengalir, ujung yang awalnya digunakan untuk menghisap dimasukan pada lubang bagian tutup toples. Maka air akan tertampung di dalam toples, setelah itu toples diletakan pada ember supaya air yang tertampung di dalam toples tidak terbuang percuma, karena hanya jentik nyamuk yang tertinggal di dalam toples, sedangkan akan mengalir melalui jaring – jaring kecil.

Kegiatan ini mendapat antusias lebih dari ibu – ibu yang mengikuti kegiatan salapanan. Dibuktikan dengan banyaknya pertanyaan yang mereka ajukan. Kegiatan ini diharapkan mampu memberikan pengetahuan kepada warga Desa Pesagen mengenai Penyakit DBD dan melakukan pencegahan dengan Program Pembasmian Sarang Nyamuk menggunakan alat penyedot jentik maupun gerakan 3M Plus.

Tim Kkn Undip Kampanyekan Pentingnya Tumbuh Kembang Anak Melalui Posyandu

 

IMG_3804Sabtu, 14 Januari 2017, TIM I KKN UNDIP Kabupaten pati Kecamatan Gunungwungkal desa pesagen ikut memeriahkan kampanye hidup sehat sejak dini yang diadakan oleh balai desa yang bertempat di balai desa pesagen dan rumah ibu erna selaku kader kesehatan rw setempat. Dalam kegiatan tersebut Tim KKN Undip desa pesagen terbagi menjadi dua, Karena posyandu diadakan di dua tempat. Desa pesagen melaksanakan posyandu secara rutin pada tanggal 14 setiap bulannya. Posyandu di desa pesagen, memang di prakarsai oleh kader kesehatan masing masing rw, namun puskesmas kecamatan juga tidak lepas tangan pada kegiatan tersebut. Setidaknya ada seorang dokter dan beberapa asistennya yang ikut memantau jalannya posyandu yang ada di desa pesagen

Posyandu sendiri sangat penting bagi orang tua yang memiliki anak dengan umur 1-5 tahun, Karena dengan mengikuti posyandu para orangtua akan mengeahui tumbuh kembang anak paling tidak setiap bulan. Apakah anak tersebut masuk golongan garis merah ataupun golongan sehat. Didesa pesagen ini, tumbuh kembang anak dipantau berdasarkan berat badan anak tiap bulan dikaitkan dengan umur yang akan dicocokkan di grafik pertumbuhan anak.

Masyarakat desa pesagen sudah sangat sadar betapa pentingnya memonitoring pertumbuhan anak sejak dini, dibuktikan dengan banyaknya peserta posyandu yang dating, tercatat sebanyak 50 anak mengikuti kegiatan rutin yang diadakan setiap bulan

Kampanye Teknologi, Siswa MI Bikin Lampu Tanpa Kabel!!

Wireless Power Transfer Karya Anak MI Thowalib
Wireless Power Transfer Karya Anak MIThowalib

Tim 1 KKN Universitas Diponegoro Semarang 2017 Kabupaten Pati Kecamatan Gunungwungkal Desa Pesagen pada tanggal 21 Januari 2017 bersama siswa siswi Madrasah Ibtidaiyah (MI) Thowalib melakukan kegiatan workshop membuat kerajinan tangan berupa wireless power transfer. Kegiatan workshop ini dilakukan oleh siswa siswi MI Thowalib kelas VI yang didampingi oleh seorang guru yaitu Bapak Sundoyo. Pihak sekolah menganggap kegiatan ini sangat membuka wawasan siswa siswinya. Terlebih di MI Thowalib sebelumnya belum pernah ada kegiatan seperti ini. “Kita sangat antusias mas terhadap kegiatan ini” kata Sundoyo. Hal ini terbukti ketika diadakan demonstrasi wireless power transfer, baik guru, maupun siswa siswi MI Thowalib sangat terkesima dan banyak mengajukan pertanyaan ketika diberi kesempatan. Hal ini dikarena alat wireless power transfer memiliki sirkuit yang sederhana dan berharga cukup murah. Terhitung untuk keseluruhan biaya yang dibutuhkan dalam membuat sirkui tidak melebihi Rp 5000,-

Wireless power transfer memiliki mekanisme kerja yang sama dengan wireless charger. Namun dengan sirkuit yang lebih sederhana sehingga cocok diterapkan di tingkat sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyah. “kak, kita ingin membuat alat seperti itu” kata Ida salah seorang siswi di kelas  VI ketika dilakukan demonstrasi di dalam kelas. Kegiatan yang dimulai diawal pelajaran ini memakan waktu yang cukup lama, karena siswa siswi MI Thowalib belum pernah diberikan pelajaran mengenai kelistrikan seperti ini. Perlahan tapi pasti, siswa siswi MI Thowalib belajar dengan cepat dan menyelesaikan sirkuit wireless power transfer dengan cepat.

Dengan waktu yang relatif singkat, sekitar 3 jam siswa-siswi MI Thowalib berhasil menyelesaikan project yang diberikan oleh Tim I KKN Undip 2017 Desa Pesagen Kecamatan Gunungwungkal Kabupaten Pati. Walaupun masih ada beberapa kelompok yang belum berhasil. Hal ini dikarenakan terdapat kesalahan teknis. Dari seluruh kegiatan siswa siswi MI Thowalib merasa diuntungkan, karena mendapatkan pengalaman yang sama sekali belum pernah mereka dapatkan. “terimakasih mas dan mbak kkn telah mengajari kami sesuatu yang sangat baru” kata salah satu siswa kelas VI MI Thowalib.

wIRELEESS POWER TRANSFER

Lepas Penat dengan Lapak

Kalau Anda menyusuri jalan sepanjang jalan Parakan ke arah kecamatan Bansari, sesekali akan Anda temukan empat buah tiang berwarna merah yan berdiri di tengah sawah. Keempat tiang itu tersambung oleh kain yang berwarna merah pula di ujungnya. Nuansa yang sering dijumpai ketika tahun baru Imlek. Tapi, tiang itu berdiri bukan karena memeringati tahun baru Imlek, melainkan instrumen utama bermain Lapak.

LAPAK TANUREJOLapak adalah permainan adu cepat burung dara. Caranya dengan melepas burung dara lalu memanggilnya kembali. Burung dara yang paling cepat kembali adalah pemenangnya. Tiang merah atau yang disebut dengan geber (kedua huruf e dibaca seperti pada kata ‘elang’) adalah ancangan garis start sekaligus finish. Pada tiangnya, ada semacam penanda akhir untuk mengetahui berapa catatan waktu yang ditorehkan burung dara yang dilepas.

Permainan lapak ini sangat familiar dikalangan masyarakat kecamatan Bansari termasuk Desa Tanurejo. Di sana, ada geber tinggi yang terpancang di sebuah lahan kosong dekat pemukiman warga seluas 36 meter persegi.  Adanya geber tentu untuk mengakomodir warga yang ingin menghibur diri bermain lapak.  Tak hanya sekadar main-main, bahkan adapula lomba lapak yang digelar resmi oleh masyarakat setempat.

“Kalau lomba itu ya dua ratus burung (yang ikut kompetisi, red.) ada,” tutur Sidi, salah satu tokoh masyarakat desa Tanurejo. Ia mengatakan bahwa kegiatan lapak ini dilakukan setiap sore jika ada yang ingin berlatih. Untuk lomba resmi sendiri digelar ketika cuaca mulai bersahabat yakni sekitar akhir bulan Februari. Meskipun sederhana, namun lapak merupakan salah satu aset budaya masyarakat yang terus lestari dan selayaknya dipertahankan. Dalam era serba teknologi, bermain lapak yang hanya mengandalkan burung dara dan pencatat waktu bisa jadi alternatif untuk melepas beban pikiran.

Kerja Bakti Bangun Masjid Tanurejo Wujud Gotong Royong Warga

Minggu pagi (22/1) seluruh warga Desa Tanurejo berbondong-bondong berjalan beriringan menyambangi masjid, tidak lupa pula setiap masyarakat khususnya laki-laki dan para orang tua membawa buah tangan berupa makanan-makanan sebagai “bancaan” untuk mengawali kegiatan kerja bakti. Kerja bakti ini khusus bertujuan untuk membangun masjid kebanggaan Desa Tanurejo. Tidak Ketinggalan juga mahasiswa – mahasiwi KKN Undip, dengan 5 orang laki-laki dan 3 orang perempuan yang baru 12 hari menempati wilayah Desa Tanurejo bergegas untuk membantu dalam acara tersebut.

Pembangunan masjid di Desa Tanurejo dilaksanakan dengan cara gotong royong/kerja bakti, tidak dengan cara menyewa pemborong sehingga dapat mempertahanan ciri khas desa-desa di Indonesia seperti menjunjung tinggi nilai kemasyarakatan dan kebersamaannya, agar tidak terkikis oleh majunya zaman dan teknologi.

