Bersinergi Hadapi Globalisasi! Mahasiswa Undip dan Karang Taruna Desa Badegan Mempelajari Budaya Asing Untuk Meningkatkan Kualitas Diri

Pati (30/7) – Globalisasi dapat diartikan suatu proses yang menempatkan masyarakat dunia dapat menjangkau satu dengan yang lain atau saling terhubungkan dalam semua aspek kehidupan, baik dalam bidang ekonomi, politik, budaya, teknologi maupun lingkungan.

Globalisasi juga merupakan proses yang meliputi peran seluruh dunia yang diambil dari frasa “global”.

Dalam globalisasi, terdapat “batas-batas” negara yang sepertinya telah memudar.

Batas yang dimaksud bukanlah batas-batas geografi, namun beberapa apsek kehidupan seperti sosial budaya, normal, adat, eknomi, agama hingga politik.

Globalisasi juga menyebabkan banyaknya budaya yang keluar dan masuk ke dalam sebuah negara, seperti di Indonesia.

Kita sering kali melihat berbagai budaya asing yang terdapat di berbagai aspek kehidupan.

Budaya asing dapat masuk dan menyebar di Indonesia melalui berbagai cara seperti dibawa oleh para wisatawan luar negeri, penyebaran kesenian hingga ditirukan oleh orang Indonesia sendiri.

Budaya asing atas kasus ini adalah budaya barat tentunya sangat berbanding terbalik dengan budaya Indonesia yang menganut budaya timur.

Seperti yang diketahui, di dunia ini terdapat dua kiblat budaya yakni budaya barat yang dianut oleh negara-negara di Eropa dan Amerika, serta budaya timur yang dianut oleh negara-negara Asia.

Budaya yang dimaksud dapat dilihat dari beberapa aspek yaitu gaya hidup, trend, sopan santun, pendidikan, tingkat percaya diri, ketertiban, kedisiplinan, kegiatan perayaan, kedudukan dalam keluarga, dan lain-lain.

Budaya barat sendiri sangat identik dengan kebebasan dalam kehidupan sedangkan budaya timur identik dengan nilai agama dan moral serta mengedepankan sopan santun dan rasa malu.

Sebagai bagian dari efek adanya globalisasi, banyak para generasi terutama generasi muda sering kali “terjebak” dalam pencampuran budaya tersebut.

Apalagi kebanyakan budaya barat yang dikenalkan di Indonesia dengan gaya “negatif” seperti penggunaaan pakaian minim dan kehidupan seks bebas membuat stigma budaya barat menjadi buruk.

Hal tersebut lagi-lagi tak terlepas dari perbedaan kiblat yang dianut oleh Indonesia sebagai budaya timur dengan budaya barat, sehingga rasanya kurang pas jika melihat budaya barat yang datang tersebut.

Padahal sebenarnya budaya barat juga banyak nilai-nilai positif yang dapat ditiru oleh kita, bangsa Indonesia untuk meningkatkan kualitas diri.

Oleh karena itu, Halim Fitra Yuwana, mahasiswa Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya Undip mengadakan sosialisasi sekaligus forum diskusi bersama para anggota Karang Taruna Desa Badegan untuk mengenalkan beberapa contoh kecil kebudayaan barat yang dapat diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Dari total 15 undangan yang dibagikan, semua undangan berkenaan hadir untuk ikut andil dalam sosialisasi tersebut.

Tak hanya mendengarkan sosialiasi yang diberikan, para anggota Karang Taruna Badegan juga aktif dalam bertanya dan menyampaikan pendapat mereka tentang budaya barat.

Dalam sosialisasi tersebut, Halim juga mengingatkan bahwa budaya barat merupakan budaya dunia yang harus diketahui oleh para generasi muda sebagai bagian dari globalisasi.

Meskipun demikian, mengadopsi budaya barat untuk diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari bukan berarti kita harus melupakan budaya asli Indonesia.

Jamari, salah satu anggota karang taruna juga berharap bahwa sosialisasi yang dilakukan oleh mahasiswa Undip tidak hanya dapat bermanfaat pada saat itu juga, melainkan di hari-hari kedepan dalam kehidupan antar individu.

Sosialisasi mengenai pengenalan budaya barat juga dilakukan bersamaan dengan sosialisasi pencegahan narkoba sebagai program kerja multidisiplin tim KKN Undip Desa Badegan.

Sosialisasi dua program kerja ini sendiri dilaksanakan pada Sabtu, 30 Juli 2022 pukul 19.30 WIB.

Selain pihak Karang Taruna, Kepala Desa Badegan yakni Antonius Siswa Trijaya juga ikut menghadiri sosialisasi yang dibawakan oleh tim KKN Undip desa Badegan.