Pendampingan Pengembangan Desa Wisata Purwokerto sebagai Aset untuk Meningkatkan Pendapatan Masyarakat dan Dana Desa

Pati, Pembangunan berkelanjutan (Sustaniable Development) telah menjadi agenda global dalam setiap proses pembangunan. Oleh karenanya, seluruh pemangku kepentingan termasuk pemerintah dalam berbagai sektor pembangunan harus menerapkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dalam setiap kebijakan maupun rencana pembangunan yang akan dilaksanakan. Penerapan konsep pembangunan berkelanjutan di sektor pariwisata dikenal dengan konsep pembangunan pariwisata berkelanjutan (Sustaniable tourism Development), yang pada intinya mengandung pengertian pembangunan pariwisata yang tanggap terhadap minat wisatawan dan keterlibatan langsung dari masyarakat setempat dengan tetap menekankan upaya perlindungan dan pengelolaannya yang berorientasi jangka panjang. Upaya pengembangan dan pengelolaan sumber daya yang dilakukan harus diarahkan agar dapat memenuhi aspek ekonomi, sosial dan estetika. sekaligus dapat menjaga keutuhan dan atau kelestarian ekologi, keanekaragaman hayati, budaya serta sistem kehidupan. (WTO,1990).

Sehubungan dengan prinsip pengembangan Desa Wisata, beberapa hal yang penting untuk diperhatikan adalah aspek produk, Sumberdaya Manusia (SDM) Manajemen dan Kelembagaan, Promosi dan Pemasaran serta investasi.

Produk Wisata

Aspek produk wisata, pengembangan Desa Wisata harus menekankan prinsip-prinsip pengembangan produk sebagai berikut :

  1. Keaslian (Authenticity) ; Pola perjalanan wisata alternatif membawa wisatawan mencari pengalaman yang terkait dengan “Authenticity expereince” atau pengalaman yang asli atau otentik. Pengalaman yang otentik ini didapatkan dari warisan budaya yang dijaga dan dilestarikan secara turun menurun oleh suatu masyarakat di suatu destinasi. Dalam hal pengembangan Desa Wisata, yang termasuk dalam hal-hal yang sifatnya otentik daiantaranya adalah menjaga tradisi kelokalan, sikap atau kegiatan sehari-hari, nilai-nilai budaya serta fitur alam yang unik dari suatu desa.
  2. Tradisi Masyarakat Setempat (Local Tradition)Desa Wisata menyiratkan makna tradisi masyarakat setempat yang kuat. Tradisi merupakan sesuatu yang berakar dan melekat dengan kehidupan masyarakat di suatu daerah yang menjadi ciri atau karakter budaya yang dipelihara dari waktu ke waktu. Tradisi harus tetap dijaga dan dilestarikan karena selain untuk menjaga identitas dari suatu masyarakat, tradisi yang kuat juga akan menjadi perhatian dan daya tarik sendiri bagi wisatawan. Dalam hal in Desa Wisata, tradisi masyarakat ini dapat berupa suatu kearifan lokal (Local Wisdom), adat istiadat, kesenian musik maupun seni tari, pakaian adat serta makanan khas dari suatu Desa Wisata.
  3. Sikap dan Nilai (Attitudes and Values), Sikap dan nilai suatu kebudayaan perlu ditunjang tinggi terutama oleh masyarakat setempat untuk menghindari degradasi nilai akibat pengaruh buruk yang dapat ditimbulkan dari kunjungan wisatawan. Apabila wisatawan menghargai sikap dan nilai warisan budaya serta pola kehidupan suatu masyarakat, maka masyarakat tersebut akan memiliki rasa kebanggaan tersendiri terhadap warisan budayanya, dimana hal ini akan membuat masyarakat menjaga, mempertahankan, dan melestarikan warisan budaya mereka. Desa Wisata yang memiliki masyarakat dengan sikap dan nilai-nilai yang baik akan membuat citra yang baik pula bagi Desa Wisata tersebut. Sikap dan nilai yang baik dapat ditunjukan dengan perilaku yang baik, ramah terhadap wisatawan, dan tegas terhadap aturan-aturan yang dipegang.
  4. Konservasi dan daya dukung (Conservation dan Carrying Capacity), Pengembangan Desa Wisata harus menerapkan prinsip-prinsip pelestarian serta dalam hal pemampaatnya agar tidak melampaui daya dukung lingkungan. Hal ini penting agar dengan berjalannya pembangunan pariwisata, kapasitas maksimum daya dukung (Carrying Capacity) dari suatu destinasi dalam menyokong kebutuhan berbagai pemamfaatan tidak akan merusak alam, budaya maupun lingkungan. Dalam pengelolaan Desa Wisata, upaya konservasi dapat dilakukan dalam pengaturan pola kunjungan, zonasi kawasan serta penetapan daya dukung fisik (lingkungan) dan non fisik (budaya dan masyarakat)

Desa purwokerto kecamatan Tayu kabupaten Pati merupakan salah satu desa yang digunakan oleh universitas diponegoro sebagai lokasi pengabdian masyarakat pada tahun 2017. Alasan pemilihan lokasi ini karena di desa purwokerto karena desa ini memiliki keunikan di bidang budaya. salah satu budaya yang dikembangkan adalah sedekah bumi. Melalui perayaan Sedekah Bumi, Desa Purwokerto mengajak seluruh warganya untuk menikmati indahnya Keberagaman Budaya Indonesia. Keberagaman Budaya ini diwujudkan dalam berbagai rangkaian acara yang diadakan. Acara rutin yang diadakan setiap tahunnya membawa Desa Purwokerto, menjadi Desa yang terkenal dengan nilai kebersamaan. Perayaan Sedekah Bumi ini dilaksanakan sebagai wujud ucapan syukur atas hasil Bumi yang telah didapatkan selama setahun dan berdoa untuk satu tahun kedepan, agar Desa Purwokerto penuh dengan rejeki. Pada kegiatan pengabdian masyarakat ini tim pengabdian membuat desain acara sedekah bumi menjadi acara ritual tahunan yang dibukus dengan pariwisata budaya. Masyarakat sangat senang akan adanya kegiatan pengabdian masyarakat ini dan berharap pihak universitas diponegoro dapat membuat program secara berkekanjutan di waktu kedepan.