Mahasiswa Undip beri tambahan penanganan pandemi covid-19 berdasarkan arsip kesejarahan

Lasem, Rembang (01/08) – Akibat pandemi Covid-19, seluruh aspek kehidupan diberbagai sektor berubah, jika  penanganan untuk  covid-19 ini tidak dilakukan dengan benar, maka akan berdampak yang sangat komplek terhadap kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu, untuk memberi alternatif tambahan penanganan pandemi, mahasiswa undip yang saat ini sedang kkn memberi rancangan penanganan pandemi berdasarkan dokumentasi arsip kesejarahan. Dalam dokumentasi kesejarahan ini, mahasiswa mengambil perbandingan pandemi covid-19 dengan pandemi flu spanyol yang sama-sama pernah menyerang Indonesia (dulu Hindia Belanda).

Dalam hal ini, rancangan tambahan penanganan covid-19 berdasarkan dokumentasi arsip kesejarahan sudah diserahkan kepada kepala desa Bonang yang bertempat di balai desa, tujuannya rancangan ini bisa digunakan desa untuk menangani pandemi covid-19 di desa tersebut.

Latar belakang program ini yakni Pandemi covid-19 bukanlah pandemi awal yang pernah menyerang Indonesia. Sebelum indonesia merdeka tepatnya masih bernama Hindia Belanda, ada salah satu pandemi yang pernah menyerang wilayah ini, pandemi ini merupakan Flu Spanyol. Saat  Flu Spanyol pertama kali menyerang Hindia Belanda tepatnya 18 juli 1918, dengan bukti harian Bataviaasch Nieuwsblad memuat artikel yang berjudul “De Epidemie” mewartakan wabah ini merebak di beberapa kota di Hindia Belanda. Kenapa saya membandingkan pandemi covid-19 dengan pandemi flu spanyol yakni,

  1. pandemi ini sama-sama pernah menyerang indonesia dan pandemi ini juga sama-sama menyerang sistem pernafasan manusia
  2. Jika ketika menelisik lebih dalam persamaan covid-19 dan flu spanyol, kebijakan yang diambil saat itu oleh pemerintah Hindia Belanda dan pemerintah indonesia hampir sama, yakni sama-sama mengabaikan pandemi tersebut.

Hal ini dapat saya contohkan saat pandemi 1918 menyerang yakni kegagapan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah menyebabkan pejabat setempat mengambil langkah sendiri-sendiri, contohnya saja saat itu kepala Dinas Kesehatan Dr. de Vogel menganjurkan pembuatan satu dasar hukum sebagai rujukan dalam menangani wabah influenza yang merebak di seluruh Hindia Belanda (Buku Yang Terlupakan: Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda oleh Priyanto Wibowo dkk), menceritakan betapa rumitnya mengesahkan suatu undang-undang terkait wabah tersebut, Padahal dari pandemi flu spanyol juga kita dapat mengambil kebijakan yang baik guna mengatasi pandemi covid-19 sekarang dan juga pandemi-pandemi lainnya dikemudian hari. Seperti kata terkenal dari novelis Mark Twain, History doesn’t repeat itself but it often rhymes.

Oleh: Arindra Adhi N