Bumiku Bersih, Mahasiswa KKN Undip Beri Pelatihan Ecobrick dan Tips Pemasarannya

Desa Batunyana, Kabupaten Tegal (13/08/2022) – Sampah merupakan sisa dari kegiatan sehari-hari yang tidak akan digunakan kembali. Sampah memiliki 3 jenis, yaitu sampah organik, anorganik, dan B3. Sampah anorganik merupakan jenis sampah yang menjadi permasalahan utama warga Desa Batunyana.

Dalam hal ini, sampah anorganik yang menjadi isu pembicaraan warga adalah sampah plastik. Warga masih sering membakar dan mengubur sampah dalam tanah. Apabila dibakar, sampah akan menimbulkan asap karbon monoksida (CO) yang apabila terhirup manusia akan mengganggu fungsi kerja hemoglobin (sel darah merah) yang semestinya mengangkut dan mengedarkan oksigen (O2) ke seluruh tubuh. Sedangkan apabila dikubur, akan mencemeri kualitas tanah yang diakibatkan oleh air lindi (air sampah yang bau) akan langsung mencemari kualitas air tanah yang akan berakibat pada menurunnya kadar oksigen terlarut dalam air sehingga tidak layak dipergunakan manusia dan dapat membunuh binatang air.

Dari kejadian tersebut, menjadi dorongan untuk menciptakan suatu inovasi pengolahan sampah menjadi barang berguna. Program yang diajukan adalah pelatihan pembuatan Ecobrick. Demonstrasi dilakukan dengan sasaran komunitas yang sering mengadakan perkumpulan rutin yaitu Ibu-Ibu Jamiyah, PKK, dan Kader Posyandu. Kegiatan demonstrasi bersama PKK dan Kader Posyandu dilakukan di ruko BUMDes Batunyana pada hari Rabu (10/08/2022). Sedangkan kegiatan demonstrasi bersama Ibu-Ibu Jamiyah dilakukan pada hari Kamis (11/08/2022).

Ecobrick sendiri merupakan bata ramah lingkungan yang dapat digunakan sebagai pondasi bangunan maupun perabotan rumah tangga. Ecobrick dapat menjadi salah satu cara paling efektif dalam penanganan sampah plastik di Desa Batunyana. Pembuatan ecobrick merupakan hal yang paling mudah dilakukan oleh warga Desa Batunyana terutama ibu rumah tangga yang lebih banyak memiliki waktu luang. Bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan Ecobrivk hanya terdiri dari 3 bahan saja, yaitu botol plastik bekas, sampah plastik, dan alat untuk memadatkan (bisa berupa kayu). Demonstrasi dilakukan secara singkat karena baik dari ibu-ibu Jamiyah, PKK, dan Kader Posyandu cepat memahami proses pembuatannya.

Selain dari manfaat fungsionalnya, Ecobrick juga memiliki manfaat dari sisi ekonomi. Ibu-ibu begitu antusias saat mendengarkan bahwa Ecobrick bisa dijual melalui e-commerce seperti Shopee dan Tokopedia maupun melalui jejaring sosial Facebook dengan harga perbotolnya Rp8.000 – Rp15.000. Selain itu juga ecobrick dapat dijadikan obyek wisata Desa Batunyana untuk meningkatkan ekonomi warga.

Dapat diharapkan nantinya dari ketiga komunitas tersebut dapat menyebarluaskan produksi ecobrick sehingga dapat terkumpul lebih banyak lagi agar nantinya dapat dijadikan suatu obyek wisata yang terletak di hutan pinus samping blok Andongsili sehingga bisa meningkatkan ekonomi warga Desa Batunyana.

Penulis: Ika Nur Hikmah, Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik
Dosen Pembimbing Lapangan: Solikhin, S.Si., M.Sc.