Muka Laut Meningkat! Mahasiswi KKN Undip Berikan Edukasi tentang Perubahan Iklim

Bersama Ibu-Ibu PKK RW 01 Kelurahan Purwoyoso yang Menjadi Peserta Edukasi
Bersama Ibu-Ibu PKK RW 01 Kelurahan Purwoyoso yang Menjadi Peserta Edukasi

Semarang (11/08/22) Negara Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan luas wilayah laut yang lebih besar daripada wilayah daratan, patut khawatir terhadap perubahan iklim yang sedang menjadi perhatian dunia saat ini. Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim PBB melaporkan bahwa terjadi peningkatan suhu bumi sebesar 1,1 oC. Kemudian, BMKG juga turut menyampaikan bahwa perubahan iklim di Indonesia sudah mencapai batas kritis. BMKG memprediksi terjadinya kenaikan suhu hingga 3 derajat Celsius atau lebih pada akhir abad 21 nanti. Perkiraan ini berdasarkan analisis suhu udara terkait adanya perubahan iklim yang mengkhawatirkan sehingga menyebabkan kenaikan suhu di perkotaan Indonesia.

Adanya perubahan iklim ini, mengakibatkan suhu lautan turut meningkat. Suhu muka air laut mencapai 29 oC pada saat terjadi La Nina moderat dan badai tropis seroja di Nusa Tengga Timur. Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA) melaporkan bahwa permukaan air laut telah naik lebih cepat akibat adanya perubahan iklim yang semakin kritis. Kenaikan muka laut ini meningkat lebih dari dua kali lipat, dari 1,4 mm per tahun di sebagian besar abad ke-20 menjadi 3,6 mm per tahun 2006 hingga 2015. Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim PBB juga memperkirakan air laut akan naik 40 hingga 63 cm pada 2100. Selain itu, es abadi di Puncak Jaya Wijaya hanya tersisa kurang lebih 2 km2 atau hanya 1% dari luas awalnya sekitar 200 km2. BMKG memperkirakan gletser tersebut akan mencair dan punah pada sekitar tahun 2025 – 2026.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menaksir sekitar 115 pulau kecil di Indonesia terancam hilang atau tenggelam apabila muka laut kian meningkat. Ratusan pulau berpotensi terdampak kenaikan muka air laut sekaligus penurunan muka tanah. Data lainnya dari lembaga riset dan advokasi Climate Central menunjukkan bahwa, kenaikan air laut setinggi satu meter saja sudah cukup untuk menenggelamkan sebagian wilayah pantai utara Jawa. Hal ini dikarenakan kemiringan tanah di kawasan pesisir tersebut sangat kecil (0-20 derajat). Semarang, sebagai salah satu kota di Indonesia yang terletak di pesisir laut, juga dapat berpotensi terkena dampak tersebut.

Pemberian Edukasi tentang Peningkatan Kesadaran Masyarakat terhadap Kenaikan Muka Laut sebagai Dampak dari Perubahan Iklim
Pemberian Edukasi tentang Peningkatan Kesadaran Masyarakat terhadap Kenaikan Muka Laut sebagai Dampak dari Perubahan Iklim

Adanya ancaman tersebut, membuat mahasiswa KKN UNDIP terdorong untuk melakukan edukasi mengenai peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kenaikan muka laut sebagai dampak dari perubahan iklim. Kegiatan edukasi ini telah dilaksanakan pada Sabtu, 23 Juli 2022 dengan peserta ibu-ibu PKK RW 01 kelurahan Purwoyoso. Materi edukasi disampaikan melalui poster yang berisi penyebab perubahan iklim, dampak perubahan iklim, dan juga solusi untuk mencegah perubahan iklim tersebut. Salah satunya adalah plastik yang turut menjadi penyumbang penyebab perubahan iklim. Plastik dari proses produksi, konsumsi, hingga pembuangannya menghasilkan emisi karbon yang tinggi sehingga berkontribusi terhadap perubahan iklim karena kondisi bumi semakin memanas. Semakin tinggi emisi karbon yang dihasilkan, maka semakin tinggi konsentrasi gas-gas rumah kaca yang ada di atmosfer. Aktivitas-aktivitas manusia seperti penggunaan kendaraan bermotor, cfc yang dihasilkan AC dan kulkas, asap pabrik, serta penggunaan plastik membuat timbulnya efek rumah kaca. Adanya Efek Rumah Kaca menyebabkan panas matahari yg seharusnya sebagian dipantulkan tetapi malah terjebak oleh atmosfer dan menyebabkan suhu bumi semakin panas dr waktu ke waktu, hal ini disebut sebagai pemanasan global yang menyebabkan suhu bumi menjadi meningkat. Peningkatan suhu bumi akhirnya menyebabkan es-es di kutub mencair dan membuat muka laut semakin meningkat.

Para peserta sangat aktif selama edukasi berjalan, para ibu-ibu PKK bertanya dan juga menyampaikan pencegahan perubahan iklim yang sudah mereka lakukan di sekitar kelurahan Purwoyoso. “Wah ternyata plastik efeknya luar biasa bahaya ya mbak”.

Dengan adanya edukasi yang sudah dilaksanakan, diharapkan perwakilan dari PKK kelurahan Purwoyoso dapat menyebarkan ilmu yang telah diperoleh dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat mengurangi perubahan iklim yang semakin kritis saat ini.

Penulis: Adella Eka Wardani / 26050119120005

(Oseanografi – Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro)

DPL: Dr. Ir. Suzanna Ratih Sari, MM, MA

Kelurahan Purwoyoso, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah.

KKN TIM II UNDIP 2021/2022