Home » Lokasi KKN » Kab. Pati

Category Archives: Kab. Pati

Semarak EXPO KKN Tim I UNDIP Tahun 2019 di Kecamatan Gunungwungkal

Pesta Budaya EXPO KKN Tim I UNDIP 2019 yang digelar pada Kamis, 14 Februari 2019 berlangsung dengan meriah. Kantor Kecamatan Gunungwungkal dibanjiri oleh masyarakat yang tak hanya dari Kecematan Gunungwungkal saja, bahkan kecamatan lainpun ikutserta meramaikan acara tersebut baik dari kalangan muda maupun dewasa seperti Kecamatan Dukuhseti dan Kecamatan Margoyoso. Acara tersebut dihadiri oleh Bupati Kabupaten Pati Haryanto, Perwakilan Rektor Universitas Diponergoro, Camat Gunungwungkal serta perangkat lainnya yang sangat mengapresiasi acara tersebut.

IMG20190214105408

Pada awal kegiatan ini dimulai oleh sambutan dari Bupati Kapubaten Pati, Perwakilan Rektor Unversitas Diponegoro serta ketua acara EXPO tersebut. Usai sambutan itu terdapat acara pembagian hadiah pada juara lomba voli yang dilaksanakan 10 Februari 2019 lalu dilanjutkan dengan pembagian bibit buah oleh Bupati Kabupaten Pati Haryanto. Harapannya dengan pembagian bibit diseluruh desa Kecamatan Gunungwungkal tersebut dapat meningkatkan ekonomi serta potensi alam yang bermanfaat.

pencak-silat

Acara EXPO tersebut diramaikan oleh penampilan kesenian di beberapa desa Kecamatan Gunungwungkal seperti pencak silat, grup rabana, barongsai dan lain-lain. Mahasiswa KKN pun ikut meramaikan dengan menyanyikan beberapa lagu bersama masyarakat. Pada sekitar lokasi terdapat banyak stand yang berisi UMKM unggulan setiap desa, tak lupa dengan program mahasiswa KKN yang telah mengabdi lebih dari sebulan. Dalam stand Desa Sidomulyo sendiri selain menyuguhkan program pengabdian, mahasiswa menunjukan hasil UMKM desa yang terkenal yakni Kopi Jowo serta Temulawak. Banyak sekali masyarakat yang antusias melihat program pengabdian mahasiswa dan UMKM disana. Bahkan Bupati Kabupaten Pati Haryanto ikut serta menapriasi program pengabdian mahasiswa yakni Coffee and Care pemanfaatan ampas kopi menjadi sabun. Semoga Desa Sidomulyo dan seluruh desa di Kecamatan Gunungwungkal lainnya semakin makmur dan sejahtera.

Editor: Ratih Indraswari, SKM, M.Kes

 

Coffee and Care: Sabun Ampas Kopi dari Desa Sidomulyo

Kopi merupakan minuman yang sangat terkenal di Pati, begitupula di Desa Sidomulyo. Produksi kopi disana berjalan secara terus menerus, Bahkan hingga kini Desa Sidomulyo memiliki UMKM yang disebut dengan Kopi Jowo. Konsumsi kopi pada masyarakat disana yang cukup rutin, membuat banyaknya ampas kopi yang terbuang. Maka dari itu, mahasiswa KKN Tim I UNDIP tahun 2019 memberikan inovasi dengan memanfaatkan ampas kopi masyarakat menjadi sabun yang dapat dipakai.

1550447433414
Pembuatan Sabun Ampas Kopi yang diberi nama “Coffee and Care” ini menyasar kepada UMKM Kopi Jowo serta Kelompok Tani Mulia Mandiri yang diberi respon positif. Untuk proses pembuatannya cukup mudah. Bahan yang dibutuhkan adalah ampas kopi yang tidak tercampur gula, VCO, minyak zaitun, minyak sawit, soda api, aquades dan essensial oil. Langkah awal, menimbang semua bahan yang digunakan sesuai takaran. Kemudian, Minyak zaitun, minyak sawit dan VCO dimasukan kedalam wadah lalu dicampur. Pada tempat yang terpisah campurkan soda api dengan aquades dan aduk hingga larut.  Ketika soda api dan aquades larut akan menghasilkan suhu yang tinggi, maka dari itu campuran minyak zaitun, minyak sawit dan VCO dipanaskan secara manual sehingga diantara kedua wadah itu memiliki suhu yang hampir sama. Kemudian, jadikan satu dari kedua olahan tersebut. Tak lupa campurkan essensial oil dan ampas kopi lalu aduk hingga merata. Tuangkan adonan tersebut kepada cetakan yang telah disiapkan dan dinginkan hingga mengeras.

IMG20190212151050

IMG20190212150929

Meski membutuhkan waktu kurang lebih 3 hari dalam pembuatannya, inovasi ini berhasil menarik masyarakat. Bahkan, Bupati Kapubaten Pati Haryanto turut mengapresiasi inovasi ini, hal tersebut diucapkan ketika pembukaan EXPO KKN UNDIP di Kecamatan Gunungwungkal. Dengan Coffe and Care atau sabun ampas kopi ini diharapkan dapat meningkatkan perekonomian Desa Sidomulyo

 

Editor: Ratih Indraswari, SKM, M.Kes

Intip Keseruan Turnamen Voli KKN UNDIP 2019 di Desa Sidomulyo

Sorak-sorai dan teriakan semangat menyelimuti suasana turnamen voli yang diselenggarakan oleh mahasiswa KKN UNDIP. Acara yang dilaksanakan Minggu 10 Februari 2019 itu berlangsung sangat ramai dan masyarakat tampak antusias. Keberhasilan kegiatan ini tak luput dari kerja keras Karang Taruna Desa Sidomulyo yang kebetulan menjadi tuan rumah dalam turnamen tersebut.

IMG20190210115701

Turnamen voli ini diikuti oleh 15 desa dari seluruh Kecamatan Gunungwungkal, dimana memang permainan voli dari Kecamatan Gunungwungkal sangatlah hebat dan cukup terkenal di Kota Pati. Sehingga seluruh pemain di desa tersebut sangatlah bagus, membuat masyarakat terus mengikuti keberlangsungan acaranya. Beberapa petinggi seperti Bapak Kepala Desa Sidomulyo beserta perangkat desa lainnya, Pak Camat Kecamatan Gunungwungkal dan Pak Adi selaku Dosen Pembimbing Lapangan Kabupaten Pati turut hadir dalam kegiatan ini. Acara tersebut berlangsung dari pukul 8 pagi hingga pukul 1 dini hari. Meski sampai malam, acara ini tidak menyurutkan semangat baik dari pemain maupun penonton.

IMG20190210141024

Turnamen ini berhasil membawa 4 desa ke babak semifinal yaitu Desa Perdopo, Desa Bancak, Desa Jrahi dan Desa Jepalo. Pertandingan untuk memperebutkan gelar juara berlangsung cukup sengit hingga di babak final berhasil menyisakan Desa Jrahi dan Desa Bancak untuk bertanding menjadi yang terbaik. Hasil akhir dari pertandingan ini yaitu Juara 1 Desa Jrahi, Juara 2 Desa Bancak, Juara 3 Desa Perdopo dan Juara 4 Desa Jepalo. Semua pemain voli tampak hebat dan semangat baik yang menang maupun kalah. Hal ini dikarenakan meski saling lawan satu sama lain, pemain voli tersebut sangat senang dapat berkumpul dengan pemain voli lainnya.

 

Mengetahui lebih dalam terkait tim voli di Kecamatan Gunungwungkal, ternyata kegiatan voli disini telah memiliki suatu organisasi yang disebut dengan Guyub Rukun. Pada awalnya harapan dari kegiatan ini adalah untuk menjadikan remaja yang lebih sportif dan saling rukun satu sama lain. Mengingat saat ini remaja sudah mulai berkecimpung dengan teknologi, adanya kelompok itu dapat mengurangi kebiasaan bermain gadget serta membiasakan untuk berkumpul bersama teman-teman ujar Pak Agung salah satu bagian dari Guyub Rukun. Semoga dengan kegiatan ini dapat meningkatkan permain voli di Guyub Rukun serta dapat mempererat hubungan silaturahmi antar pemain.

Editor: Ratih Indraswari, SKM, M.Kes

Kini Ada TOSIBAH di Sidomulyo

Masyarakat Desa Sidomulyo kini semakin dimudahkan saat ingin membuang sampah. Sekarang di beberapa tempat umum terutama di daerah Dukuh Pitro dan Dukuh Jati terdapat tempat sampah untuk masyarakat. Tempat sampah tersebut diinisiasi oleh mahasiswa KKN Tim I UNDIP Desa Sidomulyo tahun 2019.

20190207235748

TOSIBAH (Tong Siap Buang Sampah) adalah nama tempat sampah yang dibuat oleh mahasiswa beserta karang taruna disana. Pembuatan TOSIBAH ini diawali oleh banyaknya tong bekas penampungan aspal yang tidak terpakai. Di samping itu, di wilayah Desa Sidomulyo sendiri tidak ditemukan tempat sampah sepanjang jalan. Hal ini mengakibatkan banyaknya sampah yang ditemukan berserakan. Terutama di tempat umum seperti tempat ibadah, SD dan TPQ. Maka dari itu, dimanfaatkanlah tong bekas aspal tersebut menjadi tempat sampah yang bagus dan menarik terutama untuk anak-anak agar membuang sampah di tempatnya.

Pembuatan tempat sampah diawali dengan memotong tong tersebut menjadi ukuran sedang dengan alat pemotong besi. Kemudian, tong tersebut diamplas agar karat-karat menghilang sehingga cat tidak mengelupas. Setelah itu, tong tersebut dicat dasar warna putih untuk menghilangkan warna hitam akibat bekas aspal. Saat dirasa sudah kering remaja Karang Taruna Sidomulyo mulai melukis gambar di tong tersebut. Pembuatan TOSIBAH ini berlangsung selama 1 minggu. Meski begitu kegiatan ini tidak menyurutkan semangat pemuda Desa Sidomulyo. Diketahui bahwa karang taruna Desa Sidomulyo sangat gemar sekali dalam melukis  sehingga bukan masalah bagi para pemuda dalam membuat TOSIBAH.

Masyarakat sangat mengapresiasi tempat sampah tersebut. Hal ini terbukti dengan bersihnya lingkungan sekitar serta terpakainya TOSIBAH dengan sampah. Adanya tempat sampah ini diharapkan Desa Sidomulyo dapat memanfaatkan kembali sampah yang ada, serta dapat meningkatkan kesehatan lingkungan Desa Sidomulyo.

Editor: Ratih Indraswari, SKM, M.Kes

Kader PKK Desa Gunungwungkal Peduli Sampah

Image and video hosting by TinyPic

Gunungwungkal – Senin, 4 Februari 2019 kader PKK di Desa Gunungwungkal mengikuti kegiatan pelatihan pengelolaan sampah yang diselenggarakan oleh mahasiswa KKN UNDIP. Berbarengan dengan kegiatan rutin PKK desa yang jatuh pada tanggal 4 setiap bulannya, mahasiswa melakukan pelatihan pengelolaan pengorganisasian bank sampah, sampah organik dan sampah anorganik. Kegiatan dihadiri oleh ketua PKK yaitu ibu kepala desa Gunungwungkal ibu Sukasri serta jajaran kader PKK lainnya. Kegiatan dibuka oleh sambutan dari ketua PKK yang memberikan pengarahan kepada semua ibu-ibu yang datang mengenai hasil rapat koordinasi dengan PKK kecamatan tentang bantuan untuk warga miskin, sosialisasi penggunaan garam beriodium dan penyelesaian administrasi PKK sebagai persiapan pembinaan PKK dari Kabupaten. Setelah sambutan dan penyelesaian pembayaran administrasi PKK, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan yang dilakukan oleh mahasiswa.

Pelatihan dibuka dengan materi pengorganisasian bank sampah yang harapannya bisa menjadi cikal bakal terbentuknya organisasi bank sampah desa Gunungwungkal yang diprakarsai oleh kader PKK. Kader PKK nampak antusias untuk mengikuti sesi materi pengorganisasian bank sampah yang disampaikan oleh mahasiswa kesehatan masyarakat dan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Meteri selanjutya yang diajarkan dalam pelatihan adalah pengolahan sampah organik berupa daun dan sampah sayur serta buah menjadi pupuk kompos dengan teknik keranjang Takakura yang berasal dari Negara Jepang. Pelatihan Keranjang Takakura disampaikan oleh mahasiswa dari jurusan sastra Jepang dengan langsug membawa prototype dari Keranjang Takakura. Selain peyampaian materi tentang Keranjang Takakura, para kader PKK juga diajarkan langsung cara membuat pupuk kompos dari Keranjang Takakura dan beberapa ibu-ibu langsung ikut mencoba mempraktekkan langsung.

Materi terkahir yang disampaikan adalah mengenai pengolahan sampah anorganik sampah menjadi ecobrick yang dapat dimafaatkan menjadi bangunan, bangku ataupun meja. Materi ecobrick ini disampaikan oleh mahasiswa dari jurusan kesehatan masyarakat yang langsung membawa contoh hasil ecobrick yang berasal dari sampah di desa Gunungwungkal. Pelatihan ecobrick ini mendapat respon yang positif dari para kader dan ketua PKK dengan ikut mempraktekkan langsung cara membuat ecobrick dengan memasukkan sampah-sampah plastik ke dalam botol plastik yang nanti dapat digunakan sebagai bata untuk bangunan. Pelatihan yang dilaksanakan oleh mahasiswa mendapat respon yang sangat positif dari para kader dan akan segera diparktekan di rumah masing-masing dan di wilayah desa Gunungwungkal. Kegiatan PKK dan pelatihan ditutup dengan kesimpulan yang disampaikan oleh ketua PKK yang akan melakukan kegiatan pembuatan ecobrick kepada para siswa di SD dan dihimbau para ibu-ibu membuat keranjang Takakura di rumah masing-masing.

Editor: Ratih Indraswari, SKM, M.Kes

Mahasiswa KKN Undip Desa Gadu Ajak Siswa SD Menggosok Gigi dengan Baik dan Benar

20190201-091349

Gigi merupakan salah satu organ penting dalam proses pencernaan makanan pada manusia. Selain untuk mempermudah proses pengolahan makanan dengan cara menggilas dan menghaluskan makanan menjadi berukuran lebih kecil, gigi yang terletak di dalam organ mulut ini juga memiliki enzim amilase yang berfungsi mengubah karbohidrat (amilum) menjadi glukosa dan fruktosa yang dibutuhkan sebagai sumber energi dalam proses metabolisme tubuh. Dikarenakan peran gigi yang begitu penting bagi tubuh manusia ini maka sangat diperlukan perawatan yang baik terhadap organ gigi ini.

Merawat gigi merupakan pekerjaan yang mudah dan sederhana namun terkadang sering disepelekan. Gigi yang tidak dirawat dengan baik dapat menyebabkan bau mulut, gusi berdarah, gigi berlubang & keropos, hingga gigi menjadi rusak. Banyak orang yang harus merelakan giginya dicabut dan harus menggunakan gigi palsu. Banyak orang mulai dari usia tua, dewasa, hingga anak muda tersiksa karena harus menggunakan gigi palsu akibat gigi mereka rusak. Oleh karena itu, pemberian pengetahuan tentang perawatan gigi terutama dengan menggosok gigi yang baik dan benar diperlukan sejak usia dini.

Dengan permasalahan tersebut, mahasiswa KKN Undip pada hari Jumat Pagi, 1 Februari 2019 pukul 09.00 bekerjasama dengan pihak sekolah SDN 01 Gadu melakukan edukasi tentang cara menggosok gigi yang baik dan benar kepada para siswa SDN 01 Gadu. Kegiatan ini diikuti oleh siswa kelas IV, V, dan VI SDN 01 Gadu yang berjumlah 54 siswa. Kegiatan yang dilaksanakan di lapangan olahraga SDN 01 Gadu ini diawali dengan pemberian materi pengenalan jenis dan fungsi gigi serta pentingnya perawatan gigi yang disampaikan oleh Fitria Qotrotun Nada. Setelah materi tersebut dilanjutkan pemberian materi tentang langkah menggosok gigi yang baik dan benar yang disampaikan oleh Delima Budiman. Materi ini lebih mudah dipahami karena menggunakan alat peraga gigi manusia yang dipinjamkan oleh Puskesmas Kecamatan Gunungwungkal. Setelah pemberian contoh ini dilanjutkan praktek menggosok gigi secara langsung oleh para siswa SDN 01 Gadu dengan dibimbing oleh para mahasiswa KKN Undip Desa Gadu. Para siswa yang sudah menyiapkan perlengkapan menggosok gigi dan air kumur setelah hari sebelumnya diberikan informasi dari Para Guru SDN 01 Gadu sangat antusias dalam mengikuti kegiatan ini.

Selain antusiasme para siswa, tanggapan yang positif juga diberikan dari pihak sekolah SDN 01 Gadu atas berlangsungnya kegiatan ini. Pihak Sekolah yang diwakili Bapak Suparman, S.Pd SD selaku kepala sekolah SDN 01 Gadu ini memang sejak lama telah khawatir terhadap pola kesehatan gigi para siswanya, karena pihak sekolah sudah menyediakan fasilitas tempat cuci tangan dan gosok gigi di setiap kelas namun tidak dimanfaatkan dengan baik oleh para siswa. Oleh karena itu, harapan dari pihak sekolah setelah kegiatan ini dilakukan para siswa dapat lebih rajin dalam merawat gigi dan dapat memanfaatkan secara baik fasilitas yang disediakan oleh sekolah. Kegiatan ini dapat terbilang sukses dibuktikan dengan para siswa yang sudah dapat menggosok gigi dengan baik dan benar. Kegiatan ini ditutup dengan pemberian hadiah bagi siswa yang berani dan secara benar menerangkan jenis dan fungsi gigi serta langkah menggosok gigi dengan baik dan benar, serta foto bersama dengan seluruh siswa peserta kegiatan. ( M Muhyidin & Nickzad Pratama)

 

Editor: Ratih Indraswari, SKM, M.Kes

Mahasiswa KKN Undip Ubah Nasi Basi Jadi Pupuk Cair

Whats-App-Image-2019-02-03-at-23-34-05

Gunungwungkal – Mahasiswa KKN Undip berhasil mengubah nasi basi menjadi pupuk cair. Produk ini dinamakan “Punas”. Pemanfataan limbah rumah tangga menjadi produk bermanfaat tersebut, Rabu (30/1/2019) kemarin disosialisasikan di Balai Desa Ngetuk, Kecamatan Gunungwungkal, Kabupaten  Pati yang dihadiri perangkat desa dan ibu-ibu PKK.

Pemateri (Wuni Sa’adah) yang merupakan mahasiswa KKN ini menjabarkan model pengolahan nasi basi menjadi pupuk cair. Mulai dari cara pembuatan yakni nasi basi dimasukkan ke dalam toples selama 5 hari hingga warna nasi berubah warna menjadi kuning atau kemerahan. Nasi yang berada di dalam stoples ditutup tidak terlalu rapat, supaya gas yang terbentuk dalam proses fermentasi dapat keluar dan terjadi sirkulasi udara. Kemudian rebus 1 liter air dengan 250 gram air gula. Setelah air gula tersebut dingin, tuangkan air gula ke dlaam toples nasi basi. Aduk hingga tercampur merata. Campuran air gula dan nasi basi dibiarkan selama seminggu. Air gula berfungsi sebagai media makan mikroorganisme. Selanjutnya, saring campuran tersebut. Langkah terakhir, larutan yang dihasilkan dari penyaringan dicampur dengan air dan pupuk cair siap digunakan. Keberhasilan pupuk cair bisa dicium dari baunya yang manis seperti tape, sedangkan pupuk yang gagal baunya seperti comberan.

Whats-App-Image-2019-02-04-at-00-03-43

Alasan menggunakan nasi basi sebagai pupuk karena nasi banyak dijumpai di setiap rumah. Selain itu, nasi basi mengandung MOL (Mikro Organisme Lokal) yang tinggi, MOL inilah yang dipergunakan untuk mengganti media bakteri seperti EM4. MOL tidak berbahaya bagi hewan dan tumbuhan, dan lebih aman dibanding pupuk kimia lainnya.

Sosialisasi yang bertujuan mengenalkan model pemanfataan sampah/limbah rumah tangga kepada masyarakat ini mendapat respon yang positif. Terbukti dari permintaan sampel Punas oleh ibu-ibu PKK. Pupuk ini bisa dimanfaatkan masyarakat terutama ibu-ibu sebagai pemupuk tanaman di pekarangan atau tanaman hidroponik.

Editor: Ratih Indraswari, SKM, M.Kes

Pelatihan Pemanfaatan MIJEL (Minyak Jelantah) sebagai Minyak Siap Pakai Kembali dan Sabun Cuci Tangan

Penggunaan minyak goreng di Indonesia merupakan suatu kebutuhan sebagai bahan utama yang digunakan untuk memasak. Seringnya masyarakat dalam mengkonsumsi minyak goreng menghasilkan minyak jelantah yaitu minyak yang digunakan secara berulang kali. Minyak jelantah dapat diketahui dengan perubahan warna, bau dan juga rasa pada minyak tersebut. Padahal penggunaan minyak jelantah sangat tidak baik bagi kesehatan tubuh. Minyak jelantah dapat memicu terjadinya stroke, penyakit jantung koroner hingga kanker.

Dari informasi tersebut mahasiswa KKN UNDIP memiliki solusi lain dengan menjernihkan minyak jelantah tersebut menjadi minyak siap pakai kembali. Sabtu 26 Januari 2019 telah terlaksana kegiatan sosialisasi serta pelatihan terkait pemanfaatan kembali minyak jelantah. Mahasiswa menjelaskan dimulai dari apa itu minyak jelantah, apa bahaya minyak jelantah untuk kesehatan hingga pemanfaatan kembali minyak tersebut. Dalam sosialisasi ini mahasiswa juga menekankan bahwa minyak goreng hanya dapat digunakan 2-3 proses menggoreng.

164219

Salah satu mahasiswa KKN UNDIP melakukan pelatihan pada Kelompok Tani Mulia Lestari Desa Sidomulyo dalam menjernihkan minyak jelantah hingga dapat digunakan untuk memasak kembali. Cara penjernihan minyak jelantah sangatlah mudah. Prosesnya hanya membutuhkan arang kayu, kertas saring serta minyak jelantah itu sendiri. Langkah awal yang dilakukakan adalah tumbuk arang kayu dan taburkan pada minyak jelantah. Aduk minyak tersebut secara merata, endapkan selama kurang lebih 30 menit lalu saring. Media arang kayu berfungsi sebagai absorbsi yang mana akan mereduksi zat-zat berbahaya sehingga minyak dapat digunakan untuk memasak kembali.

164220
Disamping itu mahasiswa KKN UNDIP memiliki solusi lain dalam memanfaatkan minyak jelantah tersebut menjadi sabun cuci tangan.  Langkah yang dilakukan, panaskan soda api (NaOH) kedalam air di dalam botol plastik kecil. Campurkan minyak jelantah dua kali lebih banyak dari soda api kemudian aduk sampai mengental. Tambahkan pewangi pakaian serta pewarna makanan sesuai selera. Diamkan 1-2 hari hingga mengeras dan jadilah sabun cuci tangan.

Ibu-ibu di Kelompok Tani Mulia Lestari tampak antusias dalam mengikuti kegiatan tersebut. Sebab ini merupakan pengalaman pertama ibu-ibu dalam memanfaatkan minyak jelantah. Semoga ilmu yang diberikan dapat bermanfaat untuk masyarakat Desa Sidomulyo.

Editor: Ratih Indraswari, SKM, M.Kes

Ayo SADARI (Periksa Payudara Sendiri) Sebelum Terlambat

Kanker payudara merupakan salah satu penyakit tidak menular yang cukup banyak terjadi di Indonesia. Diketahui beberapa warga di Desa Sidomulyo sudah ada yang terkena kanker payudara. Munsarofah, salah satu kader kesehatan disana mengatakan bahwa beberapa warganya ada yang pernah terkena kanker payudara. Maka dari itu melakukan pemeriksaan payudara sendiri atau SADARI menjadi langkah awal mendeteksi kelainan pada payudara.

Senin, 28 Januari 2019 mahasiswa tim 1 KKN Universitas Diponegoro mengadakan sosialisasi sekaligus pelatihan terkait SADARI kepada ibu-ibu kader kesehatan di Desa Sidomulyo. Dalam kegiatan tersebut mahasiswa menjelaskan dimulai dari apa itu kanker payudara, apa saja penyebabnya hingga bagaimana cara pencegahannya.

164215

Mahasiswa mengajak ibu-ibu kader kesehatan untuk mempraktikan 6 langkah dalam melakukan SADARI. Diawali dengan melihat bentuk payudara dan puting di depan cermin sembari mengangkat tangan serta berkacak pinggang hingga meraba adanya benjolan di sekitar payudara atau tidak. Akan lebih mudah bila melakukan SADARI sehabis mandi. Perlu ditekankan bahwa dalam melakukan SADARI terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, SADARI baik dilakukan setiap bulan 7-10 hari haid pertama. Kedua, SADARI tidak dapat dilakukan pada saat ibu menyusui. Ketiga, benjolan tidak selalu ditemukan di payudara tapi benjolan tersebut dapat ditemukan di ketiak. Terakhir, tidak semua benjolan itu kanker payudara meski begitu, ada beberapa benjolan yang tetap harus diambil.

164218

 

Selain itu, mahasiswa juga menjelaskan terkait apa saja penyebab terkenanya kanker payudara. Diketahui salah satu diantaranya adalah radiasi pada handphone. Kebiasaan orang-orang yang sering menaruh handphone di saku dada dapat mempengaruhi terkena kanker payudara, yang mana ternyata kanker payudara tidak hanya dialami perempuan saja namun laki-laki pun juga dapat terkena kanker payudara. Sehingga kebiasaan orang-orang dalam hal tersebut dapat untuk tidak dilakukan. Bahkan akan lebih baik lagi kalau masyarakat dapat menaruh handphone tersebut di dalam tas sebagai upaya pencegahan terkena kanker payudara.

Kegiatan ini sangat direspon positif oleh ibu-ibu kader Desa Sidomulyo. Terbukti dengan antusiasnya warga yang bertanya bahkan menceritakan pengalamannya dalam melakukan pemeriksaan kesehatan. Dengan adanya kegiatan ini diharapakn ibu-ibu kader dapat membagi informasi ini kepada masyarakat serta mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Editor: Ratih Indraswari, SKM, M.Kes

Focus Group Discussion Desa Gunungwungkal dalam Rangka Memajukan Potensi Wisata Desa

IMG-3683

Selasa, 29 Januari 2019 balai desa Gunungwungkal ramai dengan kehadiran perangkat desa, pengurus makam Sentana Gunungwungkal, kader PKK dan Bidan Desa. Kehadiran mereka dalam rangka memenuhi undangan dari mahasiswa KKN yang mengadakan kegiatan Focus Group Discussion dengan tema “Desa Wisata Berbasis Budaya dan Kesehatan Lingkungan”. FGD ini diadakan dalam rangka memajukan potensi wisata desa berupa Makam Sentana yang ada di Desa Gunungwungkal. Kegiatan FGD diharapkan dapat menyatukan persepsi dari perangkat desa, pengurus makam, kader PKK dan bidan desa sehingga dapat menjadikan Makam Sentana Gunungwungkal menjadi objek wisata religi yang dikenal luas oleh masyarakat.

Forum tersebut diinisiasi oleh Prof. Dr. Heri Sutanto, S.Si, M.Si dari Fakultas Sains dan Matematika, Rabith Jihan Amaruli, SS, M.Hum dari Fakultas Ilmu Budaya dan Ratih Indraswari, SKM, M.Kes dari Fakultas Kesehatan Masyarakat dengan melihat potensi sumber daya alam, sumber daya manusia dan akses menuju Desa Gunungwungkal yang sebenarnya sudah tersedia dengan baik hanya kurang tertata pengelolaan dan perawatannya. Sehingga pokok bahasan yang diangkat dalam FGD adalah perawatan dan pengelolaan makam dengan melibatkan pihak pengurus makam dan perangkat desa sebagai pelaksana pemerintahan desa.

FGD dimulai pukul 10.00 WIB dan peserta nampak antusias untuk mengikuti serangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan. Kegiatan FGD dihadiri oleh 19 orang dengan rincian 6 orang berasal dari pengurus makam Sentana, 10 orang dari perangkat desa termasuk kepala desa, 1 orang dari kader PKK, 1 orang Bidan Desa dan 1 orang dari perwakilan BPD. Moderator dalam FGD berasal dari perwakilan mahasiswa yang membahas beberapa pokok bahasan yaitu identifikasi potensi dan permasalahan wisata religi Makam Sentana, Perumusan solusi bersama, Komitmen implementasi Desa Wisata Berbasis Budaya dan Kesehatan Lingkungan Desa Gunungwungkal.  Jalannya kegiatan FGD yang melibatkan beberapa unsur masyarakat tersebut berjalan sangat kondusif  dan berhasil merumuskan beberapa kesepakatan bersama yang dapat mendukung kemajuan potensi wisata Makam Sentana Gunungwungkal.

IMG-3816

Bahasan yang diangkat dalam FGD yang pertama adalah tentang pihak mana yang seharusnya mengelola makam Sentana ini, dan dari kedua belah pihak baik pengurus makam maupun perangkat desa sepakat untuk secara bersama-sama mengelola makam dan memajukan makam sebagai potensi wisata desa. Dari pihak pengurus makam meminta dari perangkat desa untuk mendukung perkembangan infrastruktur dan sarana prasarana di makam termasuk yang saat ini paling penting adalah terkait jalan menuju makam yang masih jauh dari kata layak. Masalah yang perlu dibahas bersama selain sarana dan prasarana adalah terkait pengelolaan sampah yang nantinya akan menjadi masalah jika tidak dikelola dengan baik. Dari pihak BPD meminta arahan dari Pihak Undip terkait konsep desa wisata yang akan diangkat. Narasumber menyebutkan bahwa konsep dasar dari desa wisata seharusnya dimulai dengan kegiatan penyusunan sejarah dan asal usul makam serta desa Gunungwungkal sendiri. FGD ditutup dengan penandatangan bersama berita acara yang dijadikan sebagai sebuah bukti komitmen baik dari pihak pengurus makam dan perangkat desa untuk secara bersama-sama memajukan bersama wisata desa makam Sentana Gunungwungkal.

Editor: Ratih Indraswari, SKM, M.Kes