Home » Lokasi KKN » Kab. Pemalang

Category Archives: Kab. Pemalang

Mahasiswa KKN Tim I Rancang Alat Fog Catchers (Penangkap Kabut) Dalam Upaya Mengatasi Kesulitan Air Menjelang Musim Kemarau Di Desa Jurangmangu

fog

Foto 1. Pengenalan Alat Fog Catchers (Penangkap Kabut) Bersama Bapak Wakil Rektor 3 Universitas Diponegoro

Kab. Pemalang Kecamatan Pulosari, Jurangmangu (9/2) – Mahasiswa KKN UNDIP TIM I 2020 melaksanakan kegiatan expo pada acara  Pulosari Development Festival (PDF) yang dihadiri wakil rektor 3 Universitas Diponegoro yaitu  Bapak Dr. Darsono, S.E., Akt., MBA. Perancangan Alat Fog Catchers ini dipilih karena warga Desa Jurangmangu sendiri kesulitan dalam memperoleh sumber air lain ketika musim kemarau tiba. Desa Jurangmangu mendapatkan sumber air dari Kota Tegal dan masih menampung air hujan, ketika musim kemarau tiba sumber air dari Kota Tegal tidak banyak dan tidak dapat memenuhi kebutuhan air warga.

Mata pencaharian sebagian besar dari warga Desa Jurangmangu adalah petani. Ketika musim kemarau tiba ketersediaan air menjadi minim, akibatnya akan menghambat pertanian dan peternakan warga dikarenakan tanaman sayuran dan hewan ternak membutuhkan air untuk tumbuh dengan optimal.

fog2

Foto 2. Pemasangan Alat Fog Catchers (Penangkap Kabut) Di Bukit Shubuh

Desa Jurangmangu dekat dengan Gunung Slamet dan Bukit Shubuh, kedua tempat ini memiliki potensi kabut yang tinggi. Penelitian ini dilakukan pada musim hujan, kabut muncul setiap hari pagi, siang, sore maupun malam. Pada saat musim kemarau biasa terjadi pada sore hari menjelang gelap, dan pada saat musim hujan biasa terjadi pada pukul 11.00. Air yang terkandung pada kabut yang muncul tinggi, terbukti ketika melewati kabut, rambut dan pakaian akan menjadi basah.

fog3

Foto 3. Alat Fog Catchers (Penangkap Kabut)

Potensi kabut begitu besar, namun belum terdapat teknologi untuk bisa memanfaatkannya. Dari kondisi kekeringan dan potensi kabut inilah dipilih program untuk menerapkan teknologi Fog Catchers (penangkap kabut) yang mampu menangkap dan mengumpulkan air dalam kabut sehingga bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan warga Desa Jurangmangu. Alat Fog Catchers yang telah dibuat dan diteliti dapat menghasilkan 0,5 – 0,8 L / m2 jaring dalam waktu 3 jam. Penerapan teknologi ini tidak bisa dilakukan secara serta merta karena diperlukan penelitian awal dan pengembangan agar ketika teknologi ini benar – benar diterapkan mampu bekerja secara optimal.

Kami berharap dengan adanya alat Fog Catchers ini dapat memberikan solusi dalam membantu warga Desa Jurangmangu dalam mencari sumber air lain ketika musim kemarau tiba dan pengembangan teknologi tepat guna ini sangat diperlukan sehingga dapat menangkap kabut secara maksimal dan menghasilkan air yang melimpah.

(Reporter: Mahasiswa KKN UNDIP TIM I 2020 Jurangmangu)

Editor:

Dr. Ir. Suzanna Ratih Sari, M.M., M.A.

Eva Annisaa, S.Farm., Apt., M.Sc.

Yanuar Yoga Prasetyawan, M.Hum.

