HIGHLIGHT UMKM DESA : SI KECIL YANG MULAI MEROSOT! BAGAIMANA SOLUSINYA?

Magersari, Kota Magelang (08/08) – Berdasarkan namanya, UMKM memiliki kepanjangan Usaha Mikro Kecil Menengah. Namun jangan salah sangka, walaupun dinamakan kecil, UMKM memiliki kontribusi yang besar terhadap perekonomian secara makro. Para pelaku usaha ini dapat kita temukan disekitar kita baik itu teman, saudara, tetangga, atau justru kita sendiri. Pemandangan atau aktivitas kita sehari-hari tidak lepas dari berbagai layanan dan barang produksi hasil dari kreasi pelaku UMKM.

Berdasarkan data dari Kementrian Koperasi dan UMK RI di tahun 2017 melaporkan bahwa secara jumlah unit, UMKM memiliki market share sekitar 99,99% (62.9 juta unit) dari total keseluruhan pelaku usaha di Indonesia. Sementara usaha besar hanya sebanyak 0,01% atau sekitar 5.400 unit. Menurut UU No. 20 Tahun 2008, menyebutkan bahwa UMKM merupakan perusahaan kecil yang dimiliki dan dikelola oleh seseorang atau dimiliki olek sekelompok kecil orang dengan jumlah kekayaan pendapatan tertentu. Berdasarkan sensus ekonomi di tahun 2016 menunjukkan bahwa 3 bidang usaha UMKM non-pertanian yang jumlah pelaku usaha menempati urutas teratas adalah pedagang besar dan eceran, penyediaan akomodasi serta penyediaan makanan serta minuman, dan juga industri pengolahan.

UMKM yang berada di desa Magersari terdapat di dalam 3 usaha teratas menurut sensus ekonomi tahun 2016. Usaha tersebut antara lain adalah jasa boga (katering), pusat pengolahan makanan ringan, pedagang pakaian, dan juga pedagang ecer tumbuh-tumbuhan imitasi. Perkembangan potensi UMKM di desa Magersari tidak lepas dari dukungan masyarakat sekitar dan juga konsumen tetap, sehingga pelaku usaha dapat memutarkan pendapatan yang didapat.

Namun perkembangan potensi si kecil UMKM tersebut mulai terkendala dan merosot drastis. Semenjak adanya virus covid 19 yang menyebabkan tatanan struktur ekonomi dan pemasaran menjadi berubah. Apakah masih sehat si kecil UMKM saat ini? Menurut pemaparan salah satu pemilik dari usaha pabrik pengolahan makanan ringan (I), semenjak adanya virus corona 19 ini membuat pabrik harus mengubah sistem produksi. Sebelum adanya virus corona, proses produksi dilakukan setiap hari. Namun setelah adanya virus corona, proses produksi dilakukan setiap 1 minggu penuh, kemudian 1 minggu libur, dilanjutkan produksi kembali selama 1 minggu. Hal ini membuat omzet atau pendapatan menurun. Penurunan omzet tidak hanya dirasakan oleh (I), namun oleh semua UMKM yang berada  di desa Magersari.

Dengan adanya permasalahan tersebut, mahasiswa UNDIP berniat untuk memberikan suatu cara atau strategi dalam membangun bisnis di era pandemi ini. Beberapa cara yang diajarkan oleh mahasiswa UNDIP berdasarkan berbagai sumber yang disesuaikan dengan kondisi saat ini. Informasi yang diberikan mahasiswa tersebut dilakukan secara daring, mengingat situasi dan kondisi saat ini yang sedang terjadi. Strategi bisnis yang dapat dilakukan oleh UMKM di masa pandemi saat ini adalah sebagai berikut:

  1. Melalui iklan digital
  2. Melakukan strategi pemasaran kreatif
  3. Melakukan promosi dan kolaborasi kreatif
  4. Melakukan manajemen resiko
  5. Melakukan komunikasi dengan pemasok
  6. Mengikuti tren belanja konsumen
  7. Memfokuskan penjualan secara online
  8. Tingkatkan komunikasi dengan pelanggan

Mahasiswa tersebut berharap bahwa dengan adanya pembelajaran mengenai stategi bisnis melalui e-commerce tersebut, para pelaku usaha yang bergabung di dalam grup “Silaturahmi RT 06” dapat membaca dan dapat melakukan strategi bisnis yang sesuai dengan kondisi masing-masing usaha yang dimiliki dan yang dijalankan.

Pelaksana program

Susana Vani Natalia

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Direview Oleh: Maharani Patria Ratna