Berusaha tingkatkan minat bertani pada remaja, simak apa yang dilakukan Mahasiswa Undip

Dokumentasi setelah kegiatan berlangsung

Magelang, 01/8/2020. Prihatin dengan semakin meningkatnya ketergantungan remaja terhadap gawai, seorang mahasiswa Undip berusaha menurunkan tingkat ketergantungan terhadap gawai pada remaja melalui edukasi Urban Farming. Urban farming merupakan penggantian konsep pertanian konvensional menjadi pertanian perkotaan. Konsep pertanian ini dinilai mudah dilakukan, bersih dari tanah dan lumpur serta dapat diterapkan dimana saja, termasuk di area perkotaan dan area padat penduduk. Edukasi Urban Farming diharapkan mampu menurunkan tingkat ketergantungan terhadap gawai sekaligus meningkatkan minat bertani pada remaja.

Dokumentasi pelaksanaan kegiatan

Kegiatan edukasi Urban Farming dilakukan secara langsung di pelataran rumah warga. Peserta dari kegiatan tersebut ialah remaja dari Dusun Kalangan, Grabag RT 05/ RW 02 dengan total peserta sebanyak 5 orang. Edukasi yang diberikan yaitu hidroponik teknik sumbu pada tanaman bayam. Para peserta mendapatkan penjelasan serta tutorial pembuatan instalasi hidroponik secara langsung, selain itu peserta juga mempraktekkan tutorial yang diberikan dan mendapatkan booklet berupa buku panduan hidroponik teknik sumbu pada tanaman bayam pada akhir kegiatan. Alat dan bahan yang diperlukan dalam sistem pertanian hidroponik teknik sumbu ialah rockwool, nampan, sumpit, botol plastik, solder listrik, kain flannel, gunting, pisau, benih bayam, air dan larutan AB Mix. Metode yang dilakukan ialah memotong rockwool agar berbentuk balok dengan ukuran 2,5 – 3 cm, kemudian dibasahi dengan air. Benih bayam sebanyak 5-8 biji dimasukkan kedalam potongan rockwool dengan bantuan sumpit, kemudian didiamkan sampai 7-14 hari dengan penyiraman setiap 2 hari sekali agar rockwool tidak kering. Pembuatan instalasi hidroponik dilakukan dengan memotong botol plastik menjadi dua bagian kemudian membuat lubang pada kedua bagian botol yang telah terpotong, setelah itu kain flannel dipotong dengan ukuran 23 x 4 cm. Langkah selanjutnya yaitu membuat larutan nutrisi dari campuran air dan Ab Mix dengan dosis 3-5 ml/L air ke dalam botol plastik bagian bawah. Setelah itu, kain flannel dimasukkan kedalam botol bagian atas dan diposisikan terbalik. Setelah instalasi hidroponik siap digunakan letakkan semaian tanaman bayam diatas kain flannel dalam botol. Perawatan tanaman dapat dilakukan dengan mengganti cairan nutrisi setiap satu minggu sekali, kemudian tanaman bayam dapat dipanen ketika berumur 25 hari setelah tanam.

Dokumentasi instalasi hiroponik yang telah jadi
Dokumentasi peserta bersama instalasi hidroponik buatannya

Kegiatan ini disambut hangat oleh remaja RT 05/RW 02 Dusun Kalangan yang berkontribusi secara langsung selama kegiatan. Menurut saudari Nur, dengan adanya edukasi Urban Farming ini ia menyadari bahwa bertani itu dapat dengan mudah dilakukan, tidak selalu memerlukan tanah, hanya membutuhkan alat dan bahan yang mudah ditemukan dirumah seperti botol bekas dan air, selain itu juga lebih hemat dan menarik. Harapannya dengan adanya edukasi Urban Farming ini, selain mampu menurunkan tingkat ketergantungan terhadap gawai namun juga dapat meningkatkan minat bertani pada remaja sehingga setiap remaja memiliki pandangan berbeda akan pertanian yang dulunya dianggap kotor kini dapat dilakukan dengan bersih dan mudah.

Penulis : (Vivi Anisa)

Editor : Abdi Sukmono