Mahasiswa Undip Latih Cara Membuat Pestisida dari Bawang Putih dan Obat Nyamuk dari Serai

ARNOLD SABTU (2)

Gambar 1. Suasana Pelatihan Pembuatan Pestisida dan Obat Nyamuk dari Bahan Alami

Pemalang (25/1). Mahasiswa Undip jurusan Teknik Kimia, Arnold Dominggo Simanjuntak melaksanakan program “Pelatihan Pembuatan Pestisida dari Bawang Putih dan Obat Nyamuk dari Serai” di balai desa Pagenteran, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang. Kegiatan pelatihan dihadiri oleh 20 ibu-ibu desa Pagenteran. Tujuan dari kegiatan pelatihan yaitu untuk meningkatkan keterampilan ibu-ibu agar dapat membuat pestisida dan obat nyamuk dari bahan lokal yang ada di desa Pagenteran serta dapat digunakan pribadi.

Cara pembuatan pestisida dari bawang putih yaitu bawang putih dihaluskan dengan ditambahkan ½ liter air. Bawang putih yang dihaluskan direndam selama 6 jam kemudian disaring dan diambil larutannya. Larutan ditambahkan sabun cuci piring sebanyak 1 sendok makan. Setelah tercampur, larutan diambil sebanyak 100 ml dan ditambahkan air sebanyak 900 ml. Larutan dimasukkan ke dalam botol semprot. Pestisida siap digunakan untuk membasmi hama tanaman.

Cara pembuatan obat nyamuk dari serai yaitu daun serai dipotong kecil-kecil kemudian ditambahkan ½ liter air dan direbus sampai warna airnya kekuningan. Setelah direbus, didinginkan dan didiamkan selama 6 jam. Serai disaring dan diambil airnya. Air rebusan diencerkan dengan air dengan perbandingan 1:3. Larutan dimasukkan ke dalam botol semprotan. Cairan siap digunakan untuk menyemprot nyamuk.

Ibu-ibu antusias dalam memahami pelatihan yang diberikan. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan ibu-ibu dapat membuat pestisida dan obat nyamuk dari bahan alami agar tidak memberikan dampak negatif untuk lingkungan serta dapat dijadikan untuk produk jual.

pembuatan pestisida dr bawang

Gambar 2. Pembuatan Pestisida dari Bawang Putih

pembuatan obat nyamuk serai

Gambar 3. Pembuatan Obat Nyamuk dari Serai

Editor:

Dr. Ir. Suzanna Ratih Sari, M.M., M.A.

Eva Annisaa, S.Farm., Apt., M.Sc.

Yanuar Yoga Prasetyawan, M.Hum.

Mahasiswa Undip Gelar Senam Hipertensi pada Lansia dan Pemeriksaan Tekanan Darah di Desa Gambuhan

IMG-20200118-WA0001

Gambuhan, Pemalang (18/01) – Sebagai upaya dalam melawan penyakit hipertensi, Mahasiswi Undip Tim I 2020, Milkha Amalia Isrochah, menggelar senam Hipertensi pada lansia (Lanjut Usia) dan pemeriksaan tekanan darah pada hari Sabtu (18/01).

Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Gambuhan ini diikuti oleh puluhan warga Desa Gambuhan yang tampak antusias dalam mengikuti kegiatan ini. Selama 4 jam, warga bersemangat dalam mengikuti jalannya kegiatan. Kegiatan diawali dengan melakukan senam Hipertensi pada lansia dan dilanjutkan dengan melakukan pemeriksaan kesehatan seperti tekanan darah, gula darah, dan kolesterol.

Kegiatan ini juga dilakukan sebagai upaya dalam meningkatkan kesadaran warga dalam menjaga kesehatan serta memantau kesehatan lansia. Berdasarkan hasil observasi, warga Desa Gambuhan banyak yang menderita penyakit Hipertensi sehingga menyebabkan tersendatnya produktivitas warga Gambuhan.

Menurut Milkha, senam Hipertensi pada lansia dapat membantu tubuh tetap sehat dan bugar karena melatih tulang agar tetap kuat dan membantu kerja jantung agar tetap optimal.

Editor:

Dr. Ir. Suzanna Ratih Sari, M.M., M.A.

Eva Annisaa, S.Farm., Apt., M.Sc.

Yanuar Yoga Prasetyawan, M.Hum.

PENGEMBANGAN IGIR TIPIS, DESTINASI WISATA DI DESA PENAKIR

Penakir, 10/02/2020. Desa Penakir Kecamatan Pulosari merupakan salah satu daerah yang termasuk dalam kawasan pengembangan fungsi yaitu pariwisata dan pengelolaan kawasan lindung. Igir tipis merupakan salah satu kawasan lindung yang dimiliki Desa Penakir, kawasan ini sempat vakum dikarenakan sengketa antar dusun dan belum adanya Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) di Desa Penakir. Melihat kondisi wilayah maupun potensi yang dimiliki Desa Penakir, TIM KKN UNDIP dan perangkat desa tertarik untuk melakukan pengembangan Igir Tipis menjadi salah satu destinasi wisata di Desa Penakir. Pengembangan ini dimulai dengan diskusi dengan perangkat desa terkait potensi yang dimiliki desa, dan harapan pengembangan yang diinginkan. Setelah itu, mahasiswa/i UNDIP melakukan survei lokasi igir tipis untuk mengetahui kondisi wilayah disana.

IMG-20200201-WA0007Gambar 1. Pemaparan materi terkait rencana pengembangan Igir Tipis

Sejauh ini pengembangan destinasi wisata Igir Tipis masih dalam tahap mediasi antara dua dukuh yang bersengketa yang dilakukan oleh perangkat Desa Penakir. Mahasiswa/i KKN Undip pun turut memberikan sumbangsih pemikiran guna keberlangsungan rencana pengembangan destinasi wisata Igir Tipis di Desa Penakir serta mendorong pembentukan POKDARWIS di Desa Penakir.

IMG-20200201-WA0008Gambar 2. Diskusi dengan perangkat desa terkait pengembangan

Editor:

Dr. Ir. Suzanna Ratih Sari, M.M., M.A.

Eva Annisaa, S.Farm., Apt., M.Sc.

Yanuar Yoga Prasetyawan, M.Hum.

TIM KKN UNDIP DUKUNG GERAKAN LITERASIK DI DESA PENAKIR

Penakir, 10/02/2020. Gerakan literasik atau literasi asik merupakan salah satu gerakan yang digalangkan oleh mahasiswa/i Undip dalam meningkatkan minat baca pada anak. Kegiatan ini dilakukan oleh Siti Nur Aeni mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya di SDN 1 Desa Penakir Kecamatan Pulosari, dimana gerakan ini sebelumnya belum pernah dikerjakan oleh pihak sekolah.

Kegiatan ini dilakukan dengan cara mengajak siswa siswi di sekolah dasar untuk membudidayakan membaca buku sebelum kegiatan kelas dimulai minimal 15 menit, ataupun mengunjungi perpustakaan yang berada disekolah saat waktu istirahat. Pemaparan materi melalui video dan bercerita membuat anak-anak tertarik dan antusias melakukan kegiatan ini. Tak lupa TIM KKN UNDIP memberikan sosialisasi pula kepada guru guru di SDN 1 Desa Penakir terkait manfaat gerakan literasi dan bentuk kegiatan yang dapat dilakukan pula, sehingga kegiatan ini dapat dilakukan secara rutin.

IMG-20200127-WA0016

Editor:

Dr. Ir. Suzanna Ratih Sari, M.M., M.A.

Eva Annisaa, S.Farm., Apt., M.Sc.

Yanuar Yoga Prasetyawan, M.Hum.

Potato Soap, Inovasi Olahan Kentang untuk Kesehatan Kulit

DSC_4401

Desa Clekatakan Kecamatan Pulosari yang terletak di lereng Gunung Slamet sudah sejak lama dikenal sebagai desa penghasil sayur. Salah satu komoditas utamanya ialah kentang. Di desa Clekatakan, kentang menjadi salah satu tanaman yang paling banyak ditemukan. Selain dijual ke pasar lokal di berbagai kota di Jawa Tengah, kentang dari desa Clekatakan juga didistribusikan ke berbagai perusahaan yang telah terikat kontrak kerja sama. Potensi sumber daya alam ini pun dilihat secara jeli oleh mahasiswi Teknik Kimia Undip, Amalia Firdauzi, yang kemudian mencanangkan program pembuatan sabun kentang ‘Potato Soap’ sebagai salah satu program unggulan mahasiswa KKN Undip Tim I Tahun Akademik 2019/2020 desa Clekatakan.

Gambar 1. Mahasiswi KKN Undip menjelaskan tahap pembuatan 'Potato Soap'
Gambar 1. Mahasiswi KKN Undip menjelaskan tahap pembuatan ‘Potato Soap’

Pelaksanaan program pendampingan pembuatan ‘Potato Soap’ ini berlangsung pada hari Sabtu (25/1) bertempat di dusun Soyi, desa Clekatakan dan dihadiri oleh ibu-ibu PKK desa Clekatakan. Sebelumnya telah dilaksanakan survei permasalahan dan studi literatur mengenai kentang secara mendalam. Hasilnya ialah kentang ternyata mengandung sejumlah zat yang baik untuk kesehatan kulit dan kecantikan.

Kegiatan pada sore itu diawali dengan pemaparan mengenai manfaat dan khasiat yang dimiliki oleh kentang untuk kulit. Manfaatnya ialah membantu mencerahkan kulit, mengunci kelembapan kulit, mengatasi kulit kering, mengangkat sel kulit mati, meningkatkan kesehatan kolagen, dan masih banyak lagi. Amalia Firdauzi juga menjelaskan bahwa olahan sabun kentang tidak memerlukan alat dan bahan yang sulit didapat. Untuk membuat 10 sabun kentang hanya diperlukan 1 buah kentang, 320 gram minyak zaitun, 240 gram minyak kelapa sawit, 240 gram minyak kelapa, 115 gram soda api, dan 250 gram air. Sementara alat yang harus disiapkan adalah wadah, timbangan, mixer, dan cetakan. “Semua bahan dan alat yang harus disiapkan bisa didapatkan dimana saja, tidak susah dicari,” jelas Amalia Firdauzi.

Gambar 2. Praktik pembuatan 'Potato Soap' bersama ibu PKK desa Clekatakan
Gambar 2. Praktik pembuatan ‘Potato Soap’ bersama ibu PKK desa Clekatakan

Seusai sesi pemaparan, ibu-ibu PKK desa Clekatakan pun diajak membuat sabun kentang secara langsung. Ternyata proses pembuatan sabun kentang ‘Potato Soap’ tidaklah memakan waktu yang lama dan relatif mudah. “Jadi, kentang tidak hanya buat dimakan, ya, Bu. Jika dikemas dan dipasarkan dengan baik, sabun kentang ini bisa juga menghasilkan keuntungan bagi rumah tangga,” ucap ibu kepala desa Clekatakan yang turut hadir pada sore itu. Harapannya, olahan sabun kentang ini dapat dijadikan sebagai salah satu produk unggulan yang diproduksi oleh masyarakat desa Clekatakan. “Clekatakan, kan, mau jadi desa wisata. Potato Soap ini bisa jadi souvenir oleh-oleh,” tutup Amalia Firdauzi di akhir kegiatan. (Muli S./Tim I KKN Undip Desa Clekatakan)

Gambar 3. Foto bersama ibu-ibu PKK desa Clekatakan seusai pelaksanaan program pendampingan pembuatan 'Potato Soap'
Gambar 3. Foto bersama ibu-ibu PKK desa Clekatakan seusai pelaksanaan program pendampingan pembuatan ‘Potato Soap’

 

Editor:

Dr. Ir. Suzanna Ratih Sari, M.M., M.A.

Eva Annisaa, S.Farm., Apt., M.Sc.

Yanuar Yoga Prasetyawan, M.Hum.

Mahasiswa Undip Ajari Pembuatan Pupuk Organik dari Sampah Sayur dan Rumah Tangga

proker pupuk

Pemalang (6/2). Dilaksanakan program pelatihan pembuatan pupuk organik di rumah warga desa Pagenteran Kecamatan Pulosari. Tujuan dari program ini yaitu dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan warga tentang pembuatan pupuk organik. Program pelatihan dihadiri oleh 20 orang warga.

Mahasiswa Undip menjelaskan cara pembuatan serta manfaat dari pupuk organik yang berasal dari sampah sayur dan rumah tangga. Warga tampak antusias dalam memerhatikan penjelasan mahasiswa Undip. Dengan adanya program ini diharapkan warga dapat menggunakan sampah sayur dan rumah tangga untuk pupuk karena dapat memperbaiki kondisi tanah tanpa merusak lingkungan.

Cara pembuatan dari pupuk organik dimulai dengan menyiapkan komposter, selang kecil, dan botol bekas. Kemudian melarutkan bioaktivator (EM4 sebagai mikroba ke dalam air secukupnya). Selanjutnya, menambahkan mollase (bisa menggunakan gula tebu atau gula merah) ke dalam larutan EM4 secukupnya dan didiamkan minimal 20 menit untuk menumbuhkan mikroba. Selanjutnya sampah sayur dan sisa rumah tangga dicincang dengan biokativator dicampurkan ke dalam komposter. Komposter ditambahkan air dan ditutup serapat mungkin selama kurang lebih 2 minggu.

 

1

d76af718-b6f9-49aa-b055-dfb046a61767

Editor:

Dr. Ir. Suzanna Ratih Sari, M.M., M.A.

Eva Annisaa, S.Farm., Apt., M.Sc.

Yanuar Yoga Prasetyawan, M.Hum.

Mahasiswa Undip Meningkatkan Pemahaman serta Merancang Desain Rainwater Harvesting guna Alternatif Suplai Air pada Musim Kemarau

PROKER ELSA KAMIS 1

Pemalang 6/2/2020. Warga Desa Pagenteran Kecamatan Pulosari sangatlah mengandalkan air hujan untuk kebutuhan air sehari-hari. jika musim kemarau datang, maka maslah krisis air untuk kebutuhan sehari-hari pun muncul. Berawal dari masalah tersebut, mahasiswa KKN Undip memberikan solusi atas permasalahan yang muncul melalui program KKN. Program yang diberikan berupa penjelasan desain Desain Rainwater Harvesting yang dibuat oleh mahasiswa Undip. Dijelaskan juga manfaat, bahan-bahan yang digunakan serta cara kerja dari Rainwater Harvesting. Warga tampak antusias dalam memahami bagaimana cara kerja dari rainwater harvesting. Dengan adanya program ini diharapkan desain rainwater harvesting dapat menjadi salah satu solusi untuk menjaga ketersediaan air di musim kemarau.

Cara kerja dari Rainwater Harvesting yaitu diawali dari air hujan yang jatuh dari atap ditampung melalui talang kemudian air hujan dialirkan melalui pipa ke bawah masuk ke tandon air. Air hujan masuk ke penyaringan kawat kasa untuk menyaring daun-daun yang terbawa oleh air hujan. Kemudian air hujan masuk ke dalam tandon yang dilengkapi saringan debu/pasir halus. Kelebihan air hujan di dalam tandon akan masuk saluran pipa yang terhubung ke sumur resapan bawah tanah. Pipa dilengkapi katup (buka/tutup) untuk mengontrol aliran air agar bisa dibuang keluar. Air siap didistribusikan.

 

cara kerja rain water

 

rainwater 1

rainwater 2 rainwater 3

Editor:

Dr. Ir. Suzanna Ratih Sari, M.M., M.A.

Eva Annisaa, S.Farm., Apt., M.Sc.

Yanuar Yoga Prasetyawan, M.Hum.

Mahasiswa Undip Kenalkan Pancasila di PAUD

paud

Pemalang (4/2). Mahasiswa Undip melaksanakan program Pengenalan Pancasila di PAUD Nusa Indah Desa Pagenteran Kecamatan Pulosari pada jam 8 pagi di PAUD Nusa Indah Nusa Indah Desa Pagenteran. Tujuan dari program tersebut yaitu meningkatkan pengetahuan anak PAUD tentang Pancasila.

Mahasiswa UNDIP menjelaskan Pancasila beserta lambang-lambangnya dengan buku pop-up agar anak-anak tertarik dan mudah mengingat masing-masing lambang. Anak-anak sangat antusias dalam memahami materi yang diberikan mahasiswa Undip. Pada sesi tanya jawab, beberapa anak sangat lantang dalam menyebutkan sila-sila pancasila dan lambang dari masing-masing sila.

Dengan adanya program ini, diharapkan Pancasila dapat diketahui oleh anak-anak 0-5 tahun agar dapat diterapkan sejak dini hingga saat sudah dewasa.

paud 1

Editor:

Dr. Ir. Suzanna Ratih Sari, M.M., M.A.

Eva Annisaa, S.Farm., Apt., M.Sc.

Yanuar Yoga Prasetyawan, M.Hum.

Mengenal Lebih Dekat Desa Cangak

Pemalang-3 Jan 2020, TIM I KKN Universitas Diponegoro (UNDIP) Desa Cangak Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang tiba di lokasi posko KKN. Kegiatan hari pertama setibanya di Posko, TIM anggota KKN melakukan kunjungan ke berbagai rumah warga Desa Cangak untuk bersilahturahmi. Salah satu kunjungan tersebut yaitu kunjungan ke rumah  mantan Kepala Desa Cangak periode 2014-2020 yaitu Pak Talkuto. Disana kami mencoba berbaur dan bertanya-tanya tentang apa saja yang menjadi masalah di Desa Cangak.

 

Beberapa permasalahan yang kami dapatkan dari kunjungan ke rumah Pak Talkuto yaitu seperti permasalahan tata ruang desa, pendidikan masyarakat terkait dengan demokrasi yang masih kurang, pendataan jumlah Kepala Keluarga yang tidak lengkap, data jumlah rumah yang ada di Desa Cangak yang masih belum lengkap, belum adanya pengelolaan sampah plastik, tidak adanya tempat pembuangan akhir (TPA), dan semakin berkurangnya gotong royong antar masyarakat.

 

Selain permasalahan yang ada di Desa Cangak, sebenarnya Desa Cangak memiliki kegiatan yang cukup baik seperti aktifnya karang taruna dan kegiatan ibu PKK. Bukan hanya itu, untuk potensi di Desa Cangak sendiri yaitu di bidang pertanian seperti tanaman jagung dan padi. Potensi tersebut didukung oleh mata pencaharian terbesar di Desa Cangak yaitu sebagai petani jagung dan padi.

 

Desa Cangak sendiri terdiri dari 3 Dusun dengan 17 RT dan 2 RW. Untuk bidang kesehatan di Desa Cangak  hanya memiliki poliklinik Desa yang terletak di Sebelah Balai Desa. Poliklinik Desa sendiri hanya buka pada hari Senin, Rabu, dan Kamis. Dari data di Desa Cangak, penyakit tertinggi di Desa Cangak yaitu penyakit ISPA. Penyakit ini banyak disebabkan oleh kualitas lingkungan yang kurang baik. Untuk kegiatan dibidang kesehatan lainnya yang ada di Desa Cangak yaitu  posyandu yang dilakuakan setiap sebulan sekali.

 

Setiap harinya kami pasti menyempatkan untuk silaturahmi kepada warga agar semakin berbaur dengan mereka. Di desa Cangak ini rata-rata warga hanya berternak kambing dan ayam. Remaja disini juga lebih memilih bekerja daripada untuk kuliah karena biaya yang sangat mahal. Seiring berjalannya waktu kami mulai mengenali masyarakat dan tidak sedikit anak kecil yang ingin belajar atau hanya ingin sekedar bermain dengan kami.https://i.ibb.co/hyw0Dzm/IMG-5894.jpg https://i.ibb.co/C9wjH2p/IMG-9885.jpg

Mengunjungi Rumah Salah Satu Warga Desa Cangak