Kesehatan Warga Miris Menurun, Mahasiwa KKN Undip Mengedukasi Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) Dalam Upaya Pencegahan Penyakit Secara Daring

Penulis : Tangkas Mukti Priguna
Dosen Pembimbing : Ir. Djoko Suwandono, MSP
Lokasi KKN : Kelurahan Gayamsari RW 03

Gayamsari (1/8) Sejak awal adanya pandemi COVID-19 yang menjadi sorotan utama publik dan kalangan masyarakat, berbagai kasus penyakit yang biasanya menjadi pusat perhatian kini mulai terabaikan. Dari penyakit yang sederhana hingga kompleks mengalami krisis data dikarenakan jumlah pasien yang seharusnya terjadwal kontrol bulanan mengalami kendala akibat adanya pandemi ini. Hal ini semata-mata pandemi mengalihkan segalanya dan menghambat akses masyarakat untuk tetap menjalani pengobatan rutin. Pada akhirnya, penyakit yang ia miliki pun terabaikan hingga kondisinya menjadi semakin buruk dan berujung pada kematian. Tidak hanya kendala dalam kontrol rutin tetapi juga menurunnya penerapan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) masyarakat akan kesadaran pentingnya pencegahan penyakit selain COVID-19 yang menjadi trending topik harian terkini.

Gambar 1. Sosialisasi edukasi PHBS dan LBS untuk pencegahan penyakit DBD.

Pentingnya upaya pencegahan penyakit atau permasalahan kesehatan yang sering terjadi pada kalangan masyarakat merupakan suatu bentuk upaya preventif akan kesadaran diri dalam menjaga kesehatan. Permasalahan kesehatan yang sering terjadi dimasyarakat yaitu diare, demam berdarah dengue (DBD), leptospirosis, stunting, dan tuberkulosis. Dari permasalahan-permasalahan tersebut, semenjak pandemi, data yang tercatat pun mulai menurun. Yang biasanya datang untuk kontrol rutin atau hanya sekadar pengobatan mulai diacuhkan dikarenakan alasan mereka yang cukup membuat kita menjadi merinding. Alhasil, kesehatan masyarakat pun mulai menurun. Hal ini dikarenakan upaya masyarakat dalam menerapkan PHBS mulai diabaikan. Oleh karena itu, mengingat pentingnya PHBS sebagai upaya preventif pencegahan suatu penyakit, mahasiswa Fakultas Kedokteran KKN Tim II Universitas Diponegoro 2020/2021 dengan dosen pembimbing Ir. Djoko Suwandono., MSP, mengadakan mini webinar guna mengajak masyarakat Gayamsari untuk ikut serta dalam “Sosialisasi Edukasi PHBS untuk Pencegahan Penyakit Diare; DBD; leptospirosis, dan Perdoman Gizi Seimbang serta Tuberkulosis” yang dilakukan secara daring.

Mini webinar  yang dilakukan oleh 5 mahasiswa Fakultas Kedokteran mengenai PHBS ini, membahas tuntas terkait pedoman gizi seimbang, pedoman tuberkulosis, dan PHBS untuk pencegahan penyakit diare, DBD, dan leptospirosis. Pelaksanaan mini webinar ini melibatkan warga Kelurahan Gayamsari khususnya RW 3 dengan jumlah partisipan mencapai puluhan orang. Pada sesi pertama, langsung dimulai penjelasan mengenai poin-poin penting yang disampaikan oleh pemateri. Tentunya, dalam penyampaian materi dilakukan secara interaktif dengan partisipan dan diselipkan ajakan mahasiswa kepada masyarakat untuk menerapkan PHBS yang sesuai dengan anjuran dan pencegahan dari suatu penyakit.

Gambar 2. Gejala DBD.

Tangkas Mukti Priguna, memaparkan penjelasan mengenai Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) dan Lingkungan Bersih Sehat (LBS) untuk pencegahan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). DBD merupakan  penyakit infeksi virus akut yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes sp. Nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus berperan sebagai vektor atau pembawa virus dengue. Mekanisme penularan virus ini terjadi pada saat nyamuk menggigit dan menghisap darah seseorang yang sudah terinfeksi virus dengue dan ketika yamuk tersebut menggigit orang lain maka virus akan tersebar. Biasanya nyamuk menggigit di pagi hari sampai sore menjelang petang. Pada orang yang terinfeksi virus dengue dapat menimbulkan gejala seperti demam tingi mendadak terus menerus yang berlangsung 2-7 hari, sakit kepala, nyeri pada belakang mata, badan lemas, dan adanya perdarahan pada bawah kulit (tampak bulatan kecil berwarna merah/ungu/kecoklatan); mimisan; perdarahan gusi; muntah darah; dan BAB hitam.

Gambar 3. PHBS dan LBS melalui program PSN 3M PLUS.

“Upaya PHBS dan LBS dapat diterapkan melalui salah satu program pemerintah untuk mencegah penyakit DBD yaitu pemberantasan sarang nyamuk (PSN) 3M PLUS. Program tersebut merupakan upaya untuk mengendalikan vektor (nyamuk). Adapun program 3M nya yaitu: 1) Menguras dan menggosok dinding tempat yang sering menjadi penampungan air seperti bak mandi, kendi, toren air, drum, dan tempat penampungan air lainnya. 2) Menutup rapat-rapat tempat penampungan air atau mengubur barang bekas di dalam tanah agar tidak berpotensi menjadi sarang nyamuk. 3) Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang limbah barang bekas menjadi bernilai ekonomis. Sedangkan untuk program PLUS nya diantaranya memelihara ikan pemakan jentik (cupang, nila merah, cere), menggunakan obat anti nyamuk, memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi, memeriksa tempat penampungan air, meletakan pakaian bekas pakai dalam wadah yang tertutup, memberikan larvasida pada tempat penampungan air yang susah dikuras, memperbaiki saluran dan talang air yang rusak, dan menanam tanaman pengusir nyamuk (lavender, tapak dara, marygold, sereh, kemangi, kecombrang)”. Kata Tangkas Mukti Priguna, Minggu (1/8/2021).

Gambar 4. Sesi foto bersama dengan partisipan.

Setelah dilakukan penyampaian materi yang cukup interaktif, pada sesi kedua dilanjutkan dengan diskusi tanya jawab. Dikarenakan penyampaian materi yang sudah cukup lengkap dan keterbatasan waktu pada akhirnya untuk sesi tanya jawab ditiadakan dan memberikan kesempatan pertanyaan kepada warga melalui grup WhatsApp. Sebagai penutup, tiada kata untuk berhenti bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran untuk tetap menerapkan PHBS dikala pandemi. Meskipun COVID-19 menjadi prioritas utama akan tetapi justru penyakit yang lain perlu diwaspadai. Mengingat pentingnya menjaga kesehatan dalam upaya pencegahan berbagai penyakit yang sering terjadi dikalangan masyarakat. Oleh karena itu, perlunya sikap peduli terhadap diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan lingkungan. Kemudian pada akhir sesi mini webinar, ditutup dengan foto bersama dengan partisipan.

Gambar 5. Pemasangan poster di Kelurahan Gayamsari.

Sebagai informasi tambahan, mini webinar yang dilakukan ini merupakan bagian program pelaksanaan KKN Tim II Universitas Diponegoro yang diselenggarakan selama 3 hari berturut-turut. Dengan topik pertama yaitu sosialisasi COVID-19 terkini. Pada hari berikutnya dilanjutkan dengan topik sosialisasi kesehatan gigi dan mulut. Dan pada hari terakhir, dengan topik gizi seimbang, tuberkulosis, dan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) untuk pencegahan penyakit diare, leptospirosis, dan Demam Berdarah Dengue (DBD). Selain penyampaian materi yang dilakukan secara daring melalui aplikasi zoom, juga pemberian materi dilakukan dengan cara penyebaran materi melalui grup WhatsApp, dan penempelan poster yang dilakukan di Kelurahan Gayamsari.

Berikut postingan lainnya: