Pembuatan Sabun dengan Agen Antibakteri Flavonoid dari Daun Kelor untuk Mewujudkan SDGs Nomor 3

Hasil survei Kuliah Kerja Nyata Tim I Tahun 2021/2022 yang telah dilakukan mengindikasikan diperlukannya peningkatan paradigma sehat di Kelurahan Barusari Kecamatan Semarang Selatan. Paradigma sehat merupakan sebuah pendekatan yang mengedepankan konsep promotif dan preventif dalam pelayanan kesehatan.

Afriza Ni’matus Sa’adah, mahasiswi Teknik Kimia Universitas Diponegoro, tim I KKN Tahun 2021/2022 yang dibimbing oleh Ibu Arwinda Nugraheni, S.KM., M.Epid mampu memberikan peningkatan paradigma sehat di Kelurahan Barusari melalui program kerja pembuatan sabun dengan agen antibakteri flavonoid dari daun kelor. Daun kelor mengandung 5,53% flavonoid (Nurulita et al. 2019). Flavonoid termasuk dalam kelompok senyawa bioaktif dengan sifat antioksidan dan anti inflamasi (Adamczak et al. 2019). Dalam manfaatnya, flavonoid memiliki sifat antibakteri karena mampu melepaskan energi tranduksi terhadap membran sitoplasma bakteri dan menghambat mobilitas bakteri (Dewi et al. 2019) Flavonoid bekerja dengan cara mendenaturasi protein sehingga aktifitas metabolisme sel bakteri berhenti (Shofiani et al. 2020). Flavanoid memiliki beberapa biokimia dan efek antioksidan yang terkait dengan berbagai penyakit seperti kanker, penyakit alzheimer, aterosklerosis, dan lain-lain (Burak and Imen, 1999; Castañeda-Ovando et al. 2009; Lee et al. 2009).

Selain itu, program kerja ini juga dapat mewujudkan SDGs nomor 3 yaitu “Memastikan kehidupan yang sehat dan mendukung kesejahteraan bagi semua untuk semua usia”. Upaya pembuatan sabun dengan agen antibakteri flavonoid dari daun kelor ini telah disosialisasikan kepada kelompok PKK Kelurahan Barusari Kecamatan Semarang Selatan pada hari Selasa, 25 Januari 2022.

Penulis:

Afriza Ni’matus Sa’adah –  Mahasiswi S1 Teknik Kimia Universitas Diponegoro

Kuliah Kerja Nyata Tim I Tahun 2021/2022