MENYULAP LIMBAH DAPUR RUMAH TANGGA MENJADI ECO-ENZYME DENGAN SEJUTA MANFAAT
Pedurungan Tengah (07/07/22) – Sampah organic yang dibiarkan begitu saja tanpa diolah dapat menyebabkan banyak penyakit serta menimbulkan bau dari hasil pembusukan. Faktanya sampah organic mendominasi timbulan sampah di kota Semarang. Sebanyak 60,79% jumlah sampah organic dari seluruh timbulan sampah yang ada dikota semarang dengan total berat 430.749,45 ton/tahun pada tahun 2021. Jumlah sampah ini dapat berkurang jika masing masing rumah tangga melakukan pengolahan terhadap sampah yang mereka hasilkan. Contoh pengolahan yang paling mudah dan murah adalah dengan mengubah sampah organik menjadi eco enzyme.
Eco-enzyme adalah larutan organik yang dihasilkan dengan fermentasi sederhana dari limbah sayuran segar, limbah buah dengan penambahan gula merah dan air dengan menggunakan mikroorganisme selektif seperti Ragi dan Bakteri. Pengolahan limbah organic menjadi Eco-Enzyme ini terbilang sangat mudah, karena Bahan yang dipakai juga sangat mudah didapat. Hanya bermodal gula merah, sisa kulit buah, air, dan botol plasik. Maka dari itu Pengolahan ini sangat cocok untuk mengurangi sampah organic terutama dalam skala rumah.
Eco-Enzyme memiliki segudang manfaat bagi masyarakat sekitar. Mulai dari Kesehatan kulit sampai mencegah terjadinya rematik. Selain itu Eco-Enzyme juga dapat berguna sebagai cairan pembersih, pupuk tanaman, vitamin tanaman, deterjen pakaian, dan lain lainnya
Pada Minggu pagi, Stefanus Martin Sampouw Mahasiswa KKN TIM II Undip mengajak pengurus dari kelompok tani Tanimulyo untuk membuat Eco-Enzyme dari limbah kulit buah. Pelatihan diawali dengan melakukan edukasi tentang bahaya dan potensi dari limbah organic melalui modul informatif. Pembuatan Eco-Enzyme bersama sama dilakukan dengan memotong motong sisa kulit buah yang masih segar, lalu di masukan kedalam botol bekas. Lalu masukan bahan bahan lainya seperi gula merah dan air kedalam botol bekas. Perbandingan yang paling efektif dalam pembuatan Eco-Enzyme adalah 3:1:10
dengan 3 untuk kulit buah, 1 untuk gula merah, dan 10 untuk air bersih.
Diharapkan setelah pelaksanaan program ini, masyarakat bisa lebih sadar terkait bahayanya limbah organic yang dihasilkan. Selain itu diharapkan masyarakat bisa mulai mencoba untuk melakukan pengolahan sampah dapur rumah tangga secara mandiri
DPL : Dr. Rr. Karlina Aprilia Kusumadewi, S.E, M.Sc, Ak.
Lokasi : Tani Mulyo, RT 02 / RW 08, Kecamatan Pedurungan Tengah, Kelurahan Pedurungan, Kota Semarang
Nama : Stefanus Martin Sampouw
Fakultas : Teknik