Kerja Bakti kali ini memiliki tujuan untuk membangun masjid kemgambar reportase 4bali, menjadi tempat ibadah yang  lebih layak dan lebih indah. Kegiatan kerja bakti untuk membangun masjid ini baru dilaksanakan untuk pertama kalinya, sehingga diharapkan kedepannya dengan kerja keras bersama masyarakat desa Tanurejo dapat dimanfaatan secara maksimal. Kegiatan pertama yaitu kegiatan untuk membongkaran atap masjid. Terdapat 4 RT yang secara sukarela mengikuti. Sedangkan untu 3 RT sisanya membangun tenda atau biasa dikatakan warga sebagai “tratak” di mushola. Tenda ini dibangun bertujuan sebagai tambahan tempat di mushola karena masjid desa Tanurejo untuk sementara tidak bisa digunakan, sehingga kegiatan ibadah dan yang lainnya menyangkut keagamaan sementara dapat dilaksanakan di Mushola Desa yang telah tersedia.

Kegiatan kerja bakti di masjid dimulai pada pagi hari, yaitu sekitar pukul 8 pagi dan berlangsung kurang lebih selama 4 jam. Ada pula selanjutnya yang yaitu berupa pembongkaran atap genting, penurunan kubah masjid, sampai dengan pembongkaran atap reng dan usuk atap masjid secara gotong royong.

Diharapkan pembangunan kembai masjid yang masih dalam proses ini dapat memberikan manfaat yang baik untuk warga masyarakat Desa Tanurejo maupun masyarakat sekitar.

Desa Tanurejo Gelar Wisuda Pelatihan Sesorah Basa Jawa

TerdengarIMG-20170125-WA0000 lantunan lagu-lagu dangdut Melayu berdentum-dentum pada Rabu (18/1) di sekitar balai desa Tanurejo. Balai desa yang terletak persis di sebelah kantor desa itupun tampak berbeda dari biasanya. Kursi-kursi berwarna biru sudah berjejer rapi di tengah ruangan yang juga berfungsi sebagai lapangan bulutangkis itu. Diatas panggung kecil di dalam balai, kain berbagai warna telah terpasang rapi sebagai dekorasi. Disana terpampang banner bertuliskan “Wisudo Pawiyatan Pambdar Sabdo lan Boso”.

Acara yang diadakan hari itu tak lain dan tak bukan adalah wisuda bagi peserta pelatihan sesorah bahasa Jawa yang sebelumnya telah diadakan selama satu setengah bulan. Program pelatihan yang dicanangkan oleh desa Tanurejo ini melibatkan warga masyarakat Tanurejo sendiri. Hal ini dimaksudkan untuk melestarikan seni public speaking ala Jawa terutama di kalangan generasi muda. Selain itu, kemampuan  ini juga menjadi modal softskill yang berpotensi menambah pendapatan karena sangat diperlukan dalam banyak acara masyarakat seperti pernikahan, khitanan, dan lain sebagainya.

Acara dimulai sekitar pukul sepuluh pagi. Puluhan orang hadir sebagai undangan. Mereka terdiri dari berbagai elemen masyarakat termasuk di dalamnya para wisudawan, ibu-ibu PKK, perangkat desa, Muspika kecamatan Bansari, serta mahasiswa KKN Undip desa Tanurejo. Serangkaian acara dibuka dengan menyanyikan Indonesia Raya dan sambutan dari para pemangku jabatan baik di tingkat desa maupun kecamatan. Kemudian dilanjutkan dengan penyerahan piagam kelulusan kepada 17 orang yang mengikuti pelatihan tersebut.

“Pelatihannya delapan kali pertemuan, (selama) satu setengah bulan,” ujar Sumiyati, kepala desa Tanurejo yang juga tercatat sebagai peserta pelatihan.  Beberapa peserta pelatihan kemudian unjuk gigi menampilkan kebolehannya berpidato bahasa Jawa sekaligus menyanyikan tembang-tembang Jawa setelahnya. Acara yang berlangsung lancar ini kemudian ditutup sekitar pukul tiga sore.

 

 

Tim I KKN Tahun 2017, Baru dan Berbeda

gambar reportase 2Selasa(9/1) lalu, ada yang berbeda dari lapangan Widya Puraya pagi itu. Ribuan mahasiswa memadati lapangan untuk melaksanakan upacara pemberangkatan Tim I Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun 2017. Ada yang berbeda dari pemberangkatan para peserta KKN tahun ini yaitu diantarkannya seluruhmahasiswa KKN Undip di setiap kabupaten menggunakan bus . Selain itu, sepeda motor milik mahasiswa pun ikut difasilitasi pengangkutannya oleh universitas. Edy Prasetyo, ketua P2KKN mengatakan bahwa fasilitasi pemberangkatan yang diadakan merupakan upaya kampus untuk meminimalisir resiko hal-hal yang tidak diinginkan. “Ini rencananya kedepan juga seperti itu. Jadi memang ya, baguslah. Walaupun tidak menjamin seratus persen aman, tetapi kan memperkecil terjadinya angka kecelakaan lalu lintas,” terangnya.

Tim desa Tanurejo dan 12 desa lainnya mendapatkan giliran pemberangkatan tanggal 10 Januari. Belum banyak kegiatan yang dilakukan oleh tim. Pada tahap awal,tim KKN Undip diterima di kantor pemerintah kantor kecamatan Bansari. Acara penyambutan tim KKN dari Undip dihadiri oleh camat yang baru saja dilantik, para kepala desa di kecamatan Bansari dan Dosen DPL KKN.

Acara penyambutan ini dimulai dengan pembukaan upacara penerimaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan dilanjutkan sambutan-sambutan dari DPL dan Camat. Setelah penyambutan selesai, dilakukan penyerahan jaket KKN Undip dari DPL untuk Camat dan dilanjutkan pemakaian topi KKN oleh perwakilan Undip serta diikuti oleh para peserta mahasiswa KKN Undip.

Dalam sambutannya, dosen KKN pun memberikan pesan kepada 107 mahasiswa yang berlokasi di kecamatan Bansari. “Berangkat 107 (orang), pulang jangan 108, jangan nambah,” ujar Muhyidin salah satu dosen KKN yang disambut senyum para peserta upacara. Selama seminggu pertama, agenda tim KKN adalah survei di lokasi KKN menyusul perubahan sistem survei yang memang baru diterapkan tahun ini. Periode KKN pun diperpanjang menjadi 42 hari, seminggu lebih lama dibanding periode KKN tahun-tahun sebelumnya.

Tanurejo: Menghidupkan Desa Melalui Kegiatan Warga

Kamis (12/1) sore, sekumpulan ibu-ibu berseragam hijau muda berkumpul di salah satu rumah di RT 1/RW 1 Desa Tanurejo, kecamatan Bansari kabupaten Temanggung. Sekitar tiga puluh anggota Dasa Wisma datang menghadiri pertemuan itu. Acara pertemuan yang berlangsung selama dua jam itu diisi dengan membaca surat Yaasin dan Tahlil. Memang, ibu-ibu rutin melangsungkan acara itu sebagai bagian dari komunik
asi sosial mereka.

Acara Dasagambar reportase 1 Wisma semacam itu tidak hanya ada di satu RT saja, melainkan merata di masing-masing RT desa T
anurejo. “Iya, kalau disini acara dasa wisma digabung sama yasinan,” ujar bu Maryam selaku ketua Dasa Wisma RT 1. Lain lagi di RT 4, Dasa Wisma
dilaksanakan terpisah dengan acara yasinan. Pertemuan formal dilaksanakan satu bulan sekali, namun pengajian rutin diadakan tiap hari Kamis.

Desa Tanurejo memiliki beberapa perkumpulan yang mencakup seluruh segmen masyarakat baik di kalangan bapak-bapak, ibu-ibu, serta para pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna. Selain itu, terdapat pula perkumpulan petani yang berada dalam satu wadah yaitu Gabungan Kelompok Tani atau yang biasa disebut Gapoktan. Dalam berbagai wadah tersebut, masyarakat dapat berkegiatan sekaligus menguatkan ikatan sosial.

Hal itu diamini oleh kepala desa Tanurejo sendiri, Sumiyati. Menurutnya, desa Tanurejo adalah salah satu desa yang paling aktif berkegiatan. “Meskipun desa kita kecil, tapi kegiatan sosial kita salah satu yang paling aktif di kecamatan Bansari… Jadi tidak ada perkumpulan yang cuma (ada) namanya,” terang ibu dua anak ini.

Tak hanya kegiatan formal di bawah naungan lembaga, namun ada pula kegiatan-kegiatan non formal yang diikuti oleh masyarakat. Sebagai contoh, beberapa anak mengikuti pelatihan menari yang ditangani langsung oleh Kepala Desa. Ini adalah bukti bahwa desa Tanurejo adalah desa yang hidup dan dinamis.