OBATI RASA RINDU, MAHASISWA UNDIP LAKUKAN PENGAJARAN LURING DENGAN TETAP MENERAPKAN PROTOKOL KESEHATAN

Foto Bersama Setelah Kegiatan Belajar Bahasa Inggris Selesai

KENDAL, Desa Protomulyo (18/7) – Mahasiswa KKN TIM II UNDIP 2020, Ayu Sulistyowati telah melaksanakan salah satu program kerja di minggu ke-2 yaitu “Mengajar Bahasa Inggris” di Perumahan Kaliwungu Indah Rt.09 Rw.10 Desa Protomulyo. Di masa pandemi COVID-19 yang semakin merajalela semua aktivitas masyarakat sangat terhambat, beberapa pertemuan dibatasi bahkan ditiadakan, seperti kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di sekolah. Seluruh sekolah menerapkan sistem belajar mengajar dengan model daring atau dalam jaringan sebagai upaya tetap terlaksanakannya proses belajar mengajar di tengah wabah tersebut. Dengan di tiadakan proses belajar mengajar melalui tatap muka, menjadikan siswa merindukan suasana sekolah, oleh karena itu untuk mengobati rasa rindu mereka terhadap suasana normal sekolah maka dilaksanakan program kerja “Mengajar Bahasa Inggris” dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Program kerja tersebut merupakan implementasi dari SDGs  tepatnya pada Quality Education atau pendidikan berkualitas. Kegiatan mengajar Bahasa Inggris di ikuti oleh anak-anak kelas empat dan lima sekolah dasar dengan jumlah peserta lima orang anak, materi-materi yang diajarkan yaitu berupa materi dasar seperti; speaking (berbicara), writing (menulis), reading (membaca), dan listening (menyimak). Berdasarkan hasil survei dan wawancara yang telah dilakukan kepada mereka sebelum program kerja berjalan, reaksi mereka sangat antusias untuk belajar Bahasa Inggris. Dua dari lima anak mengaku bahwa di sekolah mereka belum di ajarkan mata pelajaran Bahasa Inggris, padahal di era global seperti sekarang Bahasa Inggris sangatlah penting untuk di gunakan sebagai alat komunikasi. Mengenai nilai mata pelajaran yang di dapat, mereka menyebutkan bahwa nilai mereka kurang bagus. Permasalahan lain yaitu mereka kesulitan untuk menghafal kosa kata dan menerjemahkan teks berbahasa Inggris ke Bahasa Indonesia.  

Pada awalnya mereka merasa “ngeri” mendengar kata Bahasa Inggris, akan tetapi setelah melakukan pendekatan dan mencoba menjelaskan bahwa dalam belajar Bahasa Inggris nanti tidaklah kaku seperti di sekolah pada umumnya dan akan dibuat interaksi yang sangat menyenangkan antara pengajar dan partisipan, maka kemudian mereka mulai merasa lega. Untuk menarik minat dan perhatian mereka, maka dibuatlah “Handbook English Learning Materials” sebagai buku pedoman untuk mereka baca dan pelajari mengenai materi Bahasa Inggris dengan isi yang menarik dan ilustrasi gambar yang warna-warni. Selain itu untuk memotivasi mereka agar serius dalam belajar, maka di sedikan reward untuk anak-anak yang dapat menjawab pertanyaan dengan benar.

Pada pertemuan pertama (16/7) materi yang diajarkan kepada mereka yaitu menghafal kosa kata dan menyebutkan masing-masing sinonim, antonim, dan arti dalam Bahasa Indonesia. Selain itu mereka dapat menuliskan masing-masing kosa kata yang telah di hafalkan tersebut ke dalam table of vocabularies atau tabel kosa kata yang terdapat dalam handbook. Setiap anak di targetkan untuk dapat menghafal minimal 5 kosa kata Bahasa Inggris setiap hari, materi tersebut diharapkan dapat mempermudah dan menjadi bekal anak-anak untuk menerjemahkan teks Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia dan sebaliknya.  

“Belajar Bahasa Inggris dengan kakak mahasiswa sangat menyenangkan, lebih seru daripada belajar di sekolah, dan pelajarannya mudah dipahami.” Ujar salah satu anak yang mengikuti kegiatan belajar Bahasa Inggris.

Selanjutnya pada pertemuan kedua (18/7) materi pelajaran yang diajarkan yaitu menghafalkan nama-nama binatang dan buah beserta cara pengucapan dan penulisan yang baik dan benar, dengan materi tersebut diharapkan anak-anak dapat terbiasa untuk mengucapkan kosa kata Bahasa Inggris dengan baik dan benar.

Meskipun hanya di laksanakan beberapa pertemuan, peningkatan kemampuan berbahasa Inggris anak-anak sangat baik. Mereka yang sama sekali belum mengenal Bahasa Inggris di sekolah, menjadi paham.

Penulis: Ayu Sulistyowati (FIB—Sastra Inggris)

Editor: Lusi Nur Ardhiani