Pusat Perbelanjaan Serba Terbatas? Mahasiswa Undip ini Sosialisasikan Cara Penyimpanan Bahan Makanan Supaya Lebih Awet!

Purwakarta (24/7/2021). Melakukan aktivitas sehari-hari di masa pandemi Covid-19 memerlukan perencanaan yang tepat dan kemampuan beradaptasi yang cepat supaya kerugian yang dirasa tidak bertambah. Dengan anjuran physical distancing yang mengharuskan selalu jaga jarak dengan orang lain membuat semua aktivitas serba terbatas. Kegiatan yang terdampak bukan hanya bekerja atau belajar, tetapi aktivitas sehari-hari seperti berbelanja bahan makanan sehari-hari. Bahan makanan merupakan kebutuhan yang wajib dipenuhi dengan beragam variasi, nilai gizi, dan tingkat kesegarannya. Berbelanja bahan makanan setiap hari di masa dimana angka positif bisa mencapai 38000 jiwa per hari akan sangat riskan karena berpotensi berdesakan di tempat pembelanjaan.

Adapun aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKKM) yang diperintahkan pemerintah pusat untuk Pulau Jawa dan Bali membikin kegiatan berbelanja bahan makanan sedikit lebih sulit. Terdapat dua poin aturan yang mengatur mengenai tempat perbelanjaan, yakni (1) Jam operasional supermarket, pasar tradisional, toko kelontong, dan pasar swalayan dibatasi hingga pukul 20.00 dengan kapasitas pengunjung maksimal 50 persen, dan (2) Kegiatan di pusat perbelanjaan/mal/pusat perdagangan ditutup sementara. Tidak hanya tempat berbelanja bahan makanan, tempat makan yang menyajikan makanan jadi pun dibatasi juga. Aturan tersebut berbunyi, “Restoran, rumah makan, kafe, pedagang kaki lama, lapak jajanan yang berada di lokasi tersendiri maupun di pusat perbelanjaan/mal hanya boleh menyediakan layanan antar dan take away, serta dilarang menerima makan di tempat.”

Namun bagaimana supaya bahan makanan sehari – hari tetap segar sekaligus meminimalir kegiatan berbelanja yang meningkatkan potensi bertemu orang lain? Caranya adalah menerapkan cara penyimpanan yang baik dan benar.

Salah satu program yang dilaksanakan oleh mahasiswa dari Universitas Diponegoro dalam kegiatan Kuliah Kerja Nayata (KKN) ini mensosialisasikan cara penyimpanan yang baik dan benar agar mendukung aksi #DirumahSaja. Program ini dilakukan dengan daring melalui groupchat Whatsapp dari ibu-ibu PKK RT 40 sebanyak 25 orang di Kelurahan Nagrikaler, Kecamatan Purwakarta, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Peserta membagikan modul yang berjudul “Modul Cara Penyimpanan Bahan Makanan yang Benar demi Mendukung Upaya #DirumahSaja” diruang obrolan lalu dilakukan tanya jawab. Setelah kegiatan sosialisasi secara daring, mahasiswa membagikan modul versi cetak kepada para peserta yang menginginkannya.

Penyerahan modul ke peserta

Salah satu peserta mengatakan bahwa sosialisasi ini membantu beliau dalam menghemat biaya pengeluaran untuk berbelanja bahan makanan. “Saya jadi lebih tahu cara penyimpanan makanan supaya lebih hemat dan efisien,” ucap Siti Rochmat, salah satu peserta sosialisasi KKN ini.

Diharapkan dengan adanya sosialisasi mengenai cara penyimpanan bahan makanan ini lebih membantu warga khususnya para ibu rumah tangga untuk meminimalisir keluar rumah demi memutus rantai penyebaran virus Covid-19 di daerah setempat.

Penulis: Ni Putu Ermina Saraswati / S1-Agribisnis

DPL: Dr. Aminah, S.H., M.Si