Menghidupkan Kembali Filosofi Padasan di Tengah-Tengah Masyarakat Metropolitan

Radio Dalam, Jakarta Selatan (9/8) Terjadinya Pandemi Covid di Indonesia mengakibatkan kewasapadaan masyarakat terhadap kesehatan diri meningkat dari sebelumnya. Masker yang biasanya dikenakan ketika melakukan kegiatan tertentu saja, setelah terjadinya pandemi masker menjadi sesuatu perlengkapan pakaian yang wajib. Berkumpul yang tadinya dapat dilakukan dengan jumlah berapa saja, kini dibatasi sekali. Termasuk kebiasaan masyarakat dalam mencuci tangan juga terdampak pengaruhnya. Kini mencuci tangan menjadi kegiatan yang darurat di masa pandemi. Masyarakat sekarang lebih rajin mencuci tangan setiap saat sesuai anjuran World Health Organization (WHO). WHO menganjurkan agar setiap orang yang pasca berpergian hendaknya mencuci tangan terlebih dahulu sebelum masuk dan berinteraksi dengan keluarga di dalam rumah.

Sekarang jika kita memperhatikan tempat-tempat umum, rata-rata disediakan wadah untuk mencuci tangan. Begitu pula jika kita memperhatikan rumah warga yang sadar akan pentingnya wadah tersebut. Namun sayangnya tidak semua rumah masayarakat di zaman dewasa ini yang pekarangannya menyediakan tempat cuci tangan. Jadi setiap orang yang baru datang mencuci tangannya di dalam rumah, padahal potensi terbawa covid lebih besar dibanding jika dilakukan diluar rumah. Dalam budaya tradisional orang Jawa, tempat cuci tangan ini sering disebut “padasan.” Padasan zaman dahulu diletakkan di depan rumah warga. Fungsinya supaya setiap orang yang hendak masuk rumah dapat membersihkan dirinya terlebih dahulu dari kotoran yang menempel. Dari segi spiritual, fungsinya untuk menetralisir energi negatif dari luar agar tidak terbawa masuk kedalam rumah.

Di zaman globalisasi ini, padasan seperti unsur yang terlupakan di setiap rumah masyarakat. Tempat cuci tangan atau westafel diletakkan di dalam rumah. Dibuatnya westafel di dalam rumah mengakibatkan berkurangnya kesadaran orang terhadap pentingnya mencuci tangan sebelum masuk rumah. Biasanya setiap orang yang bertamu akan masuk dan langsung bersalaman dengan pemilik rumah, padahal kebersihan tangan si tamu tidak terjamin. Selain itu hal ini membuat terkikisnya kearifan lokal padasan. Mewabahnya Covid membawa hikmah tersendiri bagi budaya padasan. Meningkatknya kesadaran masyarakat terhadap mencuci tangan membuat kesadaran masyarakat terhadap fungsi padasan turut hidup kembali.

Salah satu Mahasiswa KKN Tim II Undip Jakarta Selatan mencoba program pembuatan wadah cuci tangan yang disosialisasikan kepada warga dengan membawa filosofi padasan. Tentu padasan dimasa covid ini memiliki perbedaan dengan padasan di zaman nenek moyang dahulu. Jika padasan dahulu rata-rata berupa gentong yang terbuat dari tanah liat, padasan dimasa sekarang dibuat dari bahan plastik berupa ember atau galon yang dilubangi untuk bagian kerannya. Walau padasan sekarang terbilang lebih sederhana, tetapi yang terpenting ialah fungsi dan makna filosofi dari padasan itu serupa. Rencanya padasan tersebut akan dibagikan ke beberapa warga Antena VI, RT 16, Radio Dalam yang belum memiliki.

Penulis: Reyhan Vallerian Andera (Sejarah – FIB)

Editor: Eva Annisaa’