PERKUAT JIWA NASIONALISME DAN PENGENALAN BAHASA JEPANG DI SDN TENGARAN

Sebagai wujud memperkuat jiwa nasionalisme sejarah dan pengenalan bahasa Jepang di desa Tengaran, pada hari Senin (23/01/2017) hingga Rabu (25/01/2017) mahasiswa KKN melaksanakan program penanaman jiwa kepahlawanan lewat perjuangan para pahlawan nasional dan pengenalan bahasa Jepang sederhana di SDN Tengaran. Program ini dilaksanakan oleh Firhat Jundi R jurusan sejarah dan Rika Aprilia mahasiswa jurusan sastra Jepang. Penanaman jiwa kepahlawanan lewat perjuangan pahlawan nasional disampaikan oleh Firhat untuk siswa kelas 4 dengan pemutaran video animasi perjuangan dari pahlawan nasional seperti Kapiten Pattimura, Sultan Hassanudin, Jenderal Soedirman, dan Ki Hajar Dewantara. Melaluia media video animasi, siswa dapat belajar sejarah dengan cara yang lebih menarik dan tentunya lebih mudah diingat karena menggunakan audio dan visual. Selama pemutaran video animasi, para siswa terlihat antusias melihat perjuangan pahlawan dalam memperebutkan kemerdekaan. Siswa diperlihatkan kegigihan, keberanian, dan semangat juang yang dilakukan para pahlawan nasional. Ada kuis kecil diakhir program dimana siswa diberi pertanyaan seputar  hal yang bisa diteladani dari perjuangan pahlawan.

DSC_0510 kecil

Pengenalan bahasa Jepang disampaikan oleh Rika dengan mengenalkan salah satu bentuk puisi Jepang yaitu Haiku. Haiku adalah puisi yang terdiri dari 3 baris dengan jumlah suku kata 5-7-5, baris pertama 5 suku kata, baris kedua 7 suku kata, dan baris ketiga 5 suku kata. Isi dari Haiku biasanya tentang keindahan alam, tapi sebagai awal pengenalan, tema puisi yang diberikan pada siswa kelas 3B adalah tema bebas. Siswa turut antusias dalam menulis mulai dari keindahan alam, kegiatan di pagi hari, sampai tentang guru. Menjelang akhir, suasana sangat meriah karena siswa diajak menyanyi lagu anak-anak dengan bahasa Jepang.

DSC_0646 kecil

Seusai kedua program, ada evaluasi bersama Bapak Joko sebagai wali dari kelas 3, beliau sangat senang karena anak-anak bisa mendapat ilmu baru. “Menjadi seorang guru tidak hanya menyampaikan materi, tapi juga harus bisa merangkul dan memahami murid apalagi yang seusia mereka agar mau mendengarkan dan materi diajarkan tersampaikan.”, ujar Bapak Joko.