Anak Masih Suka Pilih-Pilih Makanan? Gebrakan Baru, Mahasiswa KKN Tim I UNDIP Coba untuk Memperkenalkan Konsep Isi Piringku pada Anak-Anak

Semarang (17/01/2022) – Pada dasarnya, orang tua kerap kali mengeluhkan perihal kendala anaknya yang hanya ingin mengonsumsi makanan tertentu saja. Hal ini pun tanpa disadari menimbulkan dampak berkelanjutan bila dibiarkan, salah satunya adalah asupan zat gizi yang masuk tidak sepenuhnya bisa didapatkan hanya dengan satu jenis makanan saja sehingga anak pun dapat berisiko kekurangan zat gizi.

Selaras dengan pernyataan dari Ketua Kader Posyandu setempat yang mengemukakan bahwa banyak orang tua mengeluhkan anaknya sulit makan. Padahal notabene-nya, orang tua di wilayah RW XV Kelurahan Tlogosari Kulon, Semarang memiliki pendidikan dan penghasilan yang rerata cukup. Setelah ditelusuri lebih lanjut, salah satu penyebab timbulnya permasalahan tersebut adalah anak yang kurang diperkenalkan dengan kelompok makanan lain sehingga anak kurang paham dan menjadi kurang tertarik. Oleh karena itu, diperlukan suatu program untuk setidaknya dapat menarik perhatian anak-anak terhadap berbagai kelompok makanan.

Sebelumnya, konsep terkait gizi yang dikenal di kalangan masyarakat adalah “Empat Sehat Lima Sempurna”. Namun, saat ini tak banyak yang mengetahui bila konsep tersebut telah diubah menjadi “Tumpeng Gizi Seimbang” yang cakupannya lebih detail sebab merangkum tata cara konsumsi yang baik dan benar dengan berbeda kelompok makanan, mengingatkan terkait aktivitas fisik, juga penimbangan berat badan. Bentuk sederhana dari “Tumpeng Gizi Seimbang” adalah konsep “Isi Piringku” yang mensimulasikan besaran asupan yang semestinya pada media piring.

Gambar 1. Dokumentasi Kegiatan pada Shift 1

Metode edukasi dengan media permainan mewarnai dan menempel merupakan cara yang dianggap tepat untuk dilakukan pada program kali ini. Mulanya, anak dijelaskan terlebih dahulu menggunakan bahasa mereka yang mudah dipahami terkait konsep “Isi Piringku”. Kemudian, anak-anak dibagi menjadi tiga shift mengikuti jadwal mengaji di TPQ As-Salamah untuk menghindari kerumunan. Anak yang berusia 3-6 tahun diberikan media kertas bergambar piring kosong yang nantinya anak dituntun untuk menempelkan dan mencocokkan potongan gambar makanan yang telah disediakan. Cara meminimalisir kebingungan dan keramaian anak adalah dengan anak dipersilahkan duduk di tempat masing-masing kemudian Tim KKN yang akan mengelilingi mereka sehingga belajar dapat lebih fokus bila dilakukan perorangan.

Gambar 2. Dokumentasi Kegiatan pada Shift 2 dan 3

Selain daripada itu, adapula anak yang berusia 7 tahun ke atas, diberikan sebuah media kertas bergambar dan disediakan pensil warna atau crayon untuk mereka mengimajinasikan sendiri makanan tersebut setelah diberikan edukasi secara bersama. Hal ini ternyata mengundang antusiasme anak dalam belajar untuk mengenal jenis makanan lain yang belum ia ketahui sebelumnya. Tak hanya itu, orang tua pun memberikan apresiasi terhadap keberjalanan program ini dan merasa terbantu untuk mengedukasi anak tentang gizi. Harapannya, dengan adanya program ini menjadi tambahan pengetahuan dan ketertarikan anak terhadap berbagai jenis makanan serta dapat meningkatkan nafsu makan anak. Dengan demikian, anak dapat terhindar dari risiko kekurangan asupan zat gizi.

Penulis : Raniah Hisanah

Dosen Pembimbing KKN : Dr. Ir. Yoyok Budi Pramono, S.Pt., M.P., IPM

Lokasi KKN : TPQ As-Salamah Wilayah RW XV Kelurahan Tlogosari Kulon, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang