Home » Lokasi KKN » Kab. Semarang

Category Archives: Kab. Semarang

Desa Kecil Itu Bernama Bumen

Bumen, Sumowono (4/01) Universitas Diponegoro kembali melaksanakan Program Kuliah Kerja Nyata di Desa Bumen, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang. Kuliah Kerja Nyata sebagai salah satu program pengejawantahan Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni pengabdian masyarakat akan dilaksanakan selama 42 hari. Selama itu keenam mahasiswa Universitas Diponegoro dari berbagai jurusan keilmuan ; Andi Faizal (FPIK – Perikanan), Luthfi Ghaziyan (FT – Teknik Lingkungan), Farhan Gilang P & Mujahidah Umniyatul (Fakultas Hukum), Risma Apriliana (Fakultas Kesehatan Masyarakat), Dina Lutfiana S (SV – Teknologi Rekayasa Kimia Industri) akan melebur bersama masyarakat dan mengkolaborasikan keilmuannya guna memecahkan permasalahan masyarakat di Desa Bumen.

WhatsApp Image 2020-01-11 at 9.03.05 PM

 

Sebelum mulai menetap selama enam minggu di Desa Bumen, keenam mahasiswa UNDIP menemui tokoh – tokoh masyarakat dan perangkat desa guna sowan dan memperkenalkan diri sekaligus menginventarisir persoalan – persoalan yang ada di Desa Bumen. Tak lupa pula mahasiswa UNDIP mengikuti agenda – agenda rutin yang ada di masyarakat guna memperkenalkan diri sekaligus menjalin silaturahmi.

WhatsApp Image 2020-01-11 at 9.02.57 PM

Alhamdulillah, seluruh elemen masyarakat Desa Bumen mulai dari orang tua, remaja, hingga anak – anak menyambut dengan ramah mahasiswa UNDIP yang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata di Desa Bumen.

 

Ragam Kegiatan di Desa Bumen

Kuliah Kerja Nyata Universitas Diponegoro Tim I di Desa Bumen, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang memasuki minggu ke – dua. Selama hampir 14 hari, enam mahasiswa Universitas Diponegoro yang melaksanakan pengabdian masyarakat di Desa Bumen mengikuti berbagai kegiatan bersama masyarakat. Mulai dari membantu masyarakat melakukan pengukuran jalan dan drainase desa untuk laporan pertanggungjawaban alokasi dana desa oleh Luthfi (FT – Teknik Lingkungan) dan Andi Faizal (FPIK)

Pengukuran lebar jalan oleh Luthfi & Andi

Membantu pelaksanaan Posyandu Bayi dan Balita oleh Risma Apriliana (Fakultas Kesehatan Masyarakat) & Dina Lutfiana (Teknik Kimia)

Picture1

Picture2

hingga membantu penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa oleh Farhan Gilang & Muja Umniyatul (Fakultas Hukum).

Picture3

Keseluruhan kegiatan dilaksanakan dengan penuh suka cita hingga mendapat sambutan yang hangat dari masyarakat setempat, Gabungan Kelompok Tani, Ibu – Ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Perangkat Desa, dan lain sebagainya. Menyongsong minggu ketiga, mahasiswa Universitas Diponegoro yang melaksanakan KKN di Desa Bumen focus untuk mempersiapkan program kerja monodisiplin & multidisiplin sesuai dengan analisis kondisi lapangan yang telah dilakukan pada minggu ke dua & ke tiga melalui interview dengan tokoh masyarakat setempat.

TIM KKN UNDIP DESA MENDONGAN PERKENALKAN METODE PENGOLAHAN PUPUK ORGANIK

Proses pembuatan pupuk organik dengan metode Takakura

Memasuki minggu keempat pelaksanaan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN), TIM I KKN Undip Desa  Mendongan, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang dilakukan pengolahan sampah rumah tangga di Desa Mendongan untuk dijadikan sebagai pupuk organik. Pemilihan kegiatan pengolahan sampah untuk dijadikan sebagai suatu bahan produktif didasarkan pada permasalahan desa yaitu mengenai lingkungan dan utamanya mengenai persoalan sampah yang masih belum cukup optimal dalam hal pengelolaan dan penanganannya, sehingga tercetus ide untuk melakukan pengolahan sampah yang nantinya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat desa dan disisi lain juga dapat membantu mengentaskan permasalahan desa serta dukungan penuh juga diberikan oleh Dosen Pembimbing Lapangan yakni Ir. RTD. Wisnu Broto, M.T, Dr. Dra. Wilis Ari Setyati, M.Si, Bagus Rahmanda, S.H, M.H  serta Ketua P2KKN (Pusat Pelayanan Kuliah Kerja Nyata) Fahmi Arifan, S.T, M.Eng.

Hafizh Dhani mahasiswa Teknik Lingkungan Undip mengatakan bahwa dalam pengolahan sampah yang dibuat menjadi pupuk dilakukan dengan metode Takakura Home Method Composting dimana pembuatan pupuk ini membutuhkan waktu selama dua minggu. “Proses pembuatannya menggunakan keranjang sampah yang mana pada dinding-dindingnya dilapisi oleh kardus sebagai alat utama,  kemudian bahan-bahan lain yang dibutuhkan sebagai isian seperti sekam padi dan sampah hasil kegiatan rumah tangga yang terdiri dari sayuran, buah-buahan dan sisa nasi. Untuk mempermudah pengomposan menggunakan cairan EM4 serta air secukupnya dan ditempatkan pada tempat yang teduh.”  Tutur Hafizh Dhani

Selain tujuannya untuk mengentaskan  persoalan sampah, pengenalan metode Takakura ini juga dirasa lebih efisien dan mudah diterapkan di masyarakat, hal tersebut terlihat dari antusiasme masyarakat dalam pembuatan pupuk organik dengan metode Takakura ini, karena metode ini juga mengedepankan kebersihan dan minim bau, sehingga masyarakat lebih nyaman dalam proses pengomposan.

TIM KKN yang beranggotakan Hafizh Dhani (FT), Adrian Okta (FPIK), Ihsan Fadhli (FPIK), Genio Krisna (FH),  Dhila Ayuningtyas (SV), serta Fannisa Pitamouldi (FIB) juga mendapat apresiasi yang positif dari Kepala Desa Mendongan, Yulianto S.Pd I yang mengatakan bahwa, “Pengolahan sampah rumah tangga yang dikenal dengan metode Takakura merupakan suatu program yang cukup menarik dan diharapkan dapat menjadi solusi bagi persoalan sampah di Desa Mendongan,” Ujar Yulianto di Balai Desa Mendongan.

Dengan diperkenalkannya metode pengolahan sampah untuk dijadikan pupuk organik yang tidak menimbulkan bau dan tidak menghasilkan belatung, kedepannya kegiatan pengolahan sampah dengan metode tersebut dapat dilakukan secara berkelanjutan  sehingga mampu membantu mengentaskan permasalahan sampah di lingkungan Desa Mendongan. Disamping itu apabila diolah dengan baik maka tidak menutup kemungkinan olahan pupuk tersebut akan membawa manfaat ekonomis bagi warga Desa Mendongan.

Berkunjung ke Tempat Pembuangan Sampah Desa Losari, Sangat Mencengangkan

Selasa (14/1) di posko kami memiliki dua jenis tempat sampah, yaitu organik dan anorganik. Untuk sampah organik, kami buang ke lubang tanah yang kami buat di pekarangan belakang rumah. Kemudian untuk sampah anorganik, kami kumpulkan terlebih dahulu hingga penuh barulah kami berencana akan membuang sampah di tempat pembuangan sementara. Pada hari Selasa (14/1) kami berencana akan membuang sampah di tempat pembuangan sementara Desa Losari, tetapi kami tidak menemukan itu terutama di Dusun Kalidukuh tempat posko kami berada. Bertanyalah kami pada warga sekitar mengenai letak dari tempat pembuangan tersebut, ternyata tempat tersebut berlokasi di Dusun Kaliliseng, sebelah Utara Dusun Kalidukuh. “tempat pembuangan sampah ada di Dusun kaliliseng, ini lurus terus aja nanti kanan jalan ada jalan beton masuk aja. Disitu tempat buang sampahnya.” Terang salah seorang warga yang kami tanyai. Setelah mendapat informasi itu, kami langsung bersiap dan menuju ke tempat pembuangan sementara tersebut.

Setibanya disana kami melihat suatu bangunan semi terbuka dan didalamnya itulah terdapat banyak sekali sampah terutama adalah sampah rumah tangga dan limbah sayuran. Ya, banyak limbah sayuran karena masyarakat Desa Losari didominasi oleh petani maupun pedagang sayuran. Di tempat pembuangan sampah tersebut tidak dibedakan mana sampah organik dan mana sampah anorganik. Tentunya membuat kami bingung, tapi akhirnya kami meletakkan sampah kami disuatu sudut tempat tersebut. Setelah kami membuang sampah, disekitar tempat tersebut terdapat warga yang terlihat sedang melakukan sesuatu. Kami menghampirinya, menyapa dan untuk bertanya-tanya mengenai tempat ini. Berdasarkan penuturan warga tersebut, kami banyak mendapatkan informasi mengenai tempat pembuangan sampah di Desa Losari ini. Tempat pembuangan sementara ini merupakan satu-satunya tempat pembuangan yang ada di Desa Losari, maka dari itu sampah yang ada sangatlah banyak. “lha pripun mboten katah sampahe kados niki mas, lha sakdeso mbuang sampah wonten mriki sedaya.” (bagaimana tidak banyak sampahnya seperti ini mas, satu desa buang sampah disini semua) terang salah seorang warga. Di Desa Losari pula tidak didapati petugas yang khusus untuk mengambili atau mengelola sampah, maka warga akan pergi membuang sampahnya sendiri ke tempat pembuangan sementara. Warga pun juga kurang mendapat sosialisasi mengenai pemilahan sampah antara organik dan anorganik, maka ketika membuang sampah, semua dicampur menjadi satu dengan tidak dipilah terlebih dahulu. “wonten mriki niku mboten ana petugas sing ngurusi sampah, makane warga nggih mbuang wonten mriki piyambakan lan mboten dipisah-pisah.” (disini itu tidak ada petugas yang mengurusi sampah, makanya warga membuang kesini sendiri dan tidak dipisah-pisah) kata salah satu warga lainnya.

Warga yang kami temui disekitar tempat pembuangan sementara itu berharap adanya pembangungan TPS lagi di dusun lain dan juga adanya sosialisasi kepada warga mengenai pemilahan sampah yang benar serta adanya petugas khusus untuk mengurusi sampah mulai dari pemilahan dan pengelolaan sampah. “nggih kedepan mugi wonten TPS ingkang dibangun wonten tiap dusun, terus wonten petugas kanggo ngurusi sampah. Tapi sing paling penting niku sosialisasi wonten warga mas babagan pengelolaan lan pemilahan sampah. Sampah niku wonten Desa Losari permasalahane mboten enten entekke.” (ya semoga kedepan ada TPS yang dibangun ditiap dusun, terus ada petugas untuk mengurusi sampah. Tapi yang paling penting itu sosialisasi ke warga mengenai pengelolaan dan pemilahan sampah. Sampah itu di Desa Losari permasalahannya tidak ada habisnya.) tutup salah satu warga yang ada di TPS.

Penyuluhan dan Pencerdasan Demam Berdarah dan Kanker Serviks

6100Mendongan, Rabu (15/01/2020) kegiatan posyandu telah dilaksanakan di Dusun Setro, Desa Mendongan, Kecamatan Sumowono. Kegiatan posyandu dimulai pada pukul 08.00 WIB dengan pendataan tinggi badan, berat badan dan pengukuran  tekanan darah dan denyut jantung. Dalam kegiatan ini, Suryani selaku bidan Desa Mendongan bersama mahasiswa KKN Tim I Desa Mendongan memberikan penyuluhan mengenai jentik – jentik nyamuk Demam Berdarah dan pencerdasan mengenai kanker serviks kepada 15 orang ibu dan lansia.

Kegiatan penyuluhan mengenai pencegahan nyamuk demam berdarah dilakukan sebagai antisipasi wabah Demam Berdarah yang sering terjadi pada musim penghujan, terlebih menurut warga Dusun Setro belum pernah dilakukan pengendalian nyamuk Demam Berdarah seperti melakukan fogging maupun pencerdasan tentang ABATE.  Materi disampaikan melalui presentasi dengan PowerPoint yang berisi mengenai pengetahuan singkat tentang gejala-gejala yang timbul apabila terinfeksi Demam Berdarah oleh mahasiswa KKN, tempat-tempat yang disukai oleh nyamuk untuk berkembang biak, serta cara pencegahan jentik-jentik nyamuk dengan melakukan 3M (Menguras, Menutup, Mengubur) barang-barang yang dapat menampung air, serta pencerdasan mengenai pemakaian ABATE maupun kebiasaan untuk memelihara satu ekor ikan didalam bak mandi.

6110“Jentik dari nyamuk demam berdarah tidak dapat hidup didalam air kotor, tetapi dapat hidup didalam air bersih, oleh sebab itu segala bentuk benda yang dapat menampung air hujan atau yang berfungsi sebagai tempat penampungan air untuk ditutup dan dikuras minimal satu kali dalam seminggu”, ujar Suryani saat menutup penyuluhan mengenai DBD

Selain penyuluhan mengenai DBD, dilakukan juga diskusi singkat mengenai kanker serviks dan pencerdasan mengenai pencegahan tentang kanker serviks, himbauan kepada para ibu yang telah menikah maupun yang memiliki remaja putri untuk selalu menjaga kebersihan di daerah intim dan melakukan pemeriksaan ke dokter apabila terjadi hal yang tidak biasa. Warga Dusun Setro yang terdiri dari ibu-ibu sangat antusias terhadap kegiatan penyuluhan dan diskusi singkat ini, dan berharap bahwa kedepannya kegiatan posyandu dapat selalu diisi dengan penyuluhan maupun diskusi-diskusi mengenai kesehatan.

Aspek Legalitas Dalam Pendirian Usaha Kecil Mikro dan Menengah di Kecamatan Sumowono

Sumowono (31/1/20)- Pelaku usaha UMKM Desa Sumowono, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang mengeluhkan sulitnya mendapatkan perizinan usaha UMKM nya, banyak masyarakat yang mendirikan usahanya tanpa adanya izin usaha.Salah satu pelaku UMKM di desa Sumowono mengharapkan supaya dibantu dalam pendaftaran izin usahanya yang menurutnya sulit.

Seiring dengan meningkatnya akan kebutuhan masyarakat, meningkat pula kebutuhan terhadap konsumsi dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Terkait dengan hal tersebut, guna menambah penghasilan, banyak masyarakat yang mendirikan bisnis dengan skala kecil. Contohnya usaha home industry dan usaha kuliner dan kaki lima,UMKM menjadi solusi bagi masyarakat yang ingin berbisnis dengan mudah tanpa adanya pengurusan perizinan yang susah. Melihat fenomena ini tim Pengabdian Undip yang terdiri dari Bagas Rahmanda S.H, M.H,                            Dr. Dra Wilis Ari Setyati, M.Si, Fahmi Arifan, S.T, M.Eng beserta mahasiswa KKN Tim 1 Undip Desa Sumowono yang terdiri dari Dimas Mahendra Putra, Sri Risdhiyanti Nuswantari, Ardya Risma Firmansyah,                             Diva Khansa Gusanti, Haekhal Arif dan Wilson Rinaldo memberikan pemahaman tentang “Aspek Legalitas Dalam Pendirian Usaha Kecil Mikro dan Menengah di Kecamatan Sumowono”.

Pendaftaran izin usaha UMKM dapat di akses secara online dengan link oss.go.id dan semua proses itu sudah dengan mudah diakses oleh pelaku UMKM. Tujuan program ini di laksanakan oleh anak-anak KKN UNDIP adalah untuk Memberikan pemahaman kepada pelaku usaha dan masyarakat mengenai pentingnya legalitas dalam mendirikan usaha baik usaha yang berbentuk perusahaan maupun perorangan, memberikan pemahaman kepada masyarakat dan pelaku usaha mengenai tata cara dan proses legalitas dalam mendirikan usaha,dan sebagai bentuk pemenuhanTri Dharma PerguruanTinggi.

Mahasiswa KKN Undip Mengolah Limbah Plastik Menjadi Paving Block

     Semarang – Diketahui limbah plastik terus menumpuk pada desa Kebonagung, mahasiswa KKN Universitas Diponegoro membantu masyarakat mencari solusi agar limbah plastik dapat dikelola. “Paving Block” yang umum nya dibuat dari pasir dengan menggunakan semen sebagai bahan pengerasnya tetapi kali ini berbeda. Mahasiswa KKN Tim I Undip yang bernama Akwila Gozion dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan memberikan ide kreatif kepada masyarakat untuk mengolah limbah tersebut menjadi barang yang memiliki nilai.

   Mahasiswa tersebut mendapatkan informasi dari ketua dusun Kebonagung bahwa sampah yang ada dilingkungannya cenderung bertambah seiring berjalannya waktu, dan kepala dusun tersebut mengatakan bahwa limbah plastik tersebut dimusnahkan dengan cara dibakar saja, bahwa yang dapat kita ketahui membakar sampah itu akan membuat udara menjadi tercemar, selain mencemari udara akibat dari asap tersebut dapat mengakibatkan gangguan pernafasan pada lingkungan sekitar. Maka dari itu mahasiswa tersebut memberikan solusi terhadap masyarakat yang berada di desa Kebonagung untuk mengolah sampah tersebut menjadi “Paving Block” yang memiliki beragam fungsi.

      Tim yang terdiri Dosen Pembimbing Lapangan yaitu Ir RTD Wisnu Broto MT, Dr Dra Wilis Ari Setyati MSi, Bagus Rahmanda SH MH dan Fahmi Arifan ST MEng beserta Tim KKN 1 UNDIP (Rizky Ramadhan, Unggul Wasis Wicaksana, Hasna Nurmarisa Ramadhanty, Novia Nur Hidayah, Fisia Aqrorina dan Akwila Gozion) Desa Kebonagung Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang menjelaskan bahwa dengan adanya pendampingan pembuatan “Paving Block” dari limbah plastik diharapkan mampu mengurangi limbah yang dihasilkan oleh masyarakat sekitar dan dijadikan barang yang memiliki nilai yang ramah lingkungan dan mempunyai nilai ekonomis bagi limbah plastik tersebut.

     Pada tanggal 29 Januari 2020 tepatnya pada pukul 13.30 WIB mahasiswa KKN tersebut melakukan sosialisasi tentang dampak buruk limbah plastik terhadap lingkungan dan menjelaskan cara pembuatan “Paving Block” dari limbah plastik. Acara tersebut diikuti oleh warga desa Kebonagung serta didampingi oleh Kepala Desa Kebonagung. Antusias warga sangat tinggi akan kegiatan tersebut karena sangat bermanfaat bagi lingkungan mereka kedepannya.

Gambar 1. Pemaparan Bahaya Dampak Limbah Plastik
Gambar 1. Pemaparan Bahaya Dampak Limbah Plastik
Gambar 2. Penjelasan Cara Pembuatan Paving Block
Gambar 2. Penjelasan Cara Pembuatan Paving Block

 

Kendalikan Virus Kuning Cabai, Tim Pengabdian Undip Kenalkan Fungisida Eco-Friendly Pengganti Fungisida Kimia

Foto Bersama Kelompok Tani Dusun Kenteng

Sumowono (31/1/20)- Petani Desa Sumowono, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang mengeluhkan banyaknya tanaman cabai yang gagal panen akibat virus kuning cabai. Salah satu petani di Desa Sumowono mengungkapkan bahwa wabah virus kuning cabai sudah menjangkit cukup lama, “Sudah 20 tahun belum ada obatnya (virus kuning cabai),” ujar Imah, petani cabai yang mengalami gagal panen tahun ini.

Virus kuning cabai ditularkan oleh serangga vektor jenis kutu putih atau kutu kebul (Bemisia tabaci). Jika tanaman terserang pada umur muda, biasanya tanaman menjadi kerdil dan tidak berbuah dan tidak dapat kembali sehat. Tim Pengabdian Undip yang terdiri dari Dr. Dra Wilis Ari Setyati, M.Si, Bagas Rahmanda S.H, M.H,                          Fahmi Arifan, S.T, M.Eng beserta mahasiswa KKN Tim 1 Undip mengenalkan fungisida eco-friendly yang berbahan baku bawang putih dan jahe untuk mengendalikan virus kuning cabai.

Pemaparan Materi tentang penggunaan Fungisida Organik

Berlokasi di rumah Bapak Sutopo selaku ketua Kelompok Tani Sumowono di Dusun Kenteng, program pembuatan fungisida eco-friendly disambut dengan antusias oleh Kelompok Tani Desa Sumowono pada Kamis (23/1/20).       Sri Risdhiyanti Nuswantari salah satu mahasiswa KKN Tim 1 Undip 2020 pada pemaparan program menuturkan bahwa virus kuning cabai tidak dapat dihilangkan jika sudah menjangkit tanaman yang sehat, tetapi bisa dicegah dan dikendalikan dengan melakukan teknik budidaya cabai yang tepat dan menggantikan penggunaan fungisida kimia menjadi fungisida eco-friendly.“ Para petani di Desa Sumowono masih menggunakan fungisida kimia secara berlebihan dengan tujuan menghentikan penyebaran virus kuning cabai tanpa mengetahui dampaknya untuk tanaman, lingkungan dan kesehatan manusia” tambah Sri Risdhiyanti yang juga melakukan uji coba pembuatan fungisida organik pada kegiatan tersebut.

Jahe dan bawang putih memiliki bahan aktif bersifat antifungi dan antimikroba yang dapat mengendalikan virus kuning cabai. “Memiliki kandungan gingerol, shogaol, isogingerenon, asam kaprilat, gingerenon dan allicin, jahe dan bawang putih dapat digunakan sebagai fungisida eco-friendly untuk mengendalikan virus kuning cabai.” jelas Wilis Ari Setyati selaku ketua program pengabdian. Di akhir program Wilis mengajak Kelompok Tani Desa Sumowono untuk mengubah mindset bertani untuk menghasilkan produk pertanian yang berkualitas dengan menggunakan fungisida eco-friendly yang memiliki kemampuan pembasmi seperti fungisida kimia tetapi minim efek samping diiringi dengan teknik budidaya cabai yang sesuai standar Dinas Pertanian.

DESA SUMOWONO: BERSAMA UNTUK BERDAYA

Sumowono (30/1/20)- Pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan dengan berbagai kegiatan, salah satunya melalui kegiatan PKK (Program Pemberdayaan Keluarga). Kegiatan PKK memiliki konsentrasi kegiatan dalam memberdayakan wanita untuk dapat berpartisipasi dalam pembangunan Indonesia. Program PKK telah menjadi agenda rutin di berbagai wilayah di Indonesia tak terkecuali di Desa Sumowono. Terbaru pada Minggu (26/1/2020) telah terlaksana kegiatan PKK rutin Desa Sumowono yang diselenggarakan di Balai PKK Desa Sumowono yang diikuti oleh Ibu-ibu PKK Desa Sumowono beserta mahasiswa KKN Tim I 2020. Acara dimulai pada pukul 10.00 WIB yang dibuka oleh Saudari. Rizza selaku moderator. Acara dilanjutkan dengan menyanyikan Mars PKK yang dipimpin oleh Ibu Azizah selaku Wakil Ketua PKK dan ada sambutan serta penyampaian materi oleh Ibu Ketua PKK yaitu ibu Tutik.

       Kegiatan PKK pada hari tersebut berkonsentrasi pada Re-organisasi kepengurusan PKK. Ada beberapa posisi dalam kepengurusan PKK yang dilakukan Re-shuffle. Agenda berikutnya yaitu membahas tentang pengisian data administratif dan pembuatan program kerja (POKJA).  POKJA I tentang penghayatan Pancasila dan gotong royong, POKJA II tentang pola asuh anak dan KDRT. Kegiatan tersebut juga membahas tentang perencanaan pembuatan buku dasa wisma (DAWIS). Kegiatan tersebut diikuti dengan khidmat dan interaktif. Salah satu peserta PKK yaitu Ibu Muslikah juga menyampaikan kepada pengurus PKK untuk pengadaan seragam PKK dan penganggaran kegiatan rapat di luar Balai PKK mengingat kondisi balai yang telah usang dan kurang memadahi kapasitasnya. Hal tersebut menjadi masukan bagi pengurus PKK dan setelah melalui musyawarah dicapailah mufakat bahwa pengadaan seragam dilanjutkan dan pelaksanaan kegiatan PKK berikutnya diselenggarakan di luar Balai PKK. Acara tersebut juga diproyeksikan oleh mahasiswa KKN Tim I 2020 Desa Sumowono untuk menyampaikan materi tentang pemahaman KDRT dan cara pencegahan serta solusi penyelesaiannya. Harapannya, melalui kegiatan PKK ini masyarakat khusunya Ibu-ibu Desa Sumowono dapat memajukan pembangunan di Sumowono. Hal tersebut juga menjadi motivasi bagi mahasiswa KKN Tim I 2020 Desa Sumowono agar ikut serta dalam memberdayakan lingkungan sekitar guna tercapai masyarakat yang adil, makmur dan sentosa.

KKN UNDIP TOLOKAN UBAH LIMBAH KENTANG JADI BRIOBITANG

Selain diolah menjadi kuliner, ternyata kentang juga dapat menjadi bahan utama pembuatan briket. Menariknya lagi, yang dibutuhkan merupakan kulit kentang. Celah ini diambil oleh Tim 1 KKN Undip tahun 2020 Desa Tolokan. Hal tersebut tentu menjadi alternatif terbaik pengelolaan limbah di Desa Tolokan yang menempatkan kentang sebagai komoditas terbaik mereka. Dipaparkan pada Senin (27/1) di Balai Desa, BIOBRITANG (Bio-Briket dari Kulit Kentang) yang menjadi program unggulan tim terkait pun mendapat sambutan positif dari masyarakat.

Khoirul Anam  (Fisika angkatan 2016) yang menjadi penanggungjawab dari program ini rupanya telah melakukan berbagai eksperimen untuk menemukan takaran yang tepat dari bahan-bahan pembuat briket. Beruntung, panen kentang tengah terjadi secara bergantian di Desa Tolokan, sehingga tidak kekurangan bahan dasar pembuatan briket yang berasal dari kulit kentang.

Sebelum melakukan eksperimen, Khoirul dan anggota tim KKN di desa terkait sempat melakukan survei di daerah perkebunan warga untuk mengamati komoditas utama di Desa Tolokan. Setelah mengetahui potensi perkebunan Desa Tolokan yang tak jauh dari produk kentang, barulah ide pembuatan briket tercetus.

Walaupun begitu, pembuatan sampel briket sempat mengalami kendala cuaca ketika masuk tahap pengeringan. Pada KKN dilaksanakan, Desa Tolokan hampir setiap hari mengalami hujan dan kabut, berdampak pada suhu dingin pegunungan yang semakin menjadi.

Tetapi, sebagai solusi, Khoirul mengeringkan bahan-bahan yang dibutuhkan menggunakan oven yang dibuat dari kaleng bekas. Hal tersebut dikarenakan produksi yang dilakukan masih dalam skala kecil. Jika produksi sudah berkembang, maka dapat digunakan oven sungguhan yang lebih besar.

Hasil dari eksperimen yang dilakukan oleh Tim 1 KKN Undip tahun 2020 di Desa Tolokan pun dipresentasikan di Balai Desa pada senin (27/1). Tentunya, mendapat sambutan baik dari aparatur desa maupun komunitas masyarakat setempat.

Kedepannya, inovasi produk briket ini diharapkan dapat menjadi solusi pengelolaan limbah kentang. Agar semakin sedikit bagian kentang yang terbuang, sehingga potensi komoditas perkebunan ini dapat dimanfaatkan secara optimal.