Wujudkan Lingkungan Kerja yang “ENASE”, Mahasiswa KKN Undip Kenalkan Budaya 5R di Usaha Kerajinan Akar Kayu

Ringinanom, Tempuran (21/07/2022) — Kegiatan Mahasiswa KKN TIM II UNDIP kelompok 44 Desa Ringinanom memiliki 22 program yang terdiri dari 2 program multidisplin serta 20 program monodisiplin. Salah satu program monodisiplin yang telah dilakukan pada minggu ketiga ialah “Edukasi Pentingnya Lingkungan Kerja yang Baik serta Budaya Kerja 5S” yang dilaksanakan oleh Anisa Dwi Yanti. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk dari pengabdian kepada masyarakat untuk peningkatan produktivitas usaha rumahan agar tercipta lingkungan kerja yang ENASE (Efektif, Nyaman, Aman, Sehat, dan Efisien). Program tersebut dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 21 Juli 2022 dimulai pukul 10.00 WIB – selesai, di rumah Bapak Turmudi pemilik usaha kerajinan akar kayu yang terkenal dengan nama NAURA MEBEL. Lokasinya berada di Dusun Kiringan, Desa Ringinanom, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang.

Gambar-1-Bahan-Kerajinan-Akar-Kayu
Gambar 1. Bahan Kerajinan Akar Kayu

Sebelum melakukan sosialiasi kepada pelaku usaha, mahasiswa melakukan observasi di lingkungan kerja dan melihat pekerja dalam melakukan aktivitas kerjanya. Dapat disimpulkan bahwa lingkungan kerja yang ada masih kurang tertata. Lingkungan kerja kerajinan akar kayu juga berdampingan dengan pembuatan kursi lincak dari bambu yang diproduksi sendiri oleh orang tua Bapak Turmudi. Selain membuat kerajinan akar kayu, Bapak Tumudi juga mempunyai usaha mebel yang bisa menerima pesanan dalam jumlah yang banyak.

gambar-2
Gambar 2. Observasi Lingkungan Kerja

Gambar-3-Produksi-Kursi-Lincak-dari-Bambu
Gambar 3. Produksi Kursi Lincak dari Bambu

Budaya 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke) atau yang sering dikenal dengan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin) adalah suatu metode penataan dan pemeliharaan wilayah kerja secara intensif yang berasal dari Jepang. Metode ini digunakan oleh perusahaan dalam usaha memelihara ketertiban, efisiensi, dan disiplin di lingkungan kerja sekaligus meningkatkan produktivitas secara menyeluruh (dinkesjatengprov.go.id).

Gambar-4-Kegiatan-Sosialisasi
Gambar 4. Kegiatan Sosialisasi

Bentuk dari kegiatan ini yaitu sosialiasi tentang lingkungan kerja yang baik kemudian dilanjutkan dengan pengenalan metode 5S (lebih dikenal 5R di Indonesia) yang diadopsi dari Jepang dan mayoritas perusahaan/industri manufaktur di Indonesia telah menerapkannya. Metode ini diterapkan agar lingkungan kerja tetap teratur hingga menjadi sebuah kebiasaan. Mahasiswa juga memberikan informasi mengenai pentingnya penggunaan APD (Alat Pelindung Diri). APD merupakan kelengkapan yang wajib digunakan saat bekerja sesuai bahaya dan resiko kerja untuk menjaga keselamatan pekerjaan dan orang di sekelilingnya.
Program sosialisasi ini mendapat respon positif dari pemilik usaha, metode kerja 5R dapat menambah pengetahuan bagi para pekerja dan diharapkan dapat menjadi budaya kerja yang baik. Pemberian poster juga dilakukan agar informasi yang disampaikan dapat selalu diingat oleh para pekerja. Selain itu, mahasiswa juga memberikan beberapa contoh APD yang harus digunakan dalam melakukan aktivitas kerja. Mengingat kondisi lingkungan kerja dan alat yang digunakan memiliki resiko bahaya dan resiko kecelakaan kerja.
Dengan demikian, penerapan budaya kerja 5R di lingkungan kerja usaha kerajinan akar kayu dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih efektif. Pekerja menjadi lebih nyaman dalam bekerja, penggunaan APD yang aman agar terhindar dari kecelakaan kerja, sehat karena pekerjaan tidak berbahaya dan sesuai bidangnya, dan efisien karena pemborosan waktu dapat dikurangi.

Gambar-5-Dokumentasi-bersama-Pemilik-Usaha-Kerajinan-Akar-Kayu
Gambar 5. Dokumentasi Bersama Pemilik Usaha Kerajinan Akar Kayu

Oleh : Anisa Dwi Yanti – Teknik Industri 2019
Dosen Pembimbing : Muhyidin, S.Ag., M.Ag., MH.
Desa Ringinanom, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah