Bahaya Amoniak Untuk Kesehatan : Mahasiswa Peternakan UNDIP Bersama Pemilik Peliharaan Ayam Membuat Pupuk Cair Dari Ekskreta

Pembuatan Pupuk Cair

KABUPATEN INDRAMAYU (19/7/2020), Mahasiswa Peternakan UNDIP bernama Mochamad Sofyan Ali (22) dan pemilik peliharaan ayam membuat pupuk cair dengan menggunakan ekskreta. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Kelurahan Lemahabang pada hari minggu pukul 08.00 hingga selesai.

Kegiatan pembuatan pupuk cair dilaksanakan didasarkan pada kurangnya pengetahuan warga terhadap konsep zero waste. Konsep ini bertujuan untuk meminamilisir dari limbah dan efek yang didapat pada peliharaan ayam milik warga. Sebagian besar warga mengetahui terhadap bahaya ekskreta tetapi banyak juga yang belum mengetahui bagaimana cara menangani limbah yang dihasilkan dari ayam. Ekskreta menghasilkan gas amoniak yang memiliki bau menyengat dan memiliki dampak yang sangat berbahaya karena dapat menyebabkan gangguan saluran pernapasan dan keracunan. Dampak bahaya ini juga dapat memperparah di masa pandemi Covid-19 disebabkan keduanya memiliki persamaan yaitu menyerang saluran pernapasan terutama paru-paru.

Kegiatan tersebut diawali dengan pemberian kuisioner dan hasil dari kuisioner tersebut banyak warga yang belum mengetahui cara pembuatan pupuk cair. Setelah itu, Mahasasiswa dan warga mengumpulkan ekskreta di kandang ayam sebagai bahan utama pembuatan pupuk cair. Pembuatan pupuk cair ini dilakukan dengan menggunakan EM4 dan cara ini sangat mudah untuk dibuat sehingga dapat dipahami oleh warga. Mahasiswa memberitahu masing-masing fungsi dari alat dan bahan yang digunakan agar warga tidak bingung saat pembuatan pupuk cair. Mahasiswa menggunakan jerigen dan botol air mineral bekas yang sudah diisi air sebagai wadah fermentor yang disambungkan dengan selang air, EM4 berisi mikroorganisme sebagai pengurai bahan organik pada ekskreta dan gula merah sebagai nutrien bagi mikroorganisme saat proses fermentasi. Pembuatan pupuk cair berbahan dasar ekskreta dilakukan secara anaerob yaitu dalam kondosi tanpa udara yang bertujuan untuk memfermentasi ekskreta yang dilakukan selam 14 hari. Setelah 14 hari fermentasi, pupuk cair siap digunakan dan diuci coba pada tanaman warga dan pemilik kebun disekitar.

Pelaksanaan kegiatan pembuatan pupuk cair diharapkan agar warga mampu menerapkan konsep zero waste sehingga warga mampu memanfaatkan ekskreta yang berbahaya menjadi sesuatu yang bermanfaat dan warga juga mampu memberikan peluang usaha bagi yang berkeinginan berbisnis dalam penjualan pupuk cair.

Penulis : Mochamad Sofyan Ali/23010117140052/Fakultas Peternakan dan Pertanian 2017.

Editor : Solikhin S.Si., M.Sc.

#kkntimiiperiode2020

#lppmundip

#p2kknundip

#